LOMBOK TIMUR – Data tahun 2019 lalu, angka stunting di Kabupaten Lombok Timur mencapai 26,11 persen. Namun, per tanggal 15/7 ini mengalami penurunan secara drastis menjadi 19, 36 persen.

Bupati Lombok Timur HM. Sukiman Azmy menyebutkan, dalam 2 tahun terakhir angka stunting mengalami penurunan secara signifikan.

Google search engine

Selama dua tahun berturut-turut pula kata Sukiman Azmy, Lotim menjadi kabupaten paling replikatif dalam usaha penanggulangan stunting di NTB.

Menjadi pembicara pada webinar yang diselenggarakan Seameo Recfon. Jum’at, (30/7), Bupati Lotim kembali menegaskan, komitmen Pemda Lotim dapat dilihat dari sejumlah regulasi untuk mendukung penurunan angka stunting.

Didampingi Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) dan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB), H. Ahmat, SKM, Bupati Lotim menekankan pentingnya komitmen pemerintah dalam upaya penurunan angka stunting, menjadikan penurunan stunting sebagai salah satu fokus dan prioritas pembangunan.

Ia juga meyebutkan sejumlah regulasi diantaranya terkait pengalokasian 20 persen Dana Desa (DD) untuk pencegahan dan penanggulangan stunting serta pendewasaan usia kawin.

Tak hanya itu, pengalokasian dana desa juga untuk mengembangkan kerja sama dengan berbagai elemen dalam upaya menurunkan prevalensi stunting.

“Kerja sama tersebut termasuk pula melibatkan institusi pendidikan seperti perguruan tinggi. Elemen lain seperti PKK juga terlibat melalui program Cegah anak Stunting bersama Masyarakat (Canting Mas),” kata Sukiman, sembari mengatakan, upaya ini juga didukung terkonversinya seluruh posyandu konvesional menjadi posyandu keluarga.

Mengingat korelasi antara stunting dan konsumsi rokok atau tembakau, utamanya 1000 hari pertama kehidupan, Sukiman menyampaikan Pemda Lotim telah memiliki Perda No. 10 tahun 2015 tentang kawasan tanpa rokok.

Perda tersebut kata dia, bahkan memilki sanksi dalam bentuk denda dengan besaran maksimal Rp. 50 juta.

BACA JUGA  Vaksin Moderna Sasar Warga Lotim

“Saya katakan pada musim tanam ini, Pemda mendorong petani yang tidak bermitra untuk beralih menanam komoditas selain tembakau,” ucapnya.

Pada webinar tersebut, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo juga menyampaikan sejumlah hal yang penting dilakukan dalam upaya menurunkan kasus stunting.

Disebutkannya, melalui pengendalian konsumsi rokok, termasuk di masa pandemi. Bahkan sejumlah kelas dalam masyarakat tidak menurunkan konsumsi rokok mereka meskipun kondisi ekonomi mereka cukup sulit.

“Saya ingatkan bahwa berbagai faktor risiko yang ditimbulkan rokok, baik bagi perokok aktif maupun pasif,” pungkasnya.(wr-sid)

Artikulli paraprak255 TPQ di Lotim Akan Terima Bantuan dari Baznas
Artikulli tjetërBaznas Lotim Santuni Salamullah Bayi Penderita Tumor Otak

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini