LOMBOK TIMUR – Pernikahan usia anak masih menjadi masalah besar di Indonesia. Padahal dalam Undang-Undang nomor 16 tahun 2019, usia pernikahan sudah diatur, yakni usia 19 tahun. Namun, masih banyak sekali ditemukan anak-anak yang menikah dibawah usia tersebut.

Tingginya kasus pernikahan usia anak tersebut tak luput perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lotim. Mengingat pernikahan usia anak dapat berisiko meningkatkan kasus stunting pada bayi baru lahir, angka kematian, angka kemiskinan dan putus sekolah.

Google search engine

Terkait dengan hal tersebut, Pemkab Lotim menggelar rapat koordinasi pencegahan pernikahan usia anak dalam upaya penurunan stunting dan sukses wajib belajar 12 Tahun.

Bupati Lotim, Drs. HM Sukiman Azmy dalam sambutannya pada acara tersebut menyebutkan, ia begitu miris melihat kondisi yang saat ini.

Ia menilai banyak pihak kurang menunjukkan kepeduliannya terhadap pencegahan pernikahan usia anak.

“Semua acuh tak acuh untuk terlibat langsung terhadap pencegahan pernikahan usia dini,” ungkap Sukiman. Kamis, (26/8).

Oleh karenanya, Sukiman meminta agar meningkatkan konsolidasi dan koordinasi. Hal tersebut disampaikan terkait target perkawinan usia anak dan stunting nol (Pasno) tahun 2023 mendatang.

Ia juga mengingatkan pentingnya konsultasi untuk susksesnya Pasno tersebut dan memberikan apresiasi kepada sinergi dan kolaborasi semua pihak, termasuk melalui kegiatan rapat koordinasi yang dilakukan tersebut.

“Apa yang kita laksanakan pada hari ini merupakan lompatan yang kesekian. Bagaimana ikhtiar agar semua berkolaborasi, bersinergi, untuk melaksanakan hal-hal nyata,” kata Sukiman sembari mengharapkan langkah ini diharapkan mengukuhkan kerjasama agar memperoleh hasil yang prima dan lebih baik.

Ditempat yang sama, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (P3AKB) Lotim, H. Ahmat, SKM menyebutkan, saat ini Nusa Tenggara Barat (NTB) berada di rangking ke-7 dari 34 provinsi terkait angka pernikahan anak.

BACA JUGA  Ustadz Rifki Farabi Majdi : Pemuda Islam Harus Punya State of Mind Dalam Membaca Situasi kekinian

“Pernikahan anak di Lotim juga angkanya mengalami peningkatan,” katanya.

Karenanya, ia berharap semua komponen dapat ikut bergerak mewujudkan perkawinan anak dan stunting nol (Pasno) tahun 2023.

“Saya juga berharapkan adanya Peraturan Desa (Perdes) pencegahan stunting,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut dilakukan pula penandatangan perjanjian kerjasama Bupati Lotim dan ketua Pengadilan Agama (PA) Selong, Lotim tentang perlindungan hukum terhadap anak. (wr-sid)

Artikulli paraprakEksekutif – Legislatif Sepakati Perubahan KUA – PPAS APBD 2021 Lotim
Artikulli tjetërGadaikan Mobil, Dua IRT Ditangkap

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini