LOMBOK TIMUR – Penangkapan YS, petugas honorer Puskesmas Labuhan Lombok, Lombok Timur, Jum’at (27/8) lalu memunculkan spekulasi baru.

Kepala Puskesmas (Kapus) Labuhan Lombok, Lombok Timur (Lotim), Muhdar disebut-sebut terlibat dalam pusaran penerbitan sertifikat vaksin palsu itu.
Namun, Muhdar saat ditemui wartawan malah menepis anggapan bahwa dirinya terlibat.

Google search engine

“Tidak ada keterlibatan saya dalam tindakan tak terpuji yang dilakukan oleh YS, salah seorang Tenaga Kesehatan (Nakes) yang terlibat membuat sertifikat vaksin itu,” aku Muhdar.

Ia mengaku benar-benar tidak mengetahui itu YS, membuat sertifikat vaksin palsu itu setelah adanya tim dari Polda Bali yang mencari YS ke puskesmas, Jum’at lalu.

Setelah tim Polda Bali dan YS berhadapan kata dia, YS langsung ditanya terkait maslah ini dan mengakui bahwa sertifat vaksin palsu tersebut dibuatnya sendiri.

“Menurut pengakauan YS di depan tim Polda Bali, dia (YS, Red) mengaku dia membuatnya di luar puskesmas, tepatnya di tempat percetakan. Saya bersyukur dia tidak menggunakan fasilitas di puskesmas,” cerita Muhdar.

Ia kembali menegaskan bahwa dirinya tidak mengetahui tindakan tak terpuji yang dilakukan YS.

“Kita melihatnya normatif saja,” katanya singkat.

Bahkan untuk entri data atau code kata dia, tidak boleh ada yang mengetahui, terkecuali tim yang bertugas khusus pada entri data.

“Hanya itu ( bagian entri data, Red) yang tahu, staf yang lain tidak ada yang tahu. Ini betul-betul dirahasiakan,” sebutnya.

Adapun sertifikat vaksin palsu yang dibawa tim Polda Bali tersebut kata dia, memang ada yang menunjukkan keanehan. Setelah pihaknya melakukan pengecekan dengan sistem yang ada di puskesmas. Ternyata identitas yang tertulis di sertifikat vaksin palsu tersebut tidak ada dalam data puskesmas.

BACA JUGA  Tanpa Cukai, Rokok Ilegal di Lotim Disita

“Kita berkesimpulan bahwa sertifikat vaksin itu palsu. Dia (identitas yang tertulis di sertifikat palsu, Red) tidak kita layani disini. Ternyata kartu yang didapat itu kartunya orang yang di edit dan diganti namanya,” katanya.

Dari keterangan yang ada di surat vaksin palsu tersebut, dibuatnya sertifikat vaksin palsu pada tanggal 6 Juni 2021 lalu.

“Pada saat itu, di puskesmas sendiri tidak ada pelayanan vaksinasi,” tutupnya. (wr-sid)

Artikulli paraprakKades Terpilih Dilantik, Sukiman Berharap Desa Semakin Maju
Artikulli tjetërTiga Hari Menghilang, Bocah 8 Tahun Ditemukan Meninggal Dunia di Kolam Bendungan 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini