LOMBOK TIMUR – Anjloknya harga telur lokal di sejumlah pasar di Lombok Timur (Lotim) membuat para peternak ayam petelur menjerit. Untuk menstabilkan harga, sejumlah peternak ayam petelur yang tergabung dalam Aliansi peternak ayam petelur Berayan Al-Kautsar Lotim menyambangi gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lotim. Mereka meminta pihak terkait untuk menyikapi kondisi yang terjadi dengan melakukan hearing bersama stakeholder terkait.

Lalu Sapoan, selaku Ketua Asosiasi Peternak Ayam Petelur Berayan Al-Kautsar Lotim mengungkapkan, penyebab turunnya harga telur lokal di sejumlah pasar karena banyaknya telur luar daerah yang masuk ke Lotim, seperti telur Jawa dan Bali.

Google search engine

Dijelaskannya, sebelum harga telur di sejumlah pasar turun, harga telur lokal berkisar pada harga Rp. 38.000 – 40.000 per trai. Sedangkan harga telur lokal saat ini serharga Rp. 31.000 – 35.000 per trai.

“Kemarin sebelum turun, harga telur lokal ini bisa sampai Rp. 42.000, tapi sekarang harganya Rp 31.000 paling tinggi,” terangnya pada wartawan saat ditemui di kantor DPRD Lotim, Juma’t, (08/10).

Masih kata Sapoan, permasalahan tidak hanya soal harga, melainkan juga dengan masuknya telur dari luar daerah yang membuat telur lokal tidak bisa terserap di pasaran.

“Dampak dari banyaknya pasokan telur luar daerah itu, tidak sedikit para peternak yang gulung tikar dikarenakan telurnya tidak bisa terserap oleh pasar,” ungkapnya.

Ia berharap kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lotim khususnya dinas terkait untuk melihat kondisi di lapangan, bahkan meyetop telur yang dari luar masuk ke NTB khususnya Lotim.

“Kalau persolan harga itu sudah wajar karena itu hukum pasar kadang naik kadang turun, tapi permasalahanya telur ini tidak bisa terserap, jika memang tidak bisa disetop kami akan lakukan pencegatan lagi, tidak lagi di Lotim tapi kami akan cegat di pelabuhan langsung,” katanya.

BACA JUGA  Kota Mataram Raih Penghargaan Kemenkes 2021

Hj. Masnan, selaku Kepala Dinas Perdagangan Lotim, menyebutkan bahwa setelah dilakukan sweeping oleh peternak beberapa bulan lalu, pihaknya langsung turun mengecek harga telur di sejumlah pasaran di Lotim.

“Sehari setelah sweeping itu kami langsung turun mengecek ke lapangan, tapi turunnya harga telur tidak terlalu anjlok, hanya mengalami penurunan sekitar 6 persen. Harganya Rp. 36.000-38.000 per trai,” katanya.

Penyebab anjloknya harga telur lokal dijelaskan Masnan, dikarenakan kualitas telur lokal yang ukurannya lebih kecil dibandingkan telur dari luar daerah.

“Itu dia, sehingga masyarakat lebih memilih membeli telur dari luar karena ukurannya yang lebih besar,” ucapnya.

Adapun penyebab dari kurang bagusnya kualitas telur lokal kata dia, cara perawatan ayam yang kurang baik, seperti pemberian pakan, pola pemberian pakan dan sebagainya.

Terkait dengan itu, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan peternakan dan dinas terkait untuk mendongkrak peternak di Lotim.

Diakui Masnan, banyaknya pasokan telur luar daerah yang merajai pasar di Lotim. Pihaknya pun tidak bisa menghentikan telur yang masuk dari luar. Namun hanya bisa melakukan pembatasan saja. Karena semua itu sudah diatur dalam Perda Provinsi No. 4 tahun 2020.

“Kami tidak bisa menghentikan produk dari luar daerah, sebab itu sudah diatur dalam Perda provinsi,” ujarnya. (WR-sid)

Artikulli paraprakWagub NTB Ajak Semua Pihak Dukung Penyelenggaraan Pemilihan Puteri Indonesia Daerah NTB 2021
Artikulli tjetërPemprov NTB Raih BKN Award 2021

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini