Oleh: Lukmanul Hakim, M.Pd.

Dosen Universitas Teknologi Sumbawa

Google search engine

Sejarah Panjang pergolakan perjuangan kemerdekaan setiap bangsa tak dapat dilepaskan dari rangkaian peristiwa panjang yang menyertainya. Ideologi, penjarahan, peperangan, pertarungan politik, dan beragam kepentingan lainnya menjadi bagian yang ‘membumbui’ ruang dan waktu satu bangsa. Ruang dan waktu adalah ekskalasi dari beragam kepentingan yang pada wujud menjadi satu peristiwa penting untuk dikenang dan dijadikan sebagai momentum kebangkitan. Momentum yang menyatukan. Demikian halnya dengan tanggal “28 Oktober” sebagai satu momentum di mana ide dan gagasan diperdebatkan untuk menemukan titik temu (kesepakatan). Dalam tanggal dan bulan tersebut dua peristiwa penting ini di. “Patung Liberty” diresmikan tanggal 28 Oktober 1886 di Amerika Serikat dan momentum “Sumpah Pemuda” di Indonesia tanggal 28 Oktober 1928 diikrarkan.

Patung Liberty (bhs Inggris: Liberty Enlightening the World) adalah patung raksasa yang dihadiahkan untuk persahabatan dan kekerabatan orang-orang Prancis yang sampai di pelabuhan New York di akhir abad ke-19. Simbol selamat datang untuk pengunjung, imigran dan orang Amerika yang baru kembali. Menjadi lambang kemerdekaan dan kebebasan dari tekanan  (https://id.wikipedia.org/, 26/10/2021).
Patung dengan figura wanita berjubah dengan lengan terangkat sambil memegang obor dibuat oleh pematung ternama Frederic-Auguste Bartholdi dan dibantu oleh Gustave Eiffel (desainer Menara Eiffel) untuk tujuan memperingati Revolusi Amerika dan mengenang satu abad persabatan Amerika Serikat dengan Perancis. Dengan ciri khas yang melekat pada bangunannya, tempat itu kini menjadi ruang publik – tempat terkenal di mana berbagai kegiatan unjuk rasa diselenggarakan, berkumpulnya para aktivis dalam menyampaikan pendapat, protes politik dari hak pilih hingga demonstrasi anti-perang (https://www.kompas.com/, 17/06/2021).

Selain momentum persahabatan dua negara (Amerika dan Prancis) melalui keberadaan patung Liberty, di Indonesia momentum “Sumpah Pemuda” menjadi tonggak sejarah perkumpulan pelajar dan mahasiswa Indonesia. Lahirnya sumpah pemuda tidak lepas dari peran para pemuda yang terhimpun dalam Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) yang telah melahirkan kongres II. Dari kongres yang berlangsung tanggal 27–28 Oktober 1928 inilah menjadi cikal bakal naskah sumpah pemuda yang setiap tahun kita peringati.

BACA JUGA  Sekda Berharap Pejabat Baru Optimal Menuntaskan Program yang Tersendat

Momentum Sumpah Pemuda tahun 1928 adalah wujud kesepakatan tentang entitas masyarakat Indonesia dalam tiga dasar tujuan utama: semangat tentang “tanah air, bangsa, dan bahasa”. Tiga poin penting ini menjadi asas yang wajib dipakai oleh semua perkumpulan-perkumpulan yang ada sebagai perwujudan dari semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Tiga keputusan itu juga didasarkan pada nilai dan dasar keyakinan tentang ‘persatuan, kemajuan, sejarah, bahasa, hukum adat, dan pendidikan’ sebagai bagian yang tak terpisahkan dari semangat untuk mempersatukan dan menyatukan elemen-elemen bangsa.

Istilah ‘persatuan’ merupakan satu kata yang bermakna utuh, tidak terpecah-belah. Artinya, suatu perkumpulan dari berbagai komponen penting menjadi satu. Sedangkan ‘kesatuan’ adalah buah dari persatuan atau hasil yang telah menyatu. Karenanya, kesatuan memiliki hubungan yang erat dengan ‘keutuhan’. Dalam konteks sumpah pemuda atau semangat dari liberty mengandung arti bersatunya beragam kepentingan individu dan kelompok menjadi satu kesepakatan bersama yang dijadikan sebagai marwah – “kehormatan” atas tujuan-tujuan besar.

Pada momentum sumpah pemuda, persatuan dan kesatuan tumbuh dan berkembang dari kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia. Bersifat kekeluargaan dan gotong royong–“kerjasama”. Tidak terikat pada ideologi dan agama.
Dalam upaya menumbuhkan persatuan dan kesatuan, diperlukan sikap “kedewasaan” setiap individu dan kelompok. Perlunya sikap cinta tanah air dan toleransi. Sikap tersebut sebagai perwujudan rasa kasih sayang yang akan melahirkan perasaan cinta terhadap tanah kelahiran. Rasa bangga, rasa memiliki, menghormati dan menghargai, serta loyalitas pada kepentingan bangsa dan negara.

Semua wujud dari sikap-sikap di atas adalah terimplementasikan dalam perilaku semangat membela tanah air, menjaga dan melindungi, rela berkorban untuk kepentingan bangsa, serta mencintai adat istiadat dan budaya yang ada dalam bentuk yang paling nyata yaitu melestarikan alam dan lingkungan tempat di mana kita berada.

BACA JUGA  Ketua SMSI dan Bupati Sergai Arungi Nikmati Arung Jeram Bersama di Sungai Bah Bolon

Bangsa Indonesia melalui momentum penting sumpah pemuda beriktikad untuk mengesampingkan primordialitas, mengedepankan semangat kebersamaan dan cita-cita besar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Cita-cita tentang kemerdekaan tersebut termuat dalam dasar negara Indonesia sebagaimana dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 berbunyi “Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”.

Dua peristiwa penting di tanggal “20 Oktober” tersebut adalah momentum “sejarah Panjang” untuk menyatukan yang bertikai, bersebarangan, dan yang berbeda pandangan untuk bertemu pada semangat “kolaborasi”, menjunjung tinggi persatuan, dan mengesampingkan perbedaan yang ada. Kolaborasi adalah semangat melihat sisi lain dari pandangan kita dari orang lain untuk sampai pada titik ‘kesepakatan’.

Pada akhirnya, selamat memperingati hari ‘Sumpah Pemuda yang ke-93’. Semoga momentum persatuan itu tumbuh dan terawat di segenap masyarakat Indonesia. ‘Tak pernah lelah, tak terhenti pada senja, hingga menyatu dalam Indonesia’. Sepenggal kata dari presiden pertama Indonesia, Soekarno menjadi pengingat kita dalam mengisi hari-hari untuk Indonesia tumbuh dan maju dalam bingkai persatuan dan kesatuan “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.

Artikulli paraprak2023, Pemkab Lotim Targetkan IPM Berada Urutan Ketujuh
Artikulli tjetërKPID NTB Minta LPPL Selaparang TV Beralih ke Digital

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini