LOMBOK TIMUR – Bejango nyiur atau membayar nazar merupakan acara puncak dari Festival ‘Bejango Bliq’ yang digelar Desa Songak Kecamatan Sakra, Lombok Timur (Lotim).

Sehari sebelum melakukan Bejango Nyiur, warga setempat terlebih dahulu melakukan Bejango Buwaraq, yang artinya memberitahukan kepada leluhur bahwa besok akan datang ketempat petilasan.

Google search engine

Pelaksanaan Bejango Nyiur pun tidak jauh beda dengan pelaksanaan bejango buwaraq. Sebelum menuju petilasan warga setempat lebih dahulu melalui masjid. Hal itu dilakukan karena memegang teguh pesan dari sang leluhur setempat.

Ketua Panitia Bejango Bliq, Rofil Khairudin menjelaskan, kegiatan itu terlaksana tiga bulan lamanya, yakni mulai bulan Muharam, Safar, hingga Rabiul awal sebagai puncak kegiatan.

Dalam tiga bulan itu warga setempat setidaknya menggelar beberapa ritual adat, seperti Bubur Beaq pada bulan Muharam, Bubur Putiq pada safar, dan maulid adat jarig minyak Songak serta terakhir bejango.

“Warga Songak memiliki prinsip Lempot Pumbak, itu sebagai prinsip keilmuan,” ujarnya, Kamis (4/11).

Sementara, Ketua Lembaga Adat Darma Jagat Songak, Mastur Sonsak menjelaskan bahwa munculnya tradisi bejango bliq berawal dari pesan leluhur dan sudah secara turun temurun diyakini oleh warga setempat.

Ritual bejango bliq sendiri di mulai dari masjid dengan membawa sesangan, karena sanganan sendiri sebagai rukun dari prosesi itu. Di lokasi yang sama, warga memanjatkan do’a selamat kepada sang khaliq sebagai penguasa atas segalanya.

Dalam acara itu, ia menyinggung terkait dengan pemberian Surat Keputusan (SK) kepada Desa Songak sebagai desa wisata.
Namun, diakuinya bahwa belum melihat langkah pemerintah setempat menyambut hal itu. Lantaran itu, ia meminta kepada dinas terkait untuk mendamping Pemdes di wilayah itu.

“Ini bukan hanya atraksi wisata, tapi bagaimana mempertahankan warisan leluhur agar dikenal kegenerasi selanjutnya,” ucapnya

BACA JUGA  Pemerintah Daerah Sambut Baik Kehadiran KIHT di Lombok Timur

Ditempat yang sama, Sekretaris Daerah (Sekda) Lotim, Drs. HM Juaini Taofik, M. Ap mengatakan, setiap kehidupan pasti menemukan masalah. Hal itu dikatakan sesuai dengan tema yang diangkat dalam festival bejango bliq ‘Aig Meneng Tunjung Tilah Empaq Wau’.

“Aig Meneng Tunjung Tilah Empaq Wau, setiap kehidupan itu pasti memiliki masalah,” katanya.

Sesenggak suku sasak ini masih relevan dengan keadaan saat ini. Banyak cara menghadapi masalah tergantung individu. Dikatakannya juga bahwa ungkapan suku sasak itu telah dipraktikan oleh Rosulullah.

“Bagaimana nabi menyelesaikan konflik antara kaumnya pada waktu itu. Kata ini bisa menjadi legasi berkehidupan,” ujarnya

Menjawab singgungan dari ketua Lembaga Adat Darma Jagat Songak, ia menyuruh warga setempat untuk belajar dari desa wisata yang sukses dengan destinasinya.

“Banyak mendatangkan manfaat seperti lapangan kerja baru, dan banyak pendatang yang akan membawa duit,” katanya.

Desa wisata Seruni Mumbul sebutnya, membangun wisata pada tahun 2018 yang lalu dan hanya memnafaatkan menanga dan membuat ikon menara eiffel.

“Itu menggunakan Anggaran Dana Desa (ADD) sekitar Rp 600 juta. Sekarang keberadaannya wisata di desa itu memberikan efek domino bagi desa itu,” sebutnya.

Dipaparkan, untuk membangun desa itu melalui strategi yang disebutnya tiga A, yakni aksesibiliti, amenitas dan atraksi.

“Tapi tetap prinsipnya menggunakan Aig Meneng Tunjung Tilah Empaq Wau,” tutup Taufik. (WR-sid)

Artikulli paraprakMenteri PPPA Berharap Korban Perkosaan Anak Disabilitas Diusut Tuntas
Artikulli tjetërMenteri PPPA : Anak Wajib Dapat Perlindungan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini