Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya pulau Lombok kawasan Sirkuit Mandalika akan menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan ajang balap dunia World Superbike tanggal 19–21 November 2021 dan pembukaan MotoGP tahun 2022. Upaya untuk menyukseskan terus dilakukan, baik pemerintah pusat atau pun pemerintah daerah. Gubenur NTB menjadi komando dalam merealisasikan apa yang menjadi kebijakan pusat (Presiden) yang turunannya ada diberbagai kementerian dan lembaga.

Sebagai penanggung jawab, Bang Zul, sapaan akrab Sang gubernur dengan ‘siap siaga’ terus memantau perkembangan Sirkuit Mandalika, termasuk apa saja yang menjadi ‘persoalan’ yang dihadapi masyarakat terkait ‘keinginan’ untuk menyaksikan langsung perlombaan World Superbike. Gubernur pun merespon dengan rapat terbatas dengan jajaran pelaksana Tim ITDC dan MGPA hingga keluar harga tiket yang cukup terjangkau untuk masyarakat. Sang Gubernur mampu menangkap “euforia” yang menjadi perbincangan publik arus bawah ‘masyarakat menengah ke bawah’ yang ingin menonton secara langsung di wilayahnya sendiri, yang biasanya perlombaan seperti ini cenderung diganderungi oleh kalangan menengah atas, khususnya pencinta balap motor.

Google search engine

Indonesia sendiri pernah menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan MotoGP 24 tahun silam. Diselenggarakan pertama kali tahun 1996 dan kedua tahun 1997 di Sirkuit Sentul, Bogor Jawa Barat – yang tentunya punya catatan sendiri dengan lintasan sirkuit. Demikiran ungkapan yang disampaikan pembalap seperti Max Biaggi kelas 500 cc dan Valentino Rossi yang saat itu menjuarai balapan kelas GP 125 cc (Pradana, 2020).

Euforia yang hari ini dirasakan oleh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat NTB sebagai tempat pelaksanaan ajang WSBK dan MotoGP menjadi benar-benar ‘istimewa’ yang sebelumunya tidak pernah tergambarkan. Tentu saja ini menjadi kebahagian tersendiri, di sisi lain menjadi ujian kesiapan NTB sebagai tuan rumah dalam mengelola pelaksanaan perlombaan berkelas dunia (internasional).

Keberadaan sirkuit ini menjadi perbicangan yang hangat karena berada di kawasan Mandalika. Sebagaimana diketahui jika kawasan Mandalika ini menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2014 dan telah diresmikan sejak 2017.  Kawasan yang menghadap langsung ke Samudera Hindia dengan luas sekitar 1.035,67 hektar sebagai salah satu destinasi parawisata dan ekonomi kreatif yang sangat potensial. Salah satu fungsi untuk menampung berbagai kegiatan industri, ekspor, impor dan kegiatan ekonomi lainnya, dan tentunya memiliki nilai ekonomi tinggi dan punya daya saing internasional. KEK menjadi instrumen untuk mendorong tumbuhnya perekonomian, di samping menjadi model pengembangan sekaligus meningkatkan lapangan pekerjaan (Asmarani, 2020).

BACA JUGA  Pengurus APIKM Lombok Timur di Lantik

Kawasan Mandalika menjadi Destinasi Parawisata Super Prioritas (DPSP) yang berada di bawah naungan Kementerian Parawisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Kawasan yang berhadapan dengan beberapa pantai, bukit dan gunung akan menjadikan kawasan ini layak menjadi sport tourism ‘wisata olahraga’ unggulan. Hal ini juga menjadi babak baru wisata Indonesia dengan menggabungkan konsep wisata olahraga, keindahan alam, dan keragaman budaya. Dengan lanskap yang indah – bukit menjulang dan bentangan pinggir pantai menjadikan kawasan ini sangat cocok untuk olahraga paralayang (paragliding). Untuk mendukung upaya tersebut, Mandalika sejak satu tahun terakhir telah sukses menyelenggarakan berbagai event kegiatan, diantaranya: TNI Marathon, Paralayang di Pantai Kutai, Motor Cross di area Pantai Segar, Mandalika Offroad Championship, dan Surfing Internasional di Kawasan pantai Seger (https://www.jawapos.com, 8/11/2021).

Untuk mendukung Kawasan Sirkuit Mandalika lebih maju dan terkenal, pemerintah provinsi NTB berdasarkan arahan pusat bekerjasama dengan BUMN Pertamina Tbk. Tak ayal, jika nama sirkut tersebut berubah menjadi “Pertamina Mandalika Internasional Street Cicuit”. Melalui Kerjasama Pertamina, promosi dan berbagai fasilitas lainnya dapat ditunjang, dan tentunya promosi daerah lebih masif yang dapat menumbuhkan prekonomian daerah. Fakta menarik tentang sirkuit Mandalika menjadi lebih lengkap dan menarik dengan ulasan pada laman website resmi Kemenparekraf.

Sejalan dengan upaya menggerakan wisata NTB, khususnya Lombok sebagai destinasi event kelas dunia (WSBK dan MotoGP), NTB selaku tuan rumah terus bekerjasama dengan semua pihak dari jajaran Polda, TNI (Korem Wira Bakti/162), Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) Provinsi NTB, termasuk dengan segenap Bupati/Walikota se-NTB. Hal tersebut menjadi bagian dari cara menujukkan komitmen NTB ‘serius’ dan ‘sungguh-sungguh’ menyukseskan event dunia.

Usaha untuk menggerakan ‘masyarakat’, dan memberikan berbagai pandangan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami – dengan tidak menghilangkan subtansi dari apa yang dikerjakan, Sang gubernur menyampaikannya melalui media sosial. Langkah “terbuka” tersebut dapat dengan jelas kita saksikan melalui akun media sosial facebook yang dikelolanya. Tak heran, berbagai kegiatan Sang gubenur masyarakat dapat secara langsung melihatnya. Sang gubernur juga dengan ‘cermat’ dan ‘teliti’ merespon berbagai pertanyaan atas permasalahan yang dihadapi masyarakat dari yang paling sederhana, masalah di lingkungan pedesaan hingga yang menjadi issu hangat tentang praktik-praktik pembangunan dan pengembangan NTB.

BACA JUGA  Pakar dan Praktisi Hukum Dukung Jaksa Agung Terapkan Keadilan Restoratif dalam Kasus Penyalahgunaan Narkotika

Pada tataran birokrasi, Sang gubernur juga mewajibkan agar semua kepala dinas di lingkup provinsi NTB untuk memiliki akun media sosial dan menggunakannya untuk menjawab berbagai keluhan dan keresahan yang disampaikan masyarakat. Perintah tersebut disertai dengan “ancaman hilang jabatan” bagi yang tidak mentaatinya. Demikian broadchast ‘pesan berantai’ dalam WhatsApp Group lintas OPD. Hal tersebut diiyakan juga oleh Sekretaris Daerah, Lalu Gita Aryadi dalam tulisannya “Bang Zul dan Facebook” yang tertuang dalam kolom opini Suara NTB tanggal 16 Oktober 2021.

Untuk menyambut pergelaran World Superbike berkelas internasional, euforia semakin ‘nyaring’ diberbagai media internasional, nasional, khususnya dalam berbagai beranda media sosial. Media online menjadi tempat yang paling terbuka untuk melihat perkembangan dan lintasan sirkuit Mandalika. Lintasan sirkuit dengan warna yang mencolok dengan warna merah putih, dan hijau menjadi perbincangan.

Sejatinya, warna yang dipakai adalah warna yang telah ditentukan dalam perlombaan, seperti merah putih untuk kerb yang bertujuan untuk memandu pembalab dalam lintasan, sedangkan warna hijau sebagai pembatas trek dan ketentuan lainnya. Sayangnya, euforia tentang sirkuit ini menjadikan netizen ‘pengguna media sosial’ lebih pintar dengan memberikan makna lain warna cat yang digunakan. Misalnya, dengan mengartikan warna cat tersebut adalah motif batik daerah suku Sasak, Lombok. Tentu saja, ungkapan tersebut bukan dalam ranah ‘salah’ dan ‘benar’. Tapi sebagai wujud ekspresi kebahagian karena sirkuit ada di Lombok yang kini menjadi destinasi dunia.

Sirkuit Mandalika menjadi topik yang “hits” dalam dua pekan terakhir dalam pencarian google trends. Misalnya pada tanggal 7 Oktober 2021 sebanyak 386.000 pencarian tentang “Sirkuit Mandalika” dan jumlah tersebut terus bertambah. Keingintahuan masyarakat tentang sirkut ini bukan saja tentang perlombaannya, lebih dari itu tentang image ‘pesan’ bahwa Lombok sebagai destinasi wisata yang selama menjadi kunjungan para wisatawan, selain ke Bali singgah juga ke Lombok. Lombok adalah ‘kembaran’ Bali dalam konteks destinasi wisata, selain berdekatan secara wilayah keduanya sama-sama menampilkan dan menjaga sisi lain dari kearifan lokal yang kental dan menjadi ciri khas kedua daerah tersebut.

BACA JUGA  Koordinasi dan Komunikasi Minimalisir Korban Bencana Yang Lebih Besar

Antusiame masyarakat yang ingin menyaksikan terlihat dalam tren pembicaraan di media sosial facebook. Tidak saja karena ajang perlombaan yang akan dilangsungkan, namun lanskap Mandalika yang asri dan indah – posisinya berada pada bibir pantai dengan lingkaran perbukitan menjadi pamandangan yang menakjubkan. Pemandangan inilah yang membuat euforia yang mengasyikan. Tidak saja datang dari wisatawan yang mau menonton, tetapi juga para atlit yang akan bertanding. Hal ini memperkuat rasa nyaman, bahagia dan semangat saling memiliki sebagai kawasan milik bersama.

Oleh:
Lukmanul Hakim, M.Pd.

Artikulli paraprakIKLAN
Artikulli tjetërSemarak Nusantara Bersholawat, Ribuan Santri Ponpes NW Anjani Tumpah Ruah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini