Membicarakan tentang ‘Hari Kepahlawanan’, membawa kita pada refleksi sejarah perjuangan para pahlawan di masa lalu. Perjuangan merebut kemerdekan, mengusir penjajahan dan mempertahankan apa yang menjadi hak milik bangsa indonesia. Tanggal 10 November 1945 perlawanan mulai digemakan ‘dikumandangkan’ dari satu momentum arek-arek Suroboyo dengan hadirnya berbagai suku dan lapisan masyarakat untuk meneriakan semboyan “Merdeka atau Mati” menjadi api yang menghidupkan giroh ‘semangat’ rela berkorban – jiwa dan raga untuk tegaknya kemerdekaan Republik Indonesia – yang hari ini tanggal ‘10 November’ kita peringati sebagai “Hari Pahlawan”. Lantas, seperti apakah kepahlawanan ‘kita’ di era kekinian?

Era kekinian atau yang lebih akrab kita kenal dengan “era digital” memungkinkan semua serba terbuka. Berbagai peristiwa dan kejadian dapat secara langsung tersebar melalui berbagai media sosial. Kecangihan teknologi informasi mengantarkan pada cara-cara yang ‘instan’ dan ‘serba bebas’. Dan seiring perkembangannya, sebagian kecanggihan itu dimanfaatkan untuk berbagai “transaksi” terlarang, penyebaran hoax, perundungan, (bullying), dan tindakan asusila serta tindakan-tindakan negatif lainnya.

Google search engine

Pada sisi lain, hadirnya berbagai kecanggihan teknologi informasi dengan fitur pelengkapnya memberikan kebermanfaatan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan kemaslahatan manusia. Di masa pendemi Covid-19 misalnya, teknologi informasi dalam berbagai ragam media sosial turut membantu mensosialisasikan pengendalian virus, di samping kegiatan yang sebelumnya berlangsung secara luring (offline) harus dialihkan dalam bentuk daring (online), tentunya dengan tetap berkegiatan dalam jumlah yang terbatas. Selain itu, kegiatan-kegiatan transaksi beralih ke fitur pembayaran menggunakan e-money dan layanan lainnya berbasis pada kecanggihan sistem teknologi dan jaringan.

Fenomena tersebut dalam perkembangan dunia industri lebih populer dengan sebutan “Industri 4.0” yang ciri-cirinya mengkolaborasikan teknologi cyber dan teknologi otomatisasi. Di sini, peran manusia menjadi tidak digunakan lagi karena semua perangkat berbasis pada teknologi dalam pengpalikasiannya. Melalui teknologi, pekerjaan menjadi lebih efesien, baik dari kebutuhan atau pun waktu, sehingga berdampak pada kualitas tenaga kerja yang dibutuhkan dan hasil produksi. Sisi laiinya, mengubah banyak bidang dalam kehidupan manusia, ekonomi, dunia kerja, bahkan gaya dan berbagai bidang kehidupan kita. Dalam Industri 4.0, beberapa teknologi berikut menjadi penopang dan pilar utama pengembangannya, seperti Internet of Thing (IoT), Big Data, Argumented Reality (AR), Cyber Security, Artifical Intelegence, Addictive Manufacturing, Simulation, System Integeration, dan terakhir Cloud Computing/Komputasi awan (Olla, 2019).

BACA JUGA  Pemkab Lotim Gratiskan Biaya Swab Peserta CPNS dan P3K

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi telah merubah banyak hal. Mengurangi peran fisik manusia dan mengarahkan pada proses otomatisasi/permesinan dan digitalisasi. Dalam dunia industri misalnya, penggunaan alat/mesin menjadi ‘keniscayaan’. Orang tak lagi harus memiliki barang, melalui smartphone mereka dengan mudah bisa berdagangan dan bertransaksi dengan berbagai aplikasi yang tersedia. Perkembangan teknologi juga merambat ke berbagai bidang salah satunya bidang jasa, produk, hingga pengiriman telah memanfaatkan kecanggihan teknologi memadukannya dengan Global Positioning System (GPS).

Seiring kemajuan tersebut, tentunya kita tidak ikut kehilangan arah yang membuat kita menjadi “manusia robot”. Hidup individualis dan lupa pada hakikat sebagai mahluk sosial (homo socius). Tidak ada komunikasi yang harmonis dan lupa pada nilai-nilai kemanusian yang universal. Semangat kepahlawan hanya menjadi pemanis bibir ‘lipstik belaka’. Pada konteks inilah memahami kembali hakikat dan peran kita menjadi penting sekali.
Memaknai nilai-nilai kepahlawan di era digitaliasi atau era 4.0 membuat kita harus bijak dan melihat berbagai hal dengan wawasan yang lebih luas. Harus banyak mendengar dan melihat berbagai kemungkinan yang ada sehingga setiap informasi yang kita terima benar adanya. Tidak mengandung hoax dan tidak merugikan banyak orang ketika kita menyebarkannya.
Era digital memberikan kita berbagai tantangan yang akan membuat kita terus berkembang. Kesiapan kita akan menciptakan peluang keberhasilan, tidak saja bagi diri kita sendiri, tapi juga bagi orang-orang disekitar kita. Karenanya ada enam (6) hal yang bisa kita lakukan dalam upaya meneladani sifat kepahlawanan di era kekinian ‘era digital’, diantaranya (1) dengan meningkatkan keterampilan (skill), (2) mengembangkan kreativitas, (3) menciptakan hal-hal baru, (4) menjaga kearifan lokal (local wisdom), (5) menyaring berbagai informasi, dan (6) menyalurkan bakat dan hobi.

BACA JUGA  Ratusan Nakes di Lotim Diberhentikan Sejak 2021

Ulasan atas upaya tersebut sebagai berikut: Pertama, meningkatkan keterampilan; seseorang yang memiliki keterampilan dalam satu bidang menjadi penting di era kekinian. Dengan keterampilan yang ada kita menjadi lebih siap dengan tantangan dan dunia kerja. Dengan terus meningkatkan dalam berbagai latihan, akan membuat seseorang menjadi lebih piawai dan benar-benar terampil. Kedua, mengembangkan kreativitas; kreativitas adalah bukti dari kemampuan kita berpikir dan bertindak. Kreativitas akan melahirkan berbagai ide-ide baru. Seorang yang terbiasa kreatif akan cenderung menciptakan hal-hal baru dan sangat baik untuk melahirkan cara berpikir baru. Ketiga, menciptakan hal-hal baru; melalui berpikir kreatif hal-hal baru akan hadir dengan sendirinya, bahkan hasil dari proses inovasi. Melalui hal-hal baru, ada kejutan dan sekaligus punya tantangan. Menciptakan hal-hal baru dapat akan melejitkan otak untuk terus berkreativitas. Keempat, menjaga kearifan lokal yang pada wujudnya adalah menghargai apa yang ada di sekitar kita. Apa yang menjadi kebiasaan yang baik yang sudah terwariskan secara turun temurun terus dilestarikan. Dengan mengikuti setiap event kegiatan menjadi bagian dari cara menjaga budaya daerah kita sekalgisu memperkuat budaya nasional. Kelima, menyaring berbagai informasi adalah menjadi keewaspadaan kita di era yang serba bebas. Upaya untuk menyaring berbagai informasi adalah dengan melakukan ‘cek dan ricek’ sehingga kita tidak terjebak pada berita-berita yang tidak benar (hoax). Keenam, kegiatan menyalurkan bakat dan hobi menjadi daya dukung kita dalam menikmati kekinian. Berbagai bakat dan hobi dapat menjadi prestasi ketika terus disalurkan dengan cara yang tepat.

Melalui momentum peringatan “Hari Pahlawan”, catatan sejarah menjadi bacaan penting bagi kita secara khusus generasi Milenial (kelahiran 1991–1996) dan generasi Z (kelahiran 1997– 2012). Jangan lupakan sejarah, “jas merah” ungkapan Soekarno presiden pertama bangsa Indonesia. Memaknai nilai-nilai kepahlawanan di era kekinian dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi yang ada untuk pembangunan bangsa dalam berbagai sektor. Memanfaatkan media sosial untuk kegiatan positif dengan menyebarkan berbagai gagasan, ajakan, dan seruan dalam memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Konten positif, dan kreatif adalah cara merawat semangat juang kepahlawanan. Sosok pahlawan masa kini adalah siapa yang dapat memberikan inspirasi, karakter dan integritas tinggi dengan tetap bercermin pada semangat kebersamaan dan rasa persaudaraan.

BACA JUGA  Selain Pertanyakan Bagi-bagi Kalender Partai, Warga Tanjung Teros Tolak Keberadaan Klub Tantero

Oleh:
Lukmanul Hakim, M.Pd.
Dosen Tekhnologi Sumbawa

Artikulli paraprakBadan Jalan Tergenang, Sampah Pemicu Banjir
Artikulli tjetërKunjungi NTB, Presiden Akan Resmikan Sirkuit Mandalika

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini