LOMBOK TIMUR – Hamzani salah seorang Pegawai Migran Indonesia (PMI) asal Lingkok Dudu, Pancoran Manis, Desa Suryawangi, Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur (Lotim) mengalami kecelakaan kerja di Negeri Jiran, Malaysia.

Dia kesetrum kabel listrik tegangan tinggi yang tidak terbungkus membuatnya harus merelakan kedua tangan dan kakinya diamputasi.

Google search engine

Ladang sawit Perak Rantau Panjang, Kampung Sungai Kuning menjadi saksi dirinya terkena sengatan listrik tegangan tinggi. Ketika itu ceritanya, ia tengah memotong kelapa sawit. Namun ketika berpindah ke ladang kelapa sawit lainnya, sabit yang ada pada ujung jala yang dipakai untuk memotong itu tak sengaja mengenai kabel listik yang membentang di tempat perkebunan sawit tersebut.

Dengan cepat, sabit yang mengenai kabel tanpa dibungkus itu langsung mengaliri listrik ke tubuhnya.

“Saya coba melepaskan diri, tapi semakin saya mau melepaskan diri semakin tidak bisa. Terus saya kayak ayam yang disembelih itu dan langsung tidak sadarkan diri,” cerita Hamzani kepada Wartarinjani.net saat ditemui dirumahnya, Kamis (18/11).

Akibat kejadian itu, ia dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Kulim Kedah dan menjalani perawatan selama sebulan setengah. Selesai menjalani perawatan di RS Kulim Kedah, ia langsung berangkat menuju bandara dengan maksud ingin pulang kampung. Namun pihak bandara tidak memperbolehkannya untuk berangkat pulang, karena kondisi lukanya yang masih basah dan mengeluarkan bau busuk.

Kemudian ia kembali dirujuk ke RS, kali ini RS yang menjadi tempatnya dirawat ialah RS Johor. Di RS Johorlah tempatnya harus kehilangan kedua tangan dan kakinya.

Sebelum diaputasi, dirinya terlebih dahulu ditanya apakah pilih diaputasi atau nyawa. Karena kalau tidak diaputasi, luka akibat tersengat listrik itu akan merambat ke organ jantungnya dan bisa membahayakan nyawanya sendiri.

BACA JUGA  Presiden Jokowi Resmi Membuka Muktamar NWDI ke-1

“Mau tidak mau saya harus merelakan kedua kaki dan tangan saya, demi menyelamatkan nyawa saya,” sebutnya.

Adapun untuk biaya selama menjalani perawatan hingga diaputasi, dirinya tidak mengeluarkan uang, semua biaya itu ditanggung oleh bosnya. Begitu juga ketika dia pulang, bosnya langsung yang mengantar sampai Batam, Indonesia yang dikawal langsung oleh Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI).

Kendati ditanggung biaya selama di RS, dirinya mengaku tidak mendapatkan pesangon dari bosnya itu.

“Tanpa pesangon dari tekong,” katanya.

Menjadi tulang punggung keluarga dan dengan kondisi yang tidak memiliki kedua tangan dan kaki, ia mengharapkan adanya kepekaan pemerintah setempat maupun Provinsi atas dirinya. Terlebih lagi ia memiliki dua orang anak yang masih kecil, ditambah lagi istri yang tidak memiliki pekerjaan tetap.

“Semoga pemerintah membuka hatinya untuk membantu, apalagi saya masih memiliki anak yang masih kecil,” harapnya.

Meskipun hati berkeping-berkeping melihat tubuhnya yang sekarang, namun berkat dukungan dan motivasi yang diberikan oleh orang-orang terdekatnya, terlebih lagi istrinya. Ia merasa bersyukr dan tidak akan menyerah dengan kondisinya saat ini.

“Saya bersyukur masih bisa hidup dan masih bisa melihat dunia ini. Mungkin banyak orang-orang diluar sana yang lebih kuranglah dari saya,” syukurnya.

Diketahui bahwa, pria berumur 35 tahun itu masuk ke Malaysia untuk menjadi PMI sudah kelima kalinya. Keberangkatannya yang terakhir ini pun dilakukan pada 27 Maret 2018 lalu ke Malaysia Barat.

“Terakhir saya berangkat itu pada 27 Maret 2018 lalu dengan cara melancong,” pungkasnya.(WR-sid)

Artikulli paraprakDPRD – Pemkab Lotim Sepakati Pinjaman ke Bank NTB Syariah Rp. 200 Miliar
Artikulli tjetërVarian Baru Covid-19 Belum Terdeteksi di Lotim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini