LOMBOK TIMUR – Sejak Corona Virus Disease (Covid) -19 terdeteksi di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) 2 tahun silam, tak banyak yang dapat diperbuat pemerintah. Selain jenis virus baru, cara penanggulangannya pun masih belum diketahui.

Virus menular yang pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, China itu pun seketika menjadi penyakit berbahaya.
Jutaan orang di seluruh dunia meninggal dunia akibat penyakit tersebut. WHO – Badan Kesehatan Dunia memperkirakan, penularan Covid-19 akan mencapai puncaknya pada tahun 2020-2021. Benar saja, dibeberapa negara seperti India, Amerika bahkan negara eropa termasuk Indonesia, angka kasus penderita Corona meledak. Seluruh negara didunia pun berlomba-lomba membuat penangkal virus tersebut.

Google search engine

Di Indonesia, jutaan warga terpapar virus berbahaya tersebut. Kurang fahamnya masyarakat dan aktifitas sosial tak terkendali menjadi faktor penyebab penularan virus ini menyebar.

Demikian dii Lombok Timur, salah satu daerah di NTB pertama kali kasus virus Corona ini terdeteksi. Terang saja, daerah Gumi Patuh Karya ini pun mendapat sorotan tajam dari berbagai pihak hingga harus mendapat predikat sebagai daerah zona merah.
Bahkan, akses jalan dari dan menuju Kota Selong saat itu harus ditutup untuk menghindari mobilisasi massa.
Bahkan, Pemkab Lotim mengeluarkan kebijakan untuk melakukan penyekatan dibeberapa titik sentral arus jalan keluar masuk Lombok Timur.

Karantina Warga

Penerapan isolasi dan karantina pun mulai diberlakukan bagi warga yang terpapar atau pun suspect Covid-19. Tak hanya itu, penyintas atau warga yang baru pulang dari luar daerah ataupun luar negeri harus menjalani karantina selama 14 hari dilokasi yang telah disediakan pemerintah.

Bagi penderita yang terpapar Corona harus menjalani perawatan medis di rumah sakit di Lombok Timur. Untungnya,
BOR  (Bed Occupancy Ratio = Angka penggunaan tempat tidur) baik di RSUD R. Soedjono Selong maupun di Rumah Sakit Labuhan Haji, Lombok Timur tidak sampai over load.

BACA JUGA  Adminduk Bermasalah, 126 Ribu Warga Lotim Terancam Tidak Menerima PBI JK

Dari data beberapa waktu lalu, jumlah pasien Covid-19 di Kabupaten Lombok Timur mencapai 1783 kasus. Sembuh 1656 orang dan meninggal dunia 48 orang.

Imbas dari pandemi itu, pemerintah melakukan perubahan kebijakan anggaran. Re-alokasi dan re-focussing anggaran sebagai solusi untuk mengantisipasi ekses dari pandemi tersebut. Sejumlah anggaran OPD untuk alokasi sektor pembangunan terpaksa dipangkas untuk membiayai masyarakat terdampak pandemi. Mulai dari bantuan sosial, pengadaan Alat Pelindung Diri (APD), bantuan kesehatan dan sebagainya.

Saat awal pandemi pesan dalam perubahan perilaku hanya berfokus pada penanganan Kesehatan. Namun saat ini perlu adanya pesan ekonomi dalam perubahan perilaku dikarenakan pencegahan melalui strategi promotif dan preventif jauh lebih murah dibandingkan kuratif atau pengobatan, perubahan perilaku merupakan investasi jangka panjang, dan perubahan perilaku bersifat intangible (tidak berwujud), sehingga sering diabaikan para pengambil kebijakan.
Penggunaan masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menghindari kerumunan menjadi #tagar dimedia massa. Pemerintah pusat hingga daerah pun berupaya dengan secara paksa agar masyarakat menerapkan 3 M disejumlah titik strategis publik.

Kabar baik pun mulai terlihat setelah sejumlah negara menemukan penangkal virus mematikan itu. Namun, keberadaan anti virus seperti Sinovac, Astrazeneca, moderna, pfizer bahkan anti virus buatan dalam negeri seperti Merah Putih, tak sepenuhnya diterima masyarakat umum.

Vaksinasi sebagai langkah paling realistis. Akan tetapi, penolakan demi penolakan masyarakat untuk disuntik vaksin terlihat dimana-mana karena efek samping yang mereka dapatkan setelah divaksinasi.

Pemerintah pusat dan daerah bersama TNI/Polri dan tenaga kesehatan mulai menerapkan wajib vaksin bagi seluruh masyarakat Indonesia. Satuan Tugas (Satgas) batalion vaksinator digelar hingga ke polsek-polsek.

Di Kabupaten Lombok Timur sedari awal dilaksanakan vaksinasi pada bulan Februari 2021 lalu tercatat baru 0.33 persen yang tervaksinasi dari total target masyarakat Lotim sebanyak 952.470 orang.

BACA JUGA  Antisipasi Bencana Alam, Pemkab Lotim Siapkan Seluruh Unsur
Herd immunity Lotim
Foto : Kepala Dinas Kesehatan Lotim, DR. H. Pathurrahman. (doc)

Capaian vaksinasi terus mengalami kemajuan setiap bulannya. Baik dosis pertama (D1) maupun Dosis dua (D2).

Peningkatan jumlah angka vaksinasi secara signifikan terjadi pada bulan Oktober 2021.
Untuk D1 mencapai 61.78 persen, hingga mencapai 70,21 persen pada tanggal 8 November 2021. Namun berbanding terbalik dengan capaian angka vaksinasi D2 hanya 21.20 persen. Artinya, jumlah warga yang sudah mendapatkan vaksinasi sebanyak 668.821 orang untuk D1. Dan, 201.970 orang untuk D2.

Dengan capaian vaksinasi 70,21 persen menandakan Kabupaten Lotim sudah mencapai herd immunity. Dengan tercapainya herd immunity itu, level Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Lotim mengalami penurunan menjadi level -1.

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Lotim, DR. H. Pathurrahman menyebutkan bahwa penentuan level PPKM itu terdiri dari dua indikator, yakni indikator komunitas dan kapasitas respon.

Namun indikator penentuan level PPKM itu terjadi penambahan setelah keluar surat Immendagri No. 54 tertanggal 18 Oktober 2021, yakni ditentukan dengan capaian vaksinasi. Dengan adanya tambahan indikator itu, sempat membuat level PPKM di Lotim naik jadi level III yang semula berada pada level I.

Jumlah penduduk Lombok Timur berada pada angka 1.3 juta jiwa lebih. Capaian herd immunity seperti yang disyaratkan itu secara kuantitas menjadikan Lotim sebagai daerah penyumbang terbanyak membutuhkan vaksin di NTB.

Kunci sukses untuk menurunkan laju penurunan angka Covid-19, yakni kecepatan vaksinasi, laju penularan rendah, Prokes masyarakat yang cukup tinggi, ketersediaan dan akses vaksinasi, tenaga kesehatan terlatih dan kepercayaan masyarakat yang tinggi.

Sekda Lotim HM. Juaini Taofik
Foto : Sekretaris Daerah Lotim, Drs. HM. Juaini Taofik, M.Ap. (doc)

Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Timur, HM. Juaini Taufik, M.Ap mengungkapkan, capaian herd immunity ini berkat sinergi semua stake holder baik dalam pelaksanaannya, support pendanaan, penambahan tim melalui pelatihan serta metode pelayanan yang diterapkan pemerintah.

BACA JUGA  Pemda Lotim Siapkan 33 Shuttle Bus

“Seluruh tim vaksinator melakukan tugasnya dwngan maksimal. Baik secara door to door, pelaksanaan dari pagi sampai malam bahkan petugas nakes melaksanakan vaksinasi pada hari libur,” ujar Sekda Lotim itu.

Untuk mempercepat capaian sesuai ekspektasi pemerintah Lotim kata Juaini Taufik, terutama dosis vaksin ke lansia (Lanjut Usia) ini nantinya tidak hanya akan menggunakan strategi door to door, melainkan juga akan memanfaatkan keberadaan posyandu keluarga yang ada di desa-desa. (WR-di)

Artikulli paraprakBaru Satu Kecamatan Deklarasi STBM di Lotim
Artikulli tjetërGuru Berprestasi di Lotim Dapat Tiket Umroh Tahun 2022

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini