LOMBOK TIMUR – Tenggelamnya Speedboat yang ditumpangi sekitar 50 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di perairan sebelah tenggara pantai Tanjung Balau, Kota Tinggi Johor, Malaysia menambah deretan peristiwa memilukan yang dialami para pahlawan devisa ini. Akibatnya, 11 orang meninggal dunia 5 orang diantaranya warga Lombok Timur. Sedangkan puluhan lainnya masih dinyatakan hilang dan tengah dalam proses pencarian otoritas setempat.

Kejadian tragis yang menimpa para TKI ini tentunya menjadi kabar duka yang mendalam bagi keluarga.

Google search engine

Salah satu yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut adalah pasangan suami istri bernama Junaidi (26) dan Julia Ningsih (18) warga Dusun Sari Indah, Desa Dasan Borok, Kecamatan Suralaga, Lombok Timur (Lotim).

Ketika media ini mendatangi kediaman korban, suasana duka terlihat jelas diraut muka keluarga. Seperti yang diungkapkan oleh Inaq Mulyadi yang merupakan ibu kandung dari korban Junaidi.

Diceritakannya, sebelum anak dan menantunya itu pergi, banyak perubahan tingkah laku dikedua pasangan yang baru saja 6 bulan menikmati kebahagiannya sebagai pasangan suami istri. Terlebih lagi pada menantunya tersebut.

Sebelum berangkat, menantunya berpesan untuk selalu disayang sampai kapanpun. Bahkan, menantunya yang juga merupakan guru ngaji di Musholla dekat rumahnya itu meminta air bekas cuci kakinya untuk diminum.

“Dari omongannya itu saya mikir, kok dia ngomong seperti orang mau ninggalin kita untuk selamanya. Sebelumnya dia nggak pernah ngomong kayak gitu,” ujar Inaq Mulyadi sembari mengusap air mata yang membasahi pipinya, Senin (20/12).

Dengan mata berkaca-kaca, Inaq Mulyadi menceritakan kisah menantunya yang sempat menjual hp sebelum berangkat.
Sebelum Hpnya terjual, semua fotonya yang ada di HP tersebut di upload ke akun Facebook miliknya. Waktu itu, korban mengatakan kepada keluarganya bahwa dia ingin menyimpan semua poto tersebut di facebook untuk dijadikan kenangan.

BACA JUGA  Stok Oksigen di RSUD Soedjono Selong Dipastikan Aman

“Saya simpan aja semua poto saya di facebook sebagai kenang-kenangan dari saya, biar kalian semua bisa liat foto-foto saya di facebook (ungkap korban waktu itu kepada keluarganya),” ceritanya.

Menantu yang sudah dianggap seperti anak kandung itu sambungnya, semalam sebelum berangkat, menantunya berpesan agar bonekanya disimpan karena merupakan kenang-kenangan dari teman-teman sekolahnya dan meminta untuk tidak diberikan kepada siapapun.

Sebelum berangkat sekitar pukul 02.00 wita, ia tidak pernah berhenti meminta maaf dan meminta doa keselamatan diperjalanan bersama suaminya.

Sang ibu mertua juga berpesan kepadanya, kalau keadaan cuaca tidak bagus, ibu mertuanya memesannya untuk tidak melanjutkan bepergian dan lebih baik balik ke rumah lagi. Pesan baik ibu mertuanya pun di gubris dengan baik juga “iya bu, kalau cuaca tidak baik, saya balik”.

Berdasarkan hasil autopsi yang diterima oleh pihak keluarga, korban saat itu diketahui tengah mengandung. Usia bayi yang didalam kandungan menantunya tersebut baru berusia dua minggu.

Keberangkatan secara ilegal yang dilakukan pasutri tersebut kerapkali mendapatkan larangan dari pihak keluarga. Bahkan ketika pasutri tersebut sudah berada di Batam, pihak keluarga masih meminta untuk tidak melanjutkan keberangkatan dan meminta untuk pulang saja.

“Pas dia di Batam aja saya suruh dia balik, berapapun biaya yang dikeluarkan saya akan ganti. Tidak ada yang meridhoi mereka pergi, tapi mungkin janjinya juga,” tuturnya.

Terang saja, akan bepergian ke negeri Jiran, Malaysia dengan cara ilegal membuat pihak keluarga tidak ada yang mengizinkannya. Namun menantunya itu tetap bersikeras untuk menemani suaminya untuk mencari nafkah. Bahkan menantunya itu mengatakan bahwa dirinya rela mati bersama suaminya.

“Dia bilang ‘saya rela mati bersama suami saya’, kata-kata itu yang terus diucapkan,” cerita Inaq Mulyadi mengutip percakapan sebelum peristiwa itu terjadi.

BACA JUGA  Harga Anjlok, Peternak Telur di Lotim Sweeping Truk Ekspedisi

Rencananya kata keluarganya, pasutri tersebut akan bekerja di perkebunan sayur. Tentangan kepergian pasutri tersebut juga tidak hanya berasal dari keluarga yang ada di sekitarnya, melainkan juga pihak keluarga yang ada di Malaysia sana.

“Saudara yang ada di Malaysia itu juga larang dia berangkat,” katanya.

Diketahui, keberangkatan ini merupakan pertama kali dilakukan oleh menantunya Julia Ningsih. Sedangkan untuk Junaidi merupakan bepergiannya yang ke empat kalinya.

“Ini yang keempat, tapi tumben dia berangkat dengan cara ilegal,” ujarnya.

Menurut informasi yang didapati keluarga, Junaidi berhasil selamat dalam peristiwa tersebut dan saat ini tengah berada Pemerintahan Malaysia untuk dilakukan pemeriksaan. Sedangkan Julia Ningsih istrinya harus meregang nyawa.

Atas kejadian itu, dengan rendah hati pihak keluarga meminta untuk dilakukan pemulangan terhadap jenazah korban. (WR-sid)

Artikulli paraprak2021, Pemda Lotim Siapkan Rp. 22 Miliar Bayar Premi BPJS Kesehatan ASN dan Non ASN
Artikulli tjetërBaru Lima OPD Jalin Kerjasama Dengan BPJS Ketenagakerjaan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini