LOMBOK TIMUR – Pada tahun 2021 ini, Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Lombok Timur (Lotim) sangat rendah dari target yang sudah ditentukan. Penyebab rendahnya PAD pada tahun 2021 ini lebih disebabkan faktor pandemi Covid-19.

Bupati Lombok Timur HM Sukiman Azmy tak menampik bahwa capaian PAD Lotim tahun 2021 berada pada titik terendah

Google search engine

“Ada Covid-19, faktornya itu,” jawab Sukiman kepada wartarinjani.net saat menghadiri acara peresmian mesin pembuat spandek dan kanal C di UPT Logam Kotaraja, Senin (3/1).

Ketika pandemi melanda dan terjadinya Re-focussing sambungnya, banyak sektor penghasil PAD tidak bergerak, salah satunya di sektor pariwisata dan beberapa sektor lainnya.  Hal itu menyebabkan pemungutan retribusi dan pemasukan daerah tang sah tidak bisa dilakukan.

Selain itu, pemungutan retribusi juga tidak dilakukan di pasar-pasar yang ada di Lotim. Ketika pandemi melanda, Pemda Lotim tidak melakukan pemungutan retribusi, melainkan menggratiskannya.

“Ketika pandemi itu, kita tidak memungut retribusi, malah kita menggratiskan retribusi. Itukan artinya PAD kita berkurang,” katanya.

Terkait dengan PAD pada tahun 2021 yang stagnan dengan tahun sebelumnya. Sukiman mengatakan akan melakukan evaluasi bersama jajaran.

“Nanti kita akan evaluasi,” pungkasnya.

Dikesempatan berbeda, Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lombok Timur, M. Azlan, SE, M.Ak secara gamblang mengakui masih rendahnya capaian PAD tahun 2021.

Meski tak mencapai target oleh karena sejumlah faktor tertentu, dibanding capaian tahun 2020, tahun 2021 masih dinilai lebih baik.

“Kalau target sampai 100 persen mungkin dirasakan cukup  sulit dengan kondisi saat ini. Tetapi, setidaknya capaian ini lebih besar dibanding tahun sebelumnya,” ujarnya.

Pada tahun 2019, target PAD Rp. 319 miliar namun realisasinya Rp. 290,2 miliar atau 91 persen lebih. Demikian pada tahun tahun 2020, dari target Rp. 363 miliar, terealisasi Rp. 328 miliar. Berarti terjadi peningkatan sebesar Rp. 40 miliar lebih.

BACA JUGA  MoU Pemda Lotim dan Universitas Gunadarma, Tingkatkan IPM

Hanya saja, kata Azlan, ada beberapa sumber pendapatan yang tidak mungkin dilakukan desain ulang. Seperti deviden dari Perusahaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Alasannya, BUMD-BUMD sudah melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sehingga tidak bisa diganggu gugat lagi

Dia menyebutkan, sumbangan deviden untuk perusahaan daerah tersebut hanya terealisasi Rp.12.5 miliar atau kurang dari 50 persen dari target yang diharapkan sebesar Rp. 27 miliar.

Turunnya target dari hasil deviden itu, akibat pandemi covid-19. Sehingga dilakukan sejumlah kebijakan yang ditempuh BUMD itu sendiri. Dia mencontohkan, Bank NTB Syariah terpaksa melakukan relaksasi selama 3 bulan bebas bunga. Otomatis pendapatan  berkurang. Demikian pula, Selaparang Financial (SF). Bukan hanya itu, penurunan pendapatan pun berlaku juga di PDAM. Pelanggan terpaksa tidak dibebani biaya tagihan. Demikian pula subsidi Pajak Penerangan Jalan (PPJ) dan pembebasan pembayaran bagi masyarakat terutama pelanggan listrik dengan kapasitas daya 450 Watt dan 900 Watt. (WR-sid)

Artikulli paraprakUstadz Mizan Resmi Dilaporkan ke Polres Lotim
Artikulli tjetërTujuh Butir Kesepakatan Tandai Deklarasi Damai untuk Jaga Kondusifitas Lotim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini