LOMBOK TIMUR – Aksi damai massa menuntut salah seorang Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) As-sunnah, Bagek Nyaka, Aikmel, Ustadz Mizan Qudsiah, berlangsung di depan kantor Bupati Lotim, Kamis (6/1).

Dalam aksi turun ke jalan itu ternyata tidak hanya didominasi oleh kaum adam. Menariknya, kaum ibu-ibu dengan tuntutan serupa juga menyampaikan orasinya. Salah satunya, Hj. Mufrihatun, Ketua Pimpinan Cabang Muslimat NWDI, Pancor Lombok Timur.

Google search engine

Dengan berapi-api, Hj. Mufrihatun menilai keberadaan faham Wahabi di Lotim sudah sangat meresahkan. Bahkan, telah menyebabkan beberapa masyarakat harus mengikuti faham mereka karena iming-iming yang dan harta.

Ajaran yang dijalankan faham Wahabi sangat bertentangan dengan ajaran ahli sunnah waljama’ah terutama dalam hukum fiqih.

“Tidak boleh mendoakan orang tua kita yang sudah meninggal dunia. Tidak boleh berzikir merupakan salah satu ajaran yang dilarang dilakukan oleh faham Wahabi. Padahal, ajaran Islam pada umumnya itu bersumber dari Qur’an dan Al Hadits,” ungkap Hj. Mufrihatun kepada wartarinjani.net.

Ajaran Islam pada umumnya kata dia, dianggap bid’ah. Sementara, tradisi ummat islam ahli sunnah waljama’ah sangat menganjurkan untuk berdoa dan berzikir.

Penolakan masyarakat di Pulau Lombok khususnya di Lotim terhadap keberadaan ajaran Wahabi ini cukup besar. Sebab kata dia, faham Wahabi tidak layak berada dikalangan mayoritas ahli Sunnah waljama’ah. Apalagi sampai menyebarkan ajaran yang dinilai menyesatkan.

“Kalau mau menyebarkan fahamnya jangan disini (Lombok, Red). Tapi silakan di Mekkah tempat asalnya. Silakan berceramah sesama Wahabi, tapi jangan ajak masyarakat untuk mengikuti faham mereka. Apalagi sampai mengiming-imingi dengan uang,” pinta Hj. Mufrihatun. (WR)

BACA JUGA  Bupati Lotim Minta Pelaku Pemotongan Video dan Pengerusakan Ponpes Harus Diperlakukan Sama
Artikulli paraprakAksi Massa di Lombok Timur Terkendali, Kapolda NTB Apresiasi Polres dan Pemda
Artikulli tjetërKemenag Lotim Bentuk Desa Kerukunan di Desa Mamben Daya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini