LOMBOK TIMUR – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lombok Timur (Lotim) menjadikan 13 desa di Lotim sebagai percontohan desa ramah perempuan dan peduli anak. Desa- desa tersebar di 8 kecamatan, diantaranya, Kecamatan Terara, Pringgabaya, Lenek, Sikur, Sakra Timur, Jerowaru dan Sakra Barat.

Penunjukan ke 13 desa tersebut untuk meminimalisir terjadinya kekerasan seksual yang menimpa anak dan perempuan. Ke 13 desa yang dimaksud yaitu, Desa Labuhan Lombok, Terara, Lenek Kali Bambang, Loyok, Menceh, Gereneng Timur, Jerowaru, Paremas, Pandan Wangi, Wakan, Sukaraja dan Desa Borok Toyang.

Google search engine

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lotim H. Ahmat, SKM menyebutkan, desa ramah perempuan dan peduli anak menurut rencana akan dilaunching pada 2 Februari mendatang.

“Desa-desa tersebut telah melalui proses seleksi yang dilakukan oleh beberapa NGO atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang juga merupakan desa binaan mereka. Sebab, LSM inilah nantinya yang akan mendampingi,” sebut Ahmat kepada wartawan, Rabu kemarin (19/1).

Desa yang terpilih itu telah memenuhi 10 indikator seperti yang disyaratkan. Salah satunya, desa bersangkutan memiliki data, memiliki peraturan tentang perempuan dan anak.

Masih kata Ahmat, dengan dilaunching desa ramah perempuan dan peduli anak tersebut bisa menjadi refleksi untuk desa dan kelurahan yang belum menjalankan aturan seperti yang dipersyaratkan itu.

Bahkan, mantan Kepala Dinas Sosial Lotim itu berharap, seluruh desa di Lotim menjadi desa ramah perempuan dan peduli anak tahun 2022 ini.

Ahmat menyebut, ada 3 alternatif terpilihnya 13 desa tersebut, yakni desa yang dipimpin oleh perempuan, desa yang memiliki kasus kekerasan seksual dan pernikahan dini yang masih tinggi dan yang terakhir adalah komitmen desa.

BACA JUGA  Kasus Aktif Terendah Ketiga, Prokes NTB Harus Tetap Kencang

“Dinas P3AKB pun turun langsung untuk melakukan penilaian. Tidak bisa NGO sendiri memilih tanpa adanya persetujuan dari kita. Kita berkolaborasi, termasuk juga dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD),” jelasnya

Tujuan dibentuknya desa ramah perempuan dan peduli anak itu tersebut ialah, ingin meniadakan adanya kasus kekerasan anak, pelecehan di semua desa, kecamatan bahkan tingkat kabupaten.

Selain itu, anak-anak yang menjadi korban dari kekerasan seksual, tidak menutup kemungkinan akan mengalami putus sekolah, karena faktor malu ingin melanjutkan sekolah ditempat semula dan lain sebagainya. Dan untuk meminimalisir adanya anak yang tidak dapat mengenyam dunia pendidikan, DP3AKB Lotim sudah mensiasatinya dengan menyiapkan 4 sekolah rujukan. Sekolah yang dijadikan sebagai sekolah rujukan tersebut ialah sekolah reguler dan tanpa dibebani biaya.

“Dari 2021 sampai sekarang ini kita sudah masukkan 5 anak. Sekolah rujukan ini sekolah yang mau menerima siswa dan kita juga sudah melakukan kerja sama,” sebut Ahmat

Sekolah rujukan itu tidak hanya untuk pihak perempuan saja, melainkan juga untuk laki-laki. Hal itu dilakukan untuk menekan angka putus sekolah di Lotim. (WR)

Artikulli paraprakMAKI : Vonis Nihil Terdakwa Korupsi Asabri Heru Hidayat Cerminan Rasa Ketidakadilan
Artikulli tjetërJPN Kejari Lotim Serahkan Uang Pemulihan Kerugian Negara Dalam Kasus PT. Bank NTB Syariah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini