Gaess, Tau nggak Sih Jumlah Istana Kepresidenan?

0
139
Istana Negara

Ada 6 Istana Kepresidenan yang pernah dan masih dipergunakan sebagai istana Presiden Republik Indonesia.

Keenam istana presiden Indonesia itu adalah
1. Istana Negara
2. Istana Merdeka
3. Istana Bogor
4. Istana Cipanas
5. Istana Tampaksiring
6. Gedung Agung Yogyakarta

Berikut ini adalah sejarah singkat dari Istana Presiden Republik Indonesia yang dikumpulkan dari beberapa sumber.

Istana Negara
Istana Negara

1. Istana Negara

Istana Negara adalah istana Presiden Indonesia yang tertua.
Berada di jalan Veteran, Jakarta dan dalam satu kompleks dengan Istana Merdeka.
Istana Negara berada di sisi bagian Utara sedangkan Istana Merdeka berada di sisi sebelah Selatan

Total luas keseluruhan Istana Presiden mencapai 68,000 m², meliputi 3 bangunan penting lainnya seperti:
1. Bina Graha
2. Wisma Negara
3. Kantor Kementerian Sekretariat Negara
Republik Indonesia.
Istana Negara menghadap jalan Veteran, sementara Istana Merdeka menghadap jalan Medan Merdeka.

Istana Merdeka
Istana Merdeka

 

2. Istana Merdeka

Istana Merdeka berada dalam satu kompleks dengan Istana Negara.
Istana Merdeka letaknya menghadap ke Taman Monumen Nasional atau Monas.
Berada di jalan Merdeka Utara, Jakarta.
Istana Merdeka menjadi kantor dan kediaman Presiden Republik Indonesia.
Istana Merdeka memiliki luas 2.400 m persegi.
Awalnya Istana Merdeka ini digunakan sebagai tempat resmi dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda hingga pada masa pendudukan Jepang di Indonesia.

Istana Bogor
Istana Bogor

3. Istana Bogor

Seperti namanya Istana Bogor berada di Bogor, Jawa Barat.Istana Bogor diketahui memiliki keunikan tersendiri lewat aspek historis dan kebudayaan.

Istana Bogor memiliki keindahan alam, flora dan fauna. Salah satunya keberadaan dari rusa-rusa yang didatangkan langsung dari Nepal dan tetap terjaga sampai sekarang.

Hal tersebut menjadikan Istana Bogor sangat menarik tidak hanya untuk presiden, namun juga warga sekitar istana. Khalayak umum boleh mengunjungi Istana Bogor secara rombongan, dengan meminta izin terlebih dahulu pada pihak berwenang.

Dalam Istana Bogor juga terdapat berbagai macam pemandangan seni dan lukisan yang indah dan menarik.

Istana Cipanas
Istana Cipanas

4. Istana Cipanas

Istana Cipanas berada pada ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut.
Berada tepat di kaki Gunung Gede, membuat Istana Cipanas menjadi tempat favorit buat Presiden Indonesia.

Istana Cipanas dibangun sejak tahun 1740 dengan fasilitas lengkap seperti kolam tempat pemancingan ikan, kebun yang luas, hingga tempat pemandian air panas.
Luas lokasi Istana Cipnas mencapai kurang lebih 7.760 meter persegi.

Berdasarkan sejarah Istana Cipanas sudah dipakai sejak masa pemerintahan Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem Baron Van Imhoff. Istana Cipanas dijadikan sebagai tempat peristirahatan favorit dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Istana Tampaksiring
Istana Tampaksiring

5. Istana Tampaksiring

Istana Tampaksiring dibangun pada masa Indonesia merdeka. Letaknya berada di Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali.

Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, adalah pemrakarsa yang menginginkan adanya tempat peristirahatan dengan hawa sejuk serta jauh dari keramaian kota.
Dan dibangunlah Istana Tampaksiring sebagai tempat peristirahatan presiden ketika berkunjung ke Pulau Bali

Kompleks Istana Tampaksiring terdiri atas empat gedung utama yaitu Wisma Merdeka seluas 1.200 m2 dan Wisma Yudhistira seluas 2.000 m2 dan Ruang Serbaguna. Memiliki arsitektur yang cukup modern dan menawan.

Gedung Agung Yogyakarta
Gedung Agung Yogyakarta

6. Gedung Agung Yogyakarta

Gedung Agung Yogyakarta disebut juga Istana Yogyakarta terletak di pusat keramaian kota Yogyakarta. Tepatnya ujung selatan dari jalan Ahmad Yani yang dahulu bernama jalan Margomulyo. Kompleks Istana Yogyakarta ini menempati lahan seluas 43.585 m persegi.

Seperti istana lain, Gedung Agung Yogyakarta merupakan kantor dan kediaman resmi dari Presiden Republik Indonesia.
Difungsikan sebagai tempat menerima tamu atau tempat menginap tamu-tamu negara.

Baca Juga  SMSI Temui MPR RI: Soal Penembakan Wartawan, Komnas HAM Perlu Bentuk Tim Pencari Fakta

🌀) Sejarah Istana Negara dan Istana Merdeka

Istana Kepresidenan Republik Indonesia
di Jakarta terdiri dari dua bangunan utama yang disebut Istana Negara dan Istana Merdeka. Kedua istana ini merupakan dua buah bangunan utama yang luasnya 6,8 Ha
dan terletak di antara Jalan Medan Merdeka Utara dan Jalan Veteran
Dalam kompleks juga terdapat sejumlah bangunan lain yang sering digunakan dalam
kegiatan kenegaraan.

Posisi Istana Merdeka tepat menghadap ke Taman Monumen Nasional atau Jalan Medan Merdeka Utara dan Istana Negara menghadap ke jalan Veteran. Kedua bangunan itu berada di kawasan yang dimasa pemerintahan kolonial Belanda bernama Weltervreden yang dalam bahasa Belanda berarti ”sangat memuaskan” ‘

Kawasan Weltervreden ini dahulunya dihuni oleh para elit pejabat dan pengusaha Belanda dengan rumah-rumah yang besar (loji). Weltervreden adalah kawasan yang tertata cantik dengan pohon-pohon yang dipangkas rapi seperti di taman-taman Eropa.

Gedung Istana Negara berumur lebih tua dan mulai dibangun pada 1796 masa pemerintahan Gubernur Jenderal VOC Pieter Gerardus Van Overstraten dan selesai pada 1804 pada masa Gubernur Jenderal Johannes Siberg.

Gedung ini semula adalah sebuah rumah peristirahatan milik pengusaha Belanda, Jacob Andries van Braam di jalan Rijkswijk , sekarang disebut jalan Veteran. Gedung ini kemudian dikenal dengan sebutan Istana Rijswijk.

Jacob Andries van Braam lahir di Chin-Surah (Houghly), Brits-Indië ( Negara India sekarang ) pada 26 Januari 1771 , putra dari Wakil Laksamana Belanda dan Friesland Barat Jacob Pieter van Braam (1737-1803 ).

Jacob Andries Van Braam bergabung dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) cabang di sungai Hooghly di pantai Bengal
India .

Di tahun 1796 Jacob Andries van Braam memulai membangun rumah pribadi dan selesai pada 1804 pada masa Gubernur Jendral Johannes Siberg di wilayah elite Batavia yang bernama Rijswijk-Molenvliet dengan halaman yang luas hingga meliputi Istana Merdeka sekarang.

Di usia 25 tahun, Jacob Andries Van Braam dengan jabatan Opperkoopman rupanya sangat kaya sehingga dapat membangun rumah kediaman 2 lantai bergaya Indies Empire Style.

Pada tahun 1808, Jacob Andries Van Braam diangkat sebagai residen (1808–1811) di Kasunanan Surakarta yang ketika itu yang menjadi Raja adalah Sunan Pakubuwana IV (1796–1820).

Pada tahun 1821 rumah peristirahatan Jacob Andries van Braam dibeli oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai pusat kegiatan pemerintahan serta tempat tinggal dari para Gubernur Jenderal di Batavia.

Di Istana Rijswijk ini pada tahun 1829 Gubernur Jendral Godert Alexander Gerard Philip Baron
Van Der Capellen mendengarkan rancana Jenderal Hendrik Merkus Baron De Kock untuk menumpas pemberontakan Diponegoro.

Di istana ini pula Gubernur Jendral Graaf Van Den Bosch mulai membuat kebijakan sistem tanam paksa atau budaya stelsel, sistem yang menguntungkan pundi-pundi pemerintah kolonial dan menciptakan kesengsaraan para petani.

Pada periode Hindia Belanda dibawah Inggris (1811–1815) , rumah ini menjadi kediaman dari Komisaris Sipil Wilayah Pesisir Utara Jawa yakni Hugh Hope , sedangkan Jacob Andries Van Braam masih tetap mendiami bagian selatan rumah ini sampai meninggalnya diusia ke-49 tahun pada tanggal 12 Mei 1820 .

Pada mulanya bangunan seluas 3.375 m2 berarsitektur gaya Indies Empire style ini bertingkat dua.
Tapi pada 1848 bagian atasnya dibongkar
dan bagian depan lantai bawah dibuat lebih besar untuk memberi kesan lebih resmi dan sisi yang menghadap Koningsplein atau Lapangan Merdeka dibuat lebih terbuka . Bentuk bangunan hasil perubahan 1848 inilah yang bertahan sampai sekarang tanpa ada perubahan yang berarti.

Baca Juga  Pemkab Lotim Terima Bantuan KJA Senilai Rp. 10 Miliar

Status bangunan ini adalah Istana Gubernur Jendral (Paleis te Rijswijk), tetapi secara resmi disebut dengan nama Hotel Van Den Gouverneur-Generaal.
Sengaja tidak memakai istilah Istana Paleis, kemungkinan karena Istana Daendels di Weltevreden yang rencananya akan menjadi istana resmi, sedang dalam masa pembangunan.

Rumah van Braam dipilih, karena Istana Daendels di Weltevreden belum selesai. Tapi setelah diselesaikan pun pada 1828 , gedung itu hanya dipergunakan untuk kantor pemerintah. Sedangkan untuk untuk kediaman resmi, semenjak tahun 1744 , Gubernur Jendral tetap berada di Istana Buitenzorg ( Bogor ) .

Gubernur Jendral Hindia Belanda Godert Alexander Gerard Philip Baron van der Capellen ( 1816–1826 ) adalah Gubernur Jendral yang pertama yang mendiami Istana Paleis te Rijswijk

Setelah dirasakan Paleis te Rijswijk tidak mampu lagi menampung kegiatan yang semakin meningkat.
Pada tahun 1869 atas perintah dari Gubernur Jendral Pieter Mijer mulai direncanakan pembangunan istana yang baru.
Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal James Loudon (1872 -1875) pada Maret 1873 mulailah pembangunan istana baru pada kaveling yang sama.

Istana yang selesai pada Januari 1879 tersebut dinamakan Paleis te Koningsplein atau Istana Gambir yang kemudian dikenal dengan nama Istana Merdeka setelah Indonesia merdeka. Pembangunan istana baru selesaipada masa Gubernur Jendral selanjutnya yaitu J.W. van Lansberge .

Bangunan yang semula direncanakan untuk kediaman pribadi “Pedagang Senior VOC“ bernama Jacob Andries van Braam , melewati kurun waktu 1804–1879.
Sudah 22 Gubernur Jendral yang sempat mendiami Istana Negara, dan setelah Istana Merdeka selesai dibangun pada 1879, sempat didiami oleh 15 Gubernur Jendral ditambah 3 Gubernur Tentara Pendudukan Jepang di pulau Jawa. Setelah 138 tahun, akhirnya pada 27 Desember 1949 , warisan sejarah Kolonial ini menjadi Istana Negara dan Istana Merdeka, 2 Istana Kepresidenan Republik Indonesia.

Istana Merdeka sengaja dibangun untuk menjadi kediaman para Gubernur Jendral Hindia-Belanda yang berjuluk Koningsplein Paleis atau Istana Wakil Tinggi Mahkota Belanda.

Pembangungan Koningsplein Paleis, sebutan lain Istana Merdeka, tak lain karena Istana Rijswijk –Istana Negara– sudah tak memenuhi syarat sebagai kediaman Gubernur Jenderal

Koningsplein Paleis dibangun oleh Gubernur Jenderal James Loudon pada 1873 dan diresmikan oleh penggantinya Johan Willem van Landsbarge untuk menghormati pernikahan Raja Willem III pada 1879.

Istana Merdeka atau Koningsplein Paleis yang dibangun 1873, lebih muda dari Istana Negara yang dibangun pada 1796, terletak di kawasan yang sama tapi bagian mukanya menghadap Jalan Veteran.

Saat dibangun Belanda, Istana Merdeka sebenarnya masih tergolong sederhana bila dibandingkan dengan Istana Tokyo, Bangkok, atau beberapa istana di India. Pasalnya saat
itu pemerintah kolonial tengah menghemat anggaran, karena pecah perang di Nusantara. Anggaran yang keluar untuk membangun Istana Merdeka hanya 289.250 gulden.

Menariknya, Bangunan yang dibangun dengan luas 2.600 meter persegi itu dirancang berdasarkan ide dari Ir. Couvee Djen dan direalisasikan oleh Ir. H.M. Debbete sebagai arsiteknya. Pembangunan dilaksanakan oleh Firma J.B Drossares.

Koningsplein Paleis kemudian dibangun dalam gaya neo-klasik tropis dengan massa tipis dan atap besar. “Gedung utama diapit oleh dua sayap dengan gerbang lengkung (arch) yang menguatkan kesan keistanaan. Bentuk jendela dengan pediment dan louvre meringankan tampak muka.”

* Dikutip dari tulisan Adolf Heuken SJ dalam
Medan Merdeka: Jantung Ibu Kota RI, 2008.

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar