Bendungan Kali Ujung, Eksotis tapi Terbengkalai

0
143
BELUM DIMAKSIMALKAN: Keberadaan Embung Kali Ujung di Desa Sakra Barat hingga saat ini masih belum dimaksimalkan.

SAKRA BARAT, Warta Rinjani—Banyak spot wisata alternatif yang bisa dikembangkan. Hanya saja, spot-spot tersebut tidak tersentuh secara maksimal.

Sebut saja seperti Bendungan Kali Ujung yang ada di Dusun Bimbi, Desa Sakra Barat, Kecamatan Sakra Barat Lombok Timur. Bendungan yang satu ini dikelilingi sawah-sawah bersusun yang rapi.

“Tempat tersebut memang bagus, seperti tembok besar China,” kata Ketua Pemuda Besile Solah, M. Ruslan, Rabu (13/2).

Dikatakan mirip tembok China lantaran sekeliling bendungan itu dikitari sawah-sawah bersusun. Sementara bendungan itu berada pada cerukan di antara sawah-sawah tersebut.

Selain sawah, embung ini juga diapit dua bukit milik warga setempat. Panorama dari atas bukit ini memperlihatkan pemandangan di lokasi semakin menarik.

Biasanya, pada saat musim kemarau, tempat tersebut bisa menjadi kolam yang eksotis. Air yang ada di dalam bendungan terlihat lebih jernih. Berbeda dengan saat musim hujan, air di bendungan tersebut akan terlihat keruh dan seperti lumpur.

Meski airnya keruh, lanjutnya, tak sedikit anak-anak warga di sekitar itu justru memanfaatkan embung tersebut sebagai lokasi wisata air. Anak-anak warga sekitar ada yang bermain perahu, ada pula yang menggunakan ban karet untuk berenang.

Pemerintah desa (pemdes) setempat mestinya memelihara tempar ini dengan serius. Bentuk keseriusan itu bisa melalui pembentukan kelompok sadar wisata (Pokdarwis). 

Berkaca dari desa lain, bebernya, keberadaan Pokdarwis sangat besar dampaknya bagi pengelolaan lingkungan. Seperti menjadikan bukit sebagi tempat wisata, pengelolaan sawah dan lain sebagainya. 

Di tempat ini, bebernya, biasanya ramai dikunjungi saat sore hari. Para remaja di sekitar tempat itu menjadikan embung tersebut sebagai lokasi swafoto.

Terpisah, Sekretatis Desa Rinsing Raya, Baiq Suriani mengatakan, tempat tersebut memang akan kita jadikan wisata. Namun demikian, rencana itu semua kembali pada kebijakan kepala desa.

Sejauh ini, alih-alih dijadikan sebagai spot wisata, tempat ini justru digunakan sebagai lokasi pembuangan sampah oleh warga. Sampah ini terutama datang dari warga Rensing.
“Karena kondisinya seperti itu, harusnya dicarikan solusi tempat pembuangan sampah yang lain bagi warga,” ucapnya. (cr-pol)

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar