Desa Dasan Lekong dengan Ekobrik yang Menjanjikan

0
229
Sulpi/Warta Rinjani MEMILAH: Salah satu warga Desa Dasan Lekong saat memilah sampah untuk dijadikan ekobrik.

SUKAMULIA, Warta Rinjani—Setelah booming dengan program Bank Sampah tahun kemarin, kini Desa Dasan Lekong Kecamatan Sukamulia melanjutkan program tersebut dengan ekobrik. Program ini merupakan upaya l pemilahan sampah anorganik yang dikelola oleh bank sampah.

Penasihat sekaligus pengelola Bank Sampah Inges, Desa Dasan Lekong, Muhammad Yusuf mengatakan, ekobrik yang dikelola di bank sampah ini sudah berjalan sekitar 8 bulan. Dimana sebelumnya selama 1 tahun dalam tahap sosialisasi kepada masyarakat bagaimana lingkungan bersih dari sampah.

“Sebelumnya ada tahapan sosialisasi mengenai membuang sampah pada tempatnya. Setelah masyarakat sadar tentang sampah, kita lanjutkan ke tahap bagaimana memilah sampah sehingga menjadi sampah yang berguna dan menghasilkan uang,” jelasnya kepada Warta Rinjani, Senin, (10/2).

Setelah pada tahap pemilahan ini, katanya, pihaknya akan memilah sampah itu menjadi dua macam. Yaitu jenis sampah organik dan anorganik.

Baca Juga  Pemprov NTB Luruskan Beda TV Digital dan Analog Pada Masyarakat

“Yang termasuk sampah anorganik seperti kabel plastik dan jenis plastik lainnya. Sampah organik seperti hasil dapur rumah tangga misalnya sayuran yang dibuang,” katanya.

Sejauh ini, jelasnya, sampah anorganik yang dikelola sebagai bahan ekobrik. Ekobrik ini didapatkan dari masyarakat dengan membeli. Selain membeli pada masyarakat, pihaknya juga membeli bahan ekobrik tersebut di setiap Posyandu.

Setelah bahan ekobrik terkumpul, terangnya, Bank Sampah di desa itu kemudian menjadikannya menjadi barang bernilai ekonomis seperti meja dan kursi.

Sementara itu, Kepala Desa Dasan Lekong Lalu Rajabul Akbar mengungkapkan, lewat adanya bank sampah paling tidak ada upaya pemilahan sampah itu sendiri.

Baca Juga  IKLAN

“Sampah di sini kita pilah dan itu kita beli dari masyarakat. Saat ini sampah anorganik yang berjenis dari plastik saja dan harga per kilonya Rp 3 ribu, sedangkan sampah organiknya kita buang ke TPA,” ungkapnya.

Advertisements

Masih katanya, pada tahun 2020 ini pihaknya akan anggarkan dana sebesar Rp 30 juta. Anggaran sebanyak itu khusus untuk mesin pengolah pakan ternak. Sementara hasil penjualan ekobrik untuk membuat unit bank sampah di setiap dusun. Ini dilakukan karena saat ini masih terfokus dikelola di bank sampah desa dan juga akan membeli mesin pengolah pakan ternak dari sampah organik.

“Dengan dana itu kita akan gunakan untuk pengadaan mesin pengolah pakan ternak dari sampah organik. Selain itu, sebagian dana untuk mendukung keberhasilan operasional bank sampah agar semakin maksimal,” tegasnya. (cr-sul)

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar