Industri Rumahan Kesulitan Pangsa Pasar

0
164

SAKRA, Warta Rinjani – Tidak banyak usaha rumahan yang mampu menyerap tenaga kerja. Hanya saja, kendalanya selalu dalam urusan pangsa pasar.

Di Desa Rumbuk, Kecamatan Sakra, Lombok Timur misalnya. Ada sejumlah industri rumahan yang diinisiasi warga. Salah satunya adalah produk yang terbuat dari kulit hewan. 

“Semua produk saya di sini berbahan dasar kulit hewan,” kata salah seorang pelaku insutri rumhan, Humaidi, kepada Warta Rinjani, Rabu (29/1).

Dari usaha yang digelutinya itu, ia bisa menghasilkan produk berupa tas, dompet, jaket, ikat pinggang, dan gelang berbahan kulit. Namun demikian, semua produk yang dihasilkan masih terkendala dengan pangsa pasar.

Ia menyebutkan, untuk mendapatkan bahan ini ia memesan dari Bali. Usaha rumahan ini ditekuninya sudah hampir tiga tahun lalu. 

Dari sejumlah produk yang dihasilkan dipastikan tidak kalah saing dari sisi kualitas. Bahkan, tak jarang produk-produk terkemuka disebutnya kalah dari sisi kualitas dibanding barang yang diproduksinya.

Baca Juga  Curanmor Modus Tebus Lagi Marak di Lotim, 7 Pelaku Diamankan

Demi meyakinkan kualitas produknya lebih tahan lama, tak jarang Humaidi menerima layanan servis perbaikan produk-produk terkenal. Dari pengalamannya itu, produk terkenal itu kerap dianggap menipu konsumen.

“Bayangkan, mereka bilang bahannya dari kulit. Nyatanya bahan barang mereka dari vinil,” ujarnya.

Berkat ilmu yang ia dapatkan selama kerja di sebuah perusahaan selama dua puluh tahun, jelasnya, ia bisa membedakan mana yang berbahan kulit dan vinil. Praktis, tidak jarang orang yang membeli mengeluh ketika bahan tersebut mudah rusak terutama terkelupas. 

Pegiat industri rumahan ini juga membandingkan dari segi harga. Untuk produk yang dihasilkannya, harga buatannya yang berbahan kulit harga jauh lebih murah. Padahal dari sisi kualitas, dianggapnya jauh lebih bagus.

Untuk harga dompet misalnya. Kisaran harga dompet berbahan kulit buatnnya dibandrol dengan haraga Rp. 100 ribu sampai Rp. 300 ribu. Sementara untuk produk terkenal harganya jauh lebih mahal.

Baca Juga  SMSI Temui MPR RI: Soal Penembakan Wartawan, Komnas HAM Perlu Bentuk Tim Pencari Fakta

“Coba saja kalau sudah punya brand, beli di toko satu dompet bisa saja Rp. 300 ribu dan tas Rp. 400 ribu, dan itu tidak berbahan kulit,” ucapnya. 

Senada juga disampaikan Hilmiyati. Pengusaha rumahan yaang satu ini mengatakan jika ia sangat kesulitan memasarkan hasil produknya. Kesulitan yang dialami karena belum adanya brand.

Bahkan, lanjutnya, gara-gara brand ini konsumen nawarnya sangat murah. Demi menyiasati itu, pihaknya mengandalkan barangnya dari mulut ke mulut.

Terpisah, Kepala Desa Rumbuk, Suhirman mengatakan, pihaknya akan membina para pegiat home industri ini melalui BUMDes. Tujuannya agar, produk-produk masyarakat rumbuk ini bisa lebih maju.

“Kemungkinan juga akan kita bantu dalam hal memperluas pangsa pasar,” ucapnya.

Ia mengatakan, komitmen Pemdes Rumbuk akan membuat produk home industri ini dikenal banyak orang. Banyak home industri di Rumbuk tapi belum didukung sejauh ini. (cr-pol)

Berita & Photo : Saipul Yakin/Warta Rinjani
Berita Photo : KALAH SAING: Karena belum adanya brand produk yang diciptakan, para pegiat kerajinan kulit ini kalah saing dengan produk ternama.

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar