Inspiratif..!! Cara Rumbuk Tekan Budaya Konsumtif

0
91

SAKRA, Warta Rinjani—Pemerintah Desa (Pemdes) Rumbuk bekerjasama dengan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Mataram, melakukan gerakan menanam. Gerakan menanam tersebut digalakan lantaran Pemdes melihat masyarakat masih sangat konsumtif terutama yang menyangkut kebutuhan pokok. 

Merespon hal tersebut, Kepala Desa Rumbuk, Suhirman, melakukan gerakan menanam sayur. Gerakan ini diinisiasi lantaran merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat. Gerakan menanam sayur ini juga dinilai sebagai salah satu cara menekan budaya konsumtif

“Gerakan ini untuk menekan budaya konsumtif masyarakat menuju budaya produktif, terutama bagi ibu rumah tangga,” katanya, kepada Warta Rinjani, Senin (27/1).

Gerakan menanam ini fokus utamanya adalah pada tanaman sayur-mayur. Ia melihat sayur-mayur merupakan bahan pokok yang selalu menjadi kebutuhan setiap hari. Jenis sayur-masyur yang ditanam seperti terong, cabe, tomat, dan lain sebagainya.

Kata Suhirman, menanam kebutuhan pokok seperti sayur-mayur akan berdampak ada perubahan budaya konsumtif masyarakat Desa Rumbuk ke budaya produktif. Dengan terciptanya budaya priduktif ini, masyarakat bisa melakukan penghematan belanja.

Ia mencontohkan, untuk membeli kebutuhan pokok berupa sayur-mayur, seminggu butuh Rp 50 ribu. Bahkan jumlah itu disebutnay bisa bertambah sampai Rp 100 ribu.

Dengan menanam sendiri menurutnya, bisa menghemat keuangan. Yakni bisa menabung untuk anak sekolah. Selain itu bisa menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat. Dampak lainnya adalah terciptanya budaya hidup sehat bagi masyarakat.

Baca Juga  Warga Kembang Kerang Daya Terima Bantuan Mahyan dan Jamban Keluarga

“Dengan menanam memanfaatkan pekarangan bisa membuat sirkulasi udara di rumah menjadi lebih sehat juga,” tegasnya.

Dikatakannya, dengan menanam sayur mayur, menurutnya, ibu rumah tangga menjadi tidak konsumtif lagi. Namun begitu, ia mengakui bahwa sulit untuk merubah pola pikir tersebut. Sehingga, gerakan menanam ini diniisiasi melalui PKK Pemdes Rumbuk.

Lewat lembaga ini, jelasnya, pihaknya ingin memberikan contoh kepada masyarakat dengan menanam sendiri bisa mendapatkan banyak keuntungan. Ia mengatakan, budaya masyarakat saat ini masih memiliki budaya ikut-ikutan. 

Ia menyebutkan, sebenarnya penduduk Desa Rumbuk 70 persen berprofesi sebagai petani. Namun ia belum melihat ada yang berpikir keluar dari kebiasaan selama ini.

Petani menurutnya, masih memenanam tanaman yang sifatnya musiman. Sehingga, ketika panen wajar saja harga hasil pertanian terbilang murah. 

Namun, paparnya, menanam sayur-mayur itu tidak harus di lahan yang luas. Halaman rumah saja bisa dimanfaatkan.  Pemanfaatan lahan pekarangan rumah bisa melalui pola tanam pertanian hidroponik atau bisa dengan menggunkanan polibak serta memanfaatkan botol-botol bekas. 

“Kalau dengan pola itu, kan bisa memanfaatkan tembok rumah. Rumah kita akan tetlihat lebih asri,” katanya. 

Baca Juga  Kerap Beraksi di Lotim, Dua Pelaku Spesialis Jambret Diringkus

Dikatakannya, dari segi perawatan juga sangat mudah. Tidak perlu juga mengeluarkan biaya yang begitu banyak. Sayur  yang dihasilkan juga tanpa pestisida, sehingga mengkonsumsinya semakin baik untuk kesehatan. 

Selanjutnya, Ketua PKK Desa Rumbuk, Suyati mengatakan, gerakan ini selain menekan angka konsumsi, juga  untuk ketahanan pangan bagi masyarakat. Ia mengatakan, setiap akhir tahun dan awal tahun pasti harga bahan pokok terutama kebutuhan rumah tangga naik. Kenaikan tersebut seringkali menjadi keluhan setiap masyarakat. 

Untuk memulai gerakan ini, Pemdes melalui PKK meminta bantuan bibit dan pupuk organik ke Dinas terkait. 

“Padahal kalau dilihat, bahan pokok ini selalu dimintai oleh pasar,” ucapnya. 

Suyati memaparkan, berkat pengalamannya 5 tahun di Jepang, ia melihat orang-orang di sana selalu menanam sayur memanfaatkan pekarangan rumah. Selain itu, udara di rumah juga semakin bagus.

Ia mengatakan, di Jepang rata-rata konsumsi sayur yang ditanam sendiri. Sementara jika ke supermarket paling beli ikan, daging dn lainnya.

Ia juga menagtakan, wajar di negara Jepang itu jarang yang mengalami stres. Mengingat penduduknya menikmati sekali proses penanam sampai dengan metik hasil.

“Masyarakat itu hanya perlu contoh, melalui Pemdes ini kita berikan contoh menanam sayur memanfaatkan halaman Kantor Desa Rumbuk, sehingga begitu masuk lihat tanaman ini bisa jadi contoh di masyarakat,” ucapnya. (cr-pol) 

Berita dan Photo : Saipul Yakin/Warta Rinjani
Berita Photo : “TANAM SAYUR” Pemdes Desa Rumbuk menggalakan gerakan menanam sayur untuk memanfaatkan pekarangan rumah dan kantor.

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar