Jagung Hibrida HKTI-1, Industrialisasi Pertanian

0
60

WARTA RINJANI–Industrialisasi pertanian salah satunya  akan menjawab persoalan petani dan pemerintah daerah dalam upaya meningkatkan hasil produktivitas jagung di NTB.

Launching benih jagung Hibrida HKTI-1 sekaligus menandai kesepakatan kerjasama antara DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) NTB bersama  PT Shriram Seed Indonesia yang disaksikan langsung oleh Ketua DPN HKTI Jendral Purn. Moeldoko di Kota Mataram, Sabtu, (30/11).

Ketua Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Jendral Purn. Moeldoko yang juga kepala staf kepresidenan RI itu menegaskan bahwa produktivitas jagung di NTB diharapkan mampu membawa perubahan di sektor pertanian. Sektor ini diharap dapat menambah nilai ekspor.

“Hasil uji coba seluas 6 hektar di Pulau Sumbawa memperoleh hasil maksimal. Sehingga HKTI-1 ini diharapkan dapat dikembangkan menjadi benih unggulan untuk penanaman selanjutnya,” kata Moeldoko.

Baca Juga  Telkom Indonesia Targetkan Pemasangan Fiber Optik di Mandalika Tuntas September 2021

Keberhasilan mengembangkan industrialisasi jagung dinilai Moeldoko, sebagai salah satu wujud partisipasi pemerintah dalam mensejahterakan masyarakat petani.

Harapan yang sama juga dikatakan Ketua DPP HKTI NTB, H. Rumaksi.

Selama ini, nasib petani disebutnya selalu dimarginalkan. Bahkan, tidak sedikit diantaranya petani dijadikan komoditas politik oleh pihak-pihak tertentu. Nyatanya, kesejahteraan petani tidak lebih baik.

“Janji untuk mensejahterakan petani hanya pada saat Pemilu. Setelah itu, janji tinggal janji,” ujar H Rumaksi yang juga Wakil Bupati Lombok Timur itu.

Faktanya, petani hanya dijadikan obyek untuk meraup suara para pelaku politik. Tanpa mempedulikan tingkat kesejahteraan mereka (petani) yang pada akhirnya menjadi korban kebijakan politik.

Baca Juga  Selain Somasi, ASITA Lotim Minta Rekrutmen BPPD Lotim, Diulang

Untuk itu, kata Rumaksi, kerjasama dengan PT Shriram Seed ini diharapkan mampu menjawab persoalan yang dihadapi petani. Kerjasama HKTI NTB dan PT Shriram Seed Indonesia, karena perusahaan tersebut bersedia mentransfer teknologi pada perusahaan yang ditunjuk HKTI nantinya.

Rumaksi juga menyoroti banyaknya beredar benih palsu yang dibeli petani. Akibatnya tidak jarang kondisi ini justru merugikan petani. Salah bentuk kerugian yang dialami yakni produktivitas pertanian yang diharapkan tidak sesuai harapan.

“Dampaknya akan mengganggu hasil pertanian petani. Bahkan menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi petani khususnya di NTB . Oknum-oknum yang menjual benih palsu seperti itu harus ditindak tegas,” ujarnya.

Dalam penandatanganan kesepakatan itu disaksikan pula Gubernur NTB, Dr. Zulkifliemansyah bersama OPD dan petani penerima bantuan bibit jagung HKTI-1. (WR2)

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar