Kekurangan Air Ganggu Aktivitas Ponpes Miftahul Faizin

0
369

SUELA, Warta Rinjani—Pondok pesantren (Ponpes) Miftahul Faizin NW Desa Ketangga, Kecamatan Suela Lombok Timur (Lotim) tercatat sebagai salah satu pesantren yang cukup tua di daerah ini. Namun demikian, keberadaan ponpes relatif jarang diketahui masyarakat. 

Berdiri di areal seluas 3200 meter persegi, Ponpes ini didirikan pada tahun 1962. Pendirinya adalah TGH Muhibbin asal Desa Dasan Lekong, Kecamatan Sukamulia.

“Mengawali aktivitas di pesantren ini, dulu pendirinya mendirikan Pendidikan Guru Agama (PGA). Belakangan kemudian dijadikan ponpes pada tahun 1980,” ujar Ketua Yayasan Pondok Pesantren  Miftahul Faizin NW, Hasbullah, kepada Warta Rinjani, belum lama ini.

Dalam proses pendiriannya menjadi ponpes, sosok yang berjasa membesut kelahiran ponpes ini menemui jalan yang tak mudah. Selalu ada aral lintang yang menghambat perjalanannya.

Dulu di awal pendirian ponpes ini, pengelola dan santri yang ada tidak pernah mengalami kesulitan air bersih. Ketersediaan air minum dan untuk keperluan mandi selalu ada.

Sayangnya dalam perjalanan beberapa tahun belakangan ini, kondisi tak lagi sama. Di ponpes ini, baik pengelola dan santri sangat merasakan kesulitan dengan kebutuhan air bersih.

Baca Juga  Lima Pelaku Kepemilikan Sabu Diringkus Satresnarkoba Lotim

Ponpes yang kini memiliki 720 santri ini harus dihadapkan pada kenyataan menyakitkan. Kurangnya debit air kerap kali mengganggu aktivitas bersama santri.

Tak sungkan Hasbullah menuturkan, keberadaan ponpes yang jauh dari mata air kini menjadi persoalan serius. Kondisinya diperparah lagi aliran air yang masuk melalui pipa PDAM dibayar dengan angka yang fantastis setiap bulannya.

Namun begitu pasokan air yang diharapkan hanya datang pada malam hari. Padahal, air itu dibutuhkan terutama saa siang hari. Tak jarang, ia tidak mendapatkan air sama sekali dari aliran pipa PDAM. Namun begitu ia tetap saja membayar air hingga Rp 700 ribu per bulan.

Demji menghemat pengeluaran biaya air PDAM, pihak ponpes mengalirkan air irigasi persawahan ke areal ponpes. Ini dilakukan untuk mengimbangi biaya pasokan air bersih untuk santri.

Karena itu, ia berharap ada perhatian dari pemerintah daerah terhadap problema yang dihadapi saat ini.

“Areal kita jauh dari mata air, sehingga kita mengharapkan dari PDAM. Sayangnya debit airnya pun tidak banyak. Tak jarang kita menerima angin saja padahal kita tetap bayar mahal,” tegasnya.

Baca Juga  Pemprov NTB Tuai Pujian Konsil Kedokteran Indonesia

Seperti halnya ponpes yang lain, pondok pesantren Miftahul Faizin memiliki target yang luar biasa. Ada program yang berbeda dengan yang lainnya di ponpes ini. Yaitu santrinya harus menguasai kitab kuning, dari membaca hingga mengamalkannya. Tujuannya untuk mencetak santri yang siap dilepas secara keilmuan.

Tidak sampai di sana, Hasbullah melakukan inovasi mengikuti perkembangan zaman untuk ponpes yang dipimpinnya. Ia mengadakan program karantina guna melatih kemampuan bahasa Inggris para santri.

Program yang dijalankan ini, terangnya, untuk melepas kecemasannya terhadap masa depan santrinya di masa mendatang. Terlebih saat ini, Ponpes tersebut sudah memiliki tiga satuan pendidikan. Yakni, MI, MTs dan MA.

Di tengah kesulitan air yang dihadapi, Ponpes ini pernah mengukir sejumlah prestasi. Hanya saja, prestasi tersebut masih sebatas tingkat kabupaten.

Hasbullah menuturkan, beberapa event kabupaten dan provinsi mampu dijuarai santrinya. Antara lain, juara 2 lomba Pramuka tingkat kabupaten dan juara 1 drumband tingkat kabupaten.

“Di sini para santri-santriwati harus bisa membaca kitab kuning serta mengamalkannya. Selain menghafal Alqur’an, santri-santriwati juga kita karantina bahasa Inggris selama 2 bulan,” jelasnya.

Hal ini, demi masa depan santri-santriwati mengingat perkembangan zaman yang begitu pesatnya. (cr-hen)

Hendri Setiawan/Warta Rinjani

KESULITAN AIR: Keberadaan Ponpes Miftahul Faizin di Desa Ketangga berdiri megah, tapi hingga kini masih esulitan air bersih.

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar