Kemiskinan Inaq Ajar Tersandera Adminduk

0
454

SURALAGA, Warta Rinjani—Gerimis sudah mulai turun. Langit yang diselimuti awan tebal sepertinya mengisyaratkan akan turunnya hujan.

Wajah cemas Inaq Ajar kontan tak bisa disembunyikan. Badannya yang tua nan ringkih tegesa-gesa memperbaiki sejumlah perabot di dalam bedeg reot yang ditempatinya. Beberapa baskom dan ember lain yang bisa dijadikan sebagai wadah penampung air hujan segera dijejerkan.

Petir yang sesekali waktu sahut menyahut semakin membuat risau perempuan 62 tahun tersebut. Kerisauannya dapat dipahami lantaran di gubuk yang didiaminya itu ditinggali seorang diri. Belum lagi kecemasannya lantaran atap gubuknya sudah mulai banyak berlobang dan akan digenangi air hujan.

Rupanya Minggu siang (9/2) kemarin, rasa lapar yang membekap perempuan tua yang hidup sebatang kara ini mampu dilupakan karena hujan yang segera turun. Ia harus melupakan rasa laparnya lantaran tak ingin gubuk yang ditempatinya akan tergenang.

Kepada Warta Rinjani, Inaq ajar bertutur panjang lebar tentang kisah perjalanan hidupnya. Ia tinggal di gubuk tersebut terhitung 16 tahun lalu.

Kala itu, ia masih memiliki seorang putri. Namun selepas ditinggal menikah, Inaq ajar hanya tinggal berdua dengan sang suami, Sapardi.

Perjalanan takdir rupanya memaksa merenggut kebersamaan pasutri ini. Berselang sekitar 7 tahun kemudian, Sapardi, sang suami pergi untuk selamanya. Suaminya mati.

Baca Juga  Pemerintah Lebih Lalai Bayar Pajak Ketimbang Masyarakat

“Sejak 9 tahun lalu saya akhirnya hidup sendiri selepas suami saya meninggal,” tuturnya pilu perempuan yang kini tinggal di Dusun Anjani Selatan, Desa Anjani Kecamatan Suralaga Lombok Timur ini.

Anaknya Yuni, yang telah menikah ke Getap, Aikmel tak setiap hari melihat keadaannya. Kondisinya yang tua dan miskin seolah melengkapi penderitaannya.

Kondisi Inaq Ajar yang buta huruf dan tidak pernah mengenyam pendidikan ini kian memperburuk keadaan. Betapa tidak, administrasi kependudukan seperti kepemilikan Kartu Keluarga (KK) dan KTP tidak dimilikinya. Tak heran jika setiap kali ada bantuan dari pemerintah, Inaq Ajar selalu terlewatkan.

“Setiap hari saya selalu cemas dengan kondisi seperti ini. Bila hujan turun pasti air masuk ke rumah dan menggenangi sekitarnya. Selama ini saya belum dapat bantuan apa-apa, apalagi bantuan jompo tidak pernah,” keluhnya.

Dulu katanya lagi, pernah difoto dan dicatat untuk dapat rumah bedah. Namun itu hanya cerita yang tak pernah ada realisasinya.

Karena bosan dijanjikan, semangat perempuan ini kian pupus. Alih-alih memperjuangkan diri, ia justru memilih menabahkan hati dengan kondisi yang dijalaninya.

Sementara itu, Kaur Keuangan merangkap Bendahara Desa Anjani, Sabrun Ma’as SH mengatakan, pihaknya akan lebih dulu melihat kondisi perempuan tua tersebut. Pihaknya akan memperjuangkan yang bersangkutan mendapat program Rumah Tinggal Layak Huni (RTLH).

Baca Juga  Pemkab Lotim Beri Perhatian Kepada Honda Karena Dinilai Rentan

“Kebetulan tiap tahun kita mendapat jatah RTLH, tapi kita lihat dulu datanya,” ucapnya.

Sejauh ini, terangnya, pihaknya belum menerima data warga yang berhak menerima program itu. Untuk lebih jelasnya, ia akan menanyakan hal tersebut kepada kepal dan sekretaris desa.

Sekretaris Desa, Abdul Hakim mengatakan, Inaq Ajar sejak dulu sampai sekarang tidak bisa mendapat bantuan lantaran masalah Adminduk. Pihaknya mengaku tidak bisa berbuat banyak. Hanya saja, ia memastikan akan memperjuangkan perempuan ini mendapat bantuan pada 2020 melalui anggaran dana desa.

“Dia tidak dapat bantuan karena desa selama ini tidak bisa berbuat dengan aturan bahwa yang bisa dapat bantuan harus dia mempunyai KTP dan KK dan pada tahun 2020 ini kita upayakan ibu ini dapat RTLH,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Sosial Kabupaten Lombok Timur, H Ahmad SKm kala mengunjungi perempuan ini meminta pihak desa tidak membiarkan kondisi Inaq Ajar berlarut-larut. Harus ada inisiatif dari desa untuk mengurus warganya.

“Pihak desa harus melaporkan masalah seperti ini agar kita di kabupaten tahu kondisi masyarakat. Apalagi Inaq Ajar ini ingin bantuan sehari -hari dan ingin dapat bantuan rumah yang layak,” kesalnya.

Geram dengan lambannya sikap desa mengatasi persoalan warga, Ahmad meminta agar pemdes setempat tidak hanya berpikir soal hanya bangun kantor dan infrastruktur, tapi di lain sisi membiarkan warganya tidak terurus. (cr-sul)

Sulpi/Warta Rinjani

GUBUK DERITA: Inaq Ajar dari tahun ke tahun terus menabahkan diri meninggal gubuk derita yang ditempatinya lantaran tak kunjung ada bantuan.

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar