Kiprah Abdul Kadir, dari Perantau Hingga Pegiat Sosial

0
141

MONTONG GADING, Warta Rinjani – Kisah perjalanan inspiratif dari Abdul Kadir patut diteladani. Liku-liku perjalanan hidupnya yang menanjak dan penuh cobaan tak membuat pemuda 32 tahun ini pasrah pada takdir.

Dibelit kehidupan ekonomi yang sulit adalah serpihan-serpihan penting dalam perjalanan pria 32 tahun ini. Betapa tidak, pria yang tinggal di Dusun Penyangkar, Desa Peringga Jurang Utara, Kecamatan Montong Gading menghabiskan sebagian masa mudanya di rantauan.

“Saya bekerja di Bali dan menjadi buruh serabutan alias pekerja kasar,” tuturnya kepada Warta Rinjani, belum lama ini.

Hidup di rantauan dan menjadi pekerja kasar, jelasnya, tentu berdampak pada penghasilan. Selama bekerja di Bali, Kadir (panggilan akrabnya) hidup dari pendapatan yang tak tentu jumlahnya.

Dari waktu ke waktu, kondisi ini terus konstan dan seakan tidak ada perubahan. Di tengah situasi pelik nan sulit itu, Kadir mencoba bertahan dan berusaha merubah keadaan.

Hanya saja, sekuat apapun Kadir berusaha bertahan, tapi Tuhan berkendak lain. Pendapatan yang tak menentu itu rupanya sukses membuat dirinya terusir dari Pulau Bali. Ia tidak tahan dengan kondisi perekonomian yang tak kunjung berubah.

“Akhirnya saya pulang kembali ke Lombok. Saya tidak tahan karena tidak ada bayangan masa depan yang jelas akan berubah,” ucapnya.

Sayangnya, pengalaman pelik yang dialami pria ini luput menceritakan waktu kejadian tersebut. Selama bercerita, ia tidak sedikit pun menyinggungnya.

Baca Juga  Lima Pelaku Kepemilikan Sabu Diringkus Satresnarkoba Lotim

Alih-alih bercerita tentang kapan kejadian itu, Kadir justru menceritakan pasca kepulangannya ke desa kelahirannya. Di Dusun Penyangkar, Desa Peringga Jurang Utara, sosok ini justru kembali menjadi pengangguran.

Tak ingin membiarkan kondisi itu berlarut, ia lantas membuka Taman Pendidikan Quran (TPQ). Belakangan, TPQ ini dinamakan Hidayatul Islam.

Singkat cerita, sejak merintis TPQ inilah perubahan nasib mulai dialami Kadir. Rezeki tak terduga senantiasa ada saja yang datang menghampiri dirinya.

“Kalau Allah Swt sudah berkehendak, pasti kita dibukakan jalan,” ucapnya.

Sadar akan keadaan ekonominya mulai membaik, Kadir pun mematapkan diri untuk “mewakafkan” diri untuk masyarakat banyak. Di TPQ ini, ia mengajar mengaji, tajwid, fiqih serta ilmu-ilmu agama lainnya.

Beriringan dengan itu, Kadir pun membuka bengkel las. Keterampilannya mengelas didapat secara otodidak. Keterampilan ini dipelajari dari seorang temannya.

“Saat saya melihat teman itu bekerja, saya perhatikan dan sering saya praktikan. Alhamdulillah, saya mulai bisa,” ucapnya.

Sejak saat itu, tuturnya, order untuk membuat terali jendela, pintu gerbang dan lain sebagainya mulai berdatangan. Ia pun kian menekuni pekerjaan barunya tersebut.

Sebagai balas syukur atas rezeki yang semakin lancar, Kadir menyadari tanggung jawab sosialnya terhadap sekeliling semakin besar. Ia bertekad bisa membantu masyarakat lebih banyak lagi dengan kemampuan yang ia miliki.

Baca Juga  Mulai Hari Ini, Pelabuhan Poto Tano – Kayangan Resmi Menggunakan Kartu Elektronik

Kebetulan di dusun tempat tinggalnya, banyak warga yang berprofesi sebagai peternak sapi. Dari sini, ia berpikir keras agar masyarakat setempat bisa terbantu dengan kemampuannya.

Singkat cerita, lahir lah dari idenya untuk membuat mesin pencacah rumput. Mesin ini diniatkan bagi para peternak sapi di dusun tersebut. Mesin ini diciptakan lantaran seringkali para peternak kehabisan waktu memotong pakan ternaknya.

“Kalau mereka menghabiskan waktu untuk memotong pakan seperti jerami dan batang pisang, maka itu tidak efisien. Para peternak ini harus menghemat waktu agar bisa mengurus yang lain,” ucapnya.

Mesin pencacah rumput yang dibuatnya ini terinspirasi ketika melihat parut kelapa. Mesin tersebut banyakdijual dan sangat membantu masyarakat.

Dari pikiran itu, jelasnya, terbersit pikiran membuat mesin pencacah rumput. Ia pun lantas coba-coba merakit dan hasilnya sukses.

“Dengan adanya mesin pencacah rumput yang kita buat ini, bisa bermanfaat bagi masyarakat. Kelebihannya bisa mencacah rumput menjadi lebih kecil sehingga sapi tideak lelah mengunyah pakannya,” jelasnya.

Kelebihan lainnya juga yakni, dengan adanya mesin ini rumput tidak banyak dibuang terutama batangnya saat dikonsumsi oleh ternak.

Ditambahkan, dengan inovasi ini diharapkan para peternak ada yang akan memesan. Selain itu, pemerintah desa diharap juga memberikan dukung moral dan materil dalam mengembangkan inovasinya tersebut.

“Itu harapan kita. Karena sektor peternakan di tempat ini bisa menjadi andalan jiak dikembangkan,” tegasnya. (cr-sul)

Berita dan Photo : Sulpi/Warta Rinjani
Berita Photo : “INOVATIF” Berangkat dari tukang las, Abdul Kadir sukses merintis teknologi tepat guna (TTG) berupa mesin pencacah rumput.

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar