Masjid di Dalam Masjid, Bukti Syiar Islam di Gumi Sasak

0
291

LAPORAN UTAMA – PULAU Lombok atau Gumi Sasak tidak hanya dikenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid. Namun, pulau ini juga menyimpan sejarah bagaimana Islam berkembang dari masa ke masa. Baik pada masa Kerajaan Bali di Lombok ataupun pada masa penjajahan Hindia Belanda.

Dari banyak masjid yang ada di Pulau Lombok, Masjid Kotaraja, Kecamatan Sikur Lombok Timur (Lotim) terbilang cukup unik. Di dalam masjid induk masih ada masjid lagi.

Disebut demikian, bangunan masjid tersebut memiliki dua bangunan. Pertama adalah bangunan kayu yang merupakan banguna asli atau bangunan induk. Sementara di luarnya adalah bangunan  batu-bata permanen dan bagian dari bangunan pengembangan mesjid.

Mesjid di Desa Kotaraja ini bernama Masjid Raudatul Muttaqin yang berarti Taman Surga. Maaasjid ini dinamakan begitu dengan harapan menjadi doa bagi orang lurus atau yang berbuat baik.

Oleh pemerintah, masjid ini ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya nasional di Pulau Lombok. Masjid ini dapat ditempuh dengan waktu, 35 menit perjalanan dari Bandara Internasional Lombok (BIL) untuk waktu normal (tidak ada kemacetan).

Dalam sejarah berdirinya masjid ini tak bisa dilepaskan dari sejarah sebuah desa bernama Kotaraja. Pada awalnya, bangunan induk masjid itu tidak berdiri di Desa Kotaraja, tapi di Loyok.

“Bangunan induk di dalam masjid awalnya berdiri di Loyok,” kata Imam Besar Masjid Raudhatul Muttaqin, H Lalu Muhammad Irvan, kepada Warta Rinjani, Kamis (30/1).

Sebelum masjid tersebut dipindahkan ke Kotaraja, tuturnya, dua petinggi bersaudara daerah Loyok ketika itu, masing-masing Raden Suta Negara dan Raden Lung Negara menmggelar sangkep beleq atau musyawarah dengan masyarakat. Kedua tokoh ini disebutnya keturunan langsung dari Datu Mas Panji Anom, Datu Selaparang di Pulau Lombok.

Baca Juga  Pemohon SIM di Satlantas Lotim Bisa Dapatkan Vaksinasi Secara Gratis

Datu Selaparang memiliki putra bernama, Raden Panji Tilar Negara, dan cucu dari Raden Panji Tilar Negara dikenal dengan sebutan Prabu Langko. Dari Prabu Langko inilah memilki keturunan Raden Sutanegara dan Raden Lungnegara. 

Dalam musyawarah besar itu, kisahnya, Sutanegara dan Lungnegara melihat daerah Loyok saat itu bukan sebagai tempat strategis lagi. Dari pertimbangan itu, kedua tokoh tersebut berinisiatif mengajak masyarakatdi Loyok mencari daerah baru.

Saat itu, yang menjadi pertimbangan berikutnya untuk pindah yakni karena mulai munculnya pengaruh Kerajaan Karang Asem Bali di Lombok. Praktis, dari sisi pertahanan dan keamanan pemukiman masyarakat ketika itu, perlu dipikirkan. 

Singkat cerita, tidak jauh dari Loyok, dalam proses pencarian daerah baru didapatkan sebuah daerah yang sesuai dengan harapan. Baik dari kondisi tanah yang lapang, subur serta strategis.

Di sebut strategis, tidak hanya tempat itu mudah dijangkau dari semua jurusan tapi harus mampu sebagai daerah pertahanan yang baik dari serangan musuh. Tempat itu diberi nama Kutereje.

Dalam bahasa sanskerta, Kute artinya tanah dan Reje artinya subur atau baik. Belakangan dalam perkembangannya Kutereje lebih dikenal dengan sebutan Kotaraja.

Kutereje atau Kotaraja, menurut H L Ridwan BA, tokoh adat Lombok Timur, sangat memenuhi syarat sebagai daerah pemukiman baru. Ini karena daerah itu dikelilingi oleh empat penjuru pertemuan dua aliran sungai. Daerah seperti ini dalam bahasa Sasak biasa disebut dengan ketemuk.

Disebutkan dalam sejarah Kotaraja dulu, keempat ketemuk itu masing-masing ada Ketemuk Pengapit, Ketemuk Bangka, Ketemuk Joben dan Ketemuk Otak Bangket. Setelah dirasakan tepat sebagai tempat pemukiman yang baik,  maka mesjid itupun lalu dibongkar dan dipindahkan pada tahun 1111 Hijriyah atau sekitar tahun 1690 Masehi.

Baca Juga  Pemprov NTB Ajak Masyarakat dan Influencer Dukung Sulis di LIDA 2021

Disebutkan, dalam pemindahan meajid tersebut ke Kotaraja, beberapa bagiannya seperti tiang ikut dibongkar. Namun bagian atap traktak kedua dan ketiga mesjid  digotong dengan gotong royong.

Masjid induk di Kotaraja ini bangunannya berukuran 15×15 meter. Bentuk bangunannya mirip dengan sejumlah masjid di Pulau Jawa, seperti mesjid Demak dalam  arsitekturnya.

Jumlah tiang soko gurunya sebanyak empat buah dengan panjang sembilan meter. Tiang-tiang ini langsung berhubungan dengan traktak kedua. Sementara tiang penyangga berjumlah 20 buah.

Di bagian mimbar terbagi menjadi dua ruangan, ruangan untuk imam dan khotib. Di mana tempat duduk khotib terbuat dari tanah yang telah dilapisi dengan keramik.

Pada bagian mimbar dan bagian atas pintu dan jendela bertuliskan huruf Alquran dengan kandungan arti yang sangat luas. Di bagian puncak traktak ketiga, terdapat penutup atau dilambangkan sebagai sebuah  mahkota.

Mahkota masjid tersebut terbuat dari tanah liat terbaik ketika itu. Kini mahkota itu memilki usia yang sama dengan usia masjid.

Menurut Lalu Irvan, tiang soko guru masjid tersebut terbuat dari kayu nangka dengan usia ratusan tahun. Di masjid ini ikut pula dipindahkan sebuah  bedug penanda datangnya waktu. Bedug ini memilki usia yang hampir sama dengan usia masjid dan terbuat dari kayu tenggaseng.

Meski dikenal dalam sejarah masjid  Raudhatul Muttaqin, sepeninggal dua tokoh bersaudara itu bukanlah dimakamkan di depan masjid. Namun kembali di desa awalnya di Loyok. Lokasi pemakaman itu sekarang dikenal dengan  Makam Selaparang Dua. Sementara Makam Selaparang Satu terletak di Kampung Presak, Desa Selaparang, Kecamatan Swela, Lombok Timur dimana Datu Selaparang dimakamkan. (dy)

Berita & Photo : Suhaidi/Warta Rinjani
Berita Photo : “SAKSI SEJARAH” Masjid Raudhatul Muttaqin di Desa Kotaraja sebagai salah satu sejarah syiar Islam di Pulau Lombok.

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar