Melihat Lebih Dekat Desa Songak

0
308

SAKRA, Warta RinjaniKANVAS sejarah Desa Songak masih terbentang dengan goresan-goresan yang jelas. Desa yang secara administratif bergabung di Kecamatan Sakra Lombok Timur ini terbilang sebagai desa yang cukup tua.

Jauh sebelum republik ini merdeka dari cengkeraman penjajahan kolonial, desa ini sudah berdiri. Sebelum ditetapkan sebagai bagian dari Desa Keselet, Songak merupakan desa yang berdiri sendiri.

Kala itu, sekitar tahun 1850-an, desa yang kini dengan luas wilayah 156,01 hektar ini dipimpin seorang tokoh terkemuka dengan nama Guru Mintar.

Salah satu tokoh Songak, Murdiyah mengatakan, kepempinan di Desa Songak dimulai dari Guru Mintar. Ia adalah seorang tokoh agama yang dijadikan panutan oleh masyarakat setempat.

“Guru Mintar dalam catatan sejarah di Desa Songak memimpin dari 1850 sampai dengan 1970,” ucapnya kepada Warta Rinjani.

Selepas Guru Mintar menjabat sebagai pimpinan, maka penggantinya yang memimpin desa itu diberikan sebutan jero. Jero sendiri adalah jabatan yang setara dengan seorang kepala desa pada saat ini. 

Jeru pertama di pimpinan Jero Aca pada tahun 1870 sampai dengan 1885. Sosok ini digantikan oleh Jero Sinom 1885 sampai dengan 1900. Berikutnya, Jero Kertasih 1900 sampai dengan 1930, Jeru Satra (Papuq Satra) 1946 sampai dengan 1960. Setelah itu Jeru Satra (Papuq Bireng) 1930 sampai dengan 1946.

Baru kemudian setelah itu, kata Murdiyah, Desa Songak pada tahun 1975 digabung menjadi Desa Keselet. Sejak itu pula sejarah Desa Songak seperti ditelan bumi dan seakan kabur. 

Baca Juga  Wagub NTB Minta Dukungan Akademisi Sukseskan Revitalisasi Posyandu

Dalam perkembangan kekinian, Desa Songak memiliki tiga kekadusan yang dipimpin oleh kepala wilayah. Yakni Songak Timur, Songak Selatan, dan Songak Utara. Dari semua wilayah itu terbagi menjadi 21 rukun tangga (RT).

“Barulah pada tahun 2010 bisa dimekarkan lagi menjadi Desa Songak. Setelah mekar, Desa Songak dipimpin oleh dua kepala desa, yakni H. Khairuddin pada tahun 2012 sampai dengan 2017 dan digantikan oleh Pihirruddin dari tahun 2017 sampai dengan sekarang,” ucapnya. 

Terpisah, Sekretaris Desa Songak, Fikrul Hidayat menjelaskan, perkembangan Desa Songak sangat pesat dari segi pembangunan. Dari data pemdes setempat, desa ini memiliki luas tanah sawah 37,43 hektare,  dan tanah perkebunan 11,87 hektar.

“Songak kalau dilihat dari sejarah sudah jauh berkembang,” katanya. 

Ia mengatakan, sekarang Desa Songak memiliki jumlah Kepala Keluarga (KK), 1.423 KK. dengan jumlah penduduk laki-laki 2088 jiwa dan perempuan 2.333 jiwa jadi total ada 4.421 jiwa. 

Dengan begitu, kepadatan penduduk di Desa Songak mencapai 12,945 per Km. Mata pencaharian di Desa Songak sendiri tergolong heterogen. Yakni dari petani 15 persen, pengusaha kecil dan menengah 10 persen, wiraswasta 20 persen, buruh 20 persen, PNS 0,1 persen dan lain sebagainya. 

Dikatakan Fikrul, dengan begitu Desa Songak termasuk dalam salah satu desa berkembang. Pesatnya perkembangan desa ini disinyalir penyebabnya karena jarak tempuh desa ke kota tidak terlalu jauh. 

Baca Juga  Pemprov NTB Siap Sukseskan Migrasi TV Analog ke TV Digital

Ia mengatakan, selain itu Desa Songak memiliki potensi yang bisa dimanfaatkan sebagai penambah Pendapatan Asli Desa (PADes). Salah satunya adalah memiliki kesejarahan yang kuat.

“Keberadaan masjid tua Songak ini saya rasa menjadi bagian dari itu,” ucapnya.

Dari segi kesejarahan misalnya, Songak bisa saja menjadi salah satu desa wisata budaya dengan memanfaatkan keberadaan masjid dan berapa ritual tradisi dan kuliner khas Songak. Begitu juga dari segi pertanian, di desa ini

masih dikelola secara individu.

Dengan konfigurasi penduduk seperti itu, Desa Songak mendapat anggaran dana desa yang terus mengalami penambahan. Awalnya dari Rp 1,3 miliar, kini menjadi Rp 1,5 miliar.

“Semoga anggaran ini pada tahun 2020 bertambah,” ucapnya. 

Diakatakan Fikrul, kehidupan masyrakat Desa Songak jika dilihat belum dikatakan sepenuhnya maju. Ini dikarena faktor sumberdaya manusia di dalamnya.

Dengan anggaran yang besar Pemdes masih belum bisa berbuat apa-apa. Anggaran ini masih fokus ke infrastruktur seperti jalan, talud, rabat dan lain sebagainya.

Diakuinya, anggaran dana desa mencapai Rp 1,5 miliar ini belum bisa menyentuh pada hal-hal yang sifatnya pengembangan SDM. Praktis, belum ada program yang menyentuh lansung. 

“Program jangka panjang dalam hal peningkatan SDM, belum ada, dan saya kira ini terjadi di semua desa,” ucapnya. 

Fikrul mengatakan, selain belum meyentuh ke pengembangan SDM, juga belum menyentuh pada ketahanan ekonomi masyarakat pedesaan. Contoh kecil, belum ada suport dari desa membentuk kelompok usaha.

Jika dilihat dari pelaku usaha, jelasnya, di desa ini peluangnya sangat besar. Banyak jenis usaha yng bisa dilihat. Yakni usaha sembako, jajan-jajan tradisional, elektronik dan lain sebagainya. Sehingga, hal ini berdampak pada penyusunan Peraturan Desa (Perdes) penguatan yang sampai saat ini belum jalan. 

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar