Memotret Desa Sakra, Dulu dan Kini

0
502

SAKRA, Warta Rinjani – Desa Sakra, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur, adalah salah satu desa tertua di Pulau Lombok. Keberadaan Desa Sakra tentu saja menjadi salah satu perjalanan penting sejarah Lombok. 

Salah satu tokoh Desa Sakra, Lalu Tadarul Islam mengatakan, jika dilihat dari kepemimpinan, Desa Sakra termasuk desa tua. Kehidupan masyarakat di desa ini sudah dimulai sejak 1825 yang lalu. Ini dibuktikan dengan makam tokoh bernama Ali Batu yang diperkirakan pada angka tahun tersebut. 

“Tahun 1825 sudah ada kegiatan masyarakat di Desa Sakra, meski dulu masih bentuknya kedatuan yang dipimpin oleh seorang datu,” katanya, Selasa (21/1).

Pada tahun 1894, dari catatan yang ada sampai dengan 1952, Sakra dipimpin oleh seorang Datu Mukaji. Setelah itu dipimpin oleh Datu Kertawang, Lalu Sutawang Sakra, dan Datu Raden Sartaji. 

Ia menceritakan, setelah dipimpin kedatuan baru lah dipimpin oleh seorang kepela desa. Kepala desa pertama yakni ayah dari Mamiq Surya, setelah itu Lalu Kartanah, Lalu Salsah, Mustapa, Lalu Muhamad, Dulaman, Lalu Junaidi, Lalu Intayan, dan yang terkahir sampai saat ini Lalu Anugrah Bayu Adhi. 

“Kurang lebih sudah dipimpin oleh 9 kepala desa,” ucapnya. 

Selanjutnya Sekretaris Desa Sakra, Zainul Arifin mengatakan, desa ini termasuk ke dalam desa tua di Lotim. Saat ini sudah banyak kemajuan, tapi masyarakat Desa Sakra masih mempertahankan cara-cara hidup yang tradisional. 

“Namun sekarang Desa Sakra sudah maju lewat berbagai program dan pembangunan yang masuk. Meski begitu, masyarakat masih memperthankan kultur,” ucapnya. 

Baca Juga  Pemprov NTB Tuai Pujian Konsil Kedokteran Indonesia

Ia mengatakan, Desa Sakra juga masih memiliki situs-situs tua yang masih dikujungi oleh masyarakat, terutama masyarakat dari luar Desa Sakra. Yakni, situs budaya makam Ali Batu di dusun Batu Bangka, petilasan Dewa Mas Panji di Dusun Dewa Some, petilasan Dewa Pekok di Dusun Pengempel, dan salah satu petilasan orang Bali dan masih dikunjungi sekali dalam satu tahun. 

Selain itu, Desa Sakra memimiliki lahan yang luas, yakni 697,7 hektare dengan jumlah 4.599 kepala keluarga. Desa Sakra saat ini memiliki 10 kekadusan, tapi saat ini akan bertambah tiga kekadusan lagi.

Desa Sakra sendiri sudah menjadi dua desa pemekaran yakni Desa Kuang Baru dan Desa Sakra Selatan. Selain dua desa itu, Desa Sakra juga tengah membidani lahirnya Desa Peroa pada 2021 meendatang.

Dari sisi geografis, terangnya, Desa Sakra termasuk daerah dataran tinggi. Buktinya masih banyak bukit-bukit yang masih berdiri kokoh. Kondisi geografis seperti ini, menurutnya, sulit untuk mengembangkan ekonomi masyarakat. Namun berkat kerjasama semua stakeholder bisa teratasi.

Desa Sakra belakangan dikenal dengan kuliner khasnya, temerodok. Pemdes memberikan pembinaan dengan membuat kelompok temerodok digital. 

Melalui program temerodok digital ini, pada tahun 2017 yang lalu mendapat respon dari kelompok Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Fokus. Sehingga, pangsa pasar temerodok ini bisa keluar daerah. 

Baca Juga  Kapolda NTB : Lotim Patut Dicontoh Daerah Lain di NTB

“Berkat temerodok digital, pangsa pasar pelaku usaha kue temerodok semakin luas,” ucapnya. 

Pada tahun 2017 yang lalu, tutur Zainul, Desa Sakra selain bergerak dibidang ekonomi, juga bergerak dibidang pendidikan melaui perpustakaan desa. Perpustakaan Desa Sakra memiliki program Perpustakaan Seru (Perseru) yang bekerjasama dengan salah satu LSM yang konsen dibidang tersebut.

Selain itu, kata Zainul, dengan gerakan menjadikan perpustakaan desa sebagai pusat kegiatan masyarakat, juga melalui program rumah pintar. 

“Sehingga dinobatkan menjadi salah satu perpustakaan desa terbaik nasional. Perpustakaan Desa Sakra menyabet juara satu regional C Indonesia bagian timur,” tuturnya. 

Kedepan Desa Sakra, akan terus melakukan terobosan. Master plan tahun 2020 berfokus pada peningkatan kapasitas ormas dan pemuda, peningkatan basis ekonomi kreatif, Bumdes Mart dan lainnya.

Program ini nantinya melibatkan segala unsur di Desa Sakra. Bulan April 2020 ini, akan diluncurkan program Smart Village, kerjasama dengan Kominfo.

” Semuanya itu untuk menggapai plan utama yakni membuat Desa Sakra menjadi desa wisata budaya,” ucapnya. 

Terpisah, salah seorang pemuda Desa Sakra, Lalu Sopi Prinda Swara mengatakan, pihaknya mengapresiasi program-program pemerintah desa setempat. Pemdes dinilainya mampu merangkul kepentingan yang ada di Desa Sakra. 

Terutama kata Sopi, dukungan terhadap kereativitas pemuda. Ini mengingat di Desa Sakra banyak sekali kelompok pemudanya. Yakni Lombok Sofer, Sakra Art, Sakra Musik, Sakra Tean, Rumah Juang, Bale Langgaq dan sebagainya.

“Terbukti dengan adanya berbagai bantuan peralatan dan dukungan event tahunan,” ucapnya.

Beberapa event tahunan ini seperti Sakra Ramdhan Fair, Festival Bale Langgaq, Rocktober dan kegiatan pemuda lainnya. (cr-pol) 

Berita & Photo : Saipul Yakin/Warta Rinjani
Berita Photo : “DESA TUA” Desa Sakra merupakan satu dari sekian desa tua yang ada di Pulau Lombok dengan tradisi kesejarahan yang masih kuat.

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar