Menengok Ponpes Multikultural di Desa Santong

0
68

TERARA Warta Rinjani–Keberadaan pondok pesantren saat ini diharapkan mampu menjadi alternatif dalam upaya menjadikan Indonesia sebagai negara maju. Di tengah menjamurnya pondok pesantren, hanya kemampuan dari setiap pengurusnya yang bisa membawa ke tanah kesuksesan.
Akan halnya dengan Pondok Pesantrenesantren Multikultural yang berada di Desa Santong, Kecamatan Terara Lombok Timur. Pondok tersebut digagas oleh seorang profesor yang ada di Jawa Timur.
Pendiri Pondok Pesantren Multikultural, Dr.Junaidi menceritakan, dalam proses awal, pendirian pondok pesantren tersebut merupakan pemikiran dari beberapa tokoh. Salah satunya yakni, Prof Dr H Ahmad Sondhadji KH.MA Ph.d yang merupakan salah seorang dosen sebuah universitas di Jawa Timur.
Pemikiran tersebut muncul dari diskusi ringan pada awal 2008 yang lalu. Sehingga dalam keberadaan pondok pesantren secara umum hanya terkental dengan beberapa kategori.
“Ada tradisional dan modern. Dan muncullah pondok pesantren ini yang tidak tradisional dan tidak juga modern tetapi tengah-tengah (moderat),” sebutnya kepada Warta Rinjani, Rabu (29/4), pekan lalu.
Dari konsep itulah kemudian dijadikan namanya Pondok Pesantren Multikultural. Sebab penggagasnya sendiri memahami kajian multikultural. Tujuannya untuk mewujudkan satu generasi santri yang memahami banyak pengetahuan dan memiliki kemampuan menjadi orang yang tidak fanatik terhadap satu golongan.
“Mengetahui pengetahuan agama dan tidak fanatik,” sebutnya.
Dari sisi proses belajar mengajar pondok pesantren tersebut diawali dari sebuah yayasan yang menaungi beberapa lembaga pendidikan. Yakni SMK dan Sekolah Taman Kanak-kanak (STK).
Akan tetapi setelah yayasan tersebut dirubah menjadi pondok pesantren kemudian keluarlah izin Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanwiyah (MTS). Praktis, dari beberapa lembaga pendidikan yang ada di tempat tersebut ada dua jenis siswa yang mondok.
“Yang mondok inilah yang mendapatkan bimbingan dengan model pondok-pondok yang lainnya. Sedangkan yang pulang pergi dia tidak kita khususkan di dalam proses belajar pondok,” sebutnya.
Dalam proses pembelajaran terhadap anak pondok, lanjut Junaidi, dalam satu tahun terakhir pihaknya fokus menganjarkan tahfidz Alquran. Sehingga proses pembelajarannya lebih kepada tahfidz. Sementara pembelajaran kitab kuning bukan menjadi titik tekannya kepada peserta didik.
“Dari beberapa orang santri itu sudah ada yang menghafal sampai 30 juz dan ada juga yang baru dapat 8 juz,” sebutnya.
Selain menekankan pada sistem pembelajaran tahfidz terhadap siswa-siswi SMK yang tidak mondok, pihaknya tetap menerapkan setiap hari Sabtu melakukan kajian yang sama dengan siswa yang mondok. “Jadi di situlah mereka bisa mengaji kitab. Semua santri yang ada di sini belajar kitab,” lanjutnya.
Sementara itu, pengasuh Pondok Pesantren Multikultural Desa Santong Kecamatan Terara Lombok Timur, Hj Dewi Sartika menyebutkan, dalam proses belajar mengajar tenaga pendidik yang ada ditempatnya berjumlah dua puluhan orang. Sehingga dari tenaga pendidik yang ada siswanya pernah mendapatkan prestasi dengan menjuarai lomba Korps Sukarela (KSR) Palang Merah Indonesia (PMI) yang diadakan oleh pondok pesantren di Anjani Lombok Timur.
“Alhamdulillah mereka dapat juara 2 tingkat Provinsi NTB,” terangnya.
Model iuran yang diterapkan bagi anak didiknya yang menetap atau mondok pada mulanya digratiskan. Namun setelah beberapa bulan ternyata pihaknya tidak mampu membiayainya. Sehingga saat ini ditarik iuran seadanya.
Dalam membangun pondok pesantren tersebut didasarkan oleh kondisi sosial masyarakat. Sehingga dibuat dengan konsep multikultural yang diharapkan ada keberimbangan.
“Misalkan siswa SMK ahli di bidang merakit komputer maupun yang lainnya tapi dia tetap memiliki kesadaran dalam hal agama,” tandasnya. (yk)

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar