Mengenal Badri, Sosok Peramu Pupuk Organik Cair

0
708

SUKAMULIA, Warta RinjaniTinggal di desa tidak berarti harus tertinggal dalam berkarya. Tidak sedikit anak-anak yang menetap di pelosok-pelosok mampu melahirkan karya yang bermanfaat untuk banyak orang.

Sebut saja Badri. Pemuda pelopor ASA Generation ini dapat dijadikan rujukan. ASA Generation yang diciptakannya merupakan sejenis pupuk organik cair.

Kepada Warta Rinjani, sosok ini menuturkan banyak hal. Penuturannya terutama terkait hasil ciptaannya yang dimulai sejak 2010 silam.

“Untuk menciptakan pupuk organik cair ini, berkali-kali saya lakukan ujicoba dan terus gagal,” terangnya, Kamis (6/2).

Kegagalan demi kegagalan yang menghampirinya rupanya berakibat fatal. Tak jarang ia menjadi obyek olok-olokan rekan-rekannya. Tak jarang pula ia dianggap telah gila lantaran eksperiman tak jelas yang dilakoninya itu.

Singkat kisah, berkat ketekunannya, Badri pada tahun 2015 sukses membuat pupuk organik dalam bentuk cair. Seketika, pupuk ciptaannya itu mendapat apresiasi dari masyarakat pada percobaan pertamanya.

Baca Juga  Diduga Hasil Hubungan Gelap, Bayi Tak Berdosa Dibuang di Sungai Darmasari - Sikur

Sebesar 65 persen kerugian hasil pertanian msyarakat mampu diminimalisir. Lewat persentase itum, para petani kadang bisa meraup keuntungan 99 persen dari hasil tanamannya.

“Tentu dengan usia tanaman yang lebih panjang dibanding dengan menggunakan pupuk kimia,” jelasnya. 

Keberhasilan Badri dari kampung halamannya kala itu mendapat apresiasi dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Imam Nahrawi) pada tahun 2017. Ia berhasil memboyong piagam dengan mengantongi juara 3 bidang inovasi teknologi pemuda pelopor tingkat nasional.

Tidak merasa puas, Badri terus meningkatkan karyanya hingga tahun 2018. Dari inovasinya, ia berhasil menciptakan produk keduanya, yaitu bubuk anti siput.

Dengan keberhasilannya pada produk kedua, Badri mulai disorot mata dunia. Percobaan pertamanya dilakukan di Malaysia. Kala itu, ia melakukan percobaan pada pohon pisang.

Baca Juga  Pemkab Lotim Terima Bantuan KJA Senilai Rp. 10 Miliar

Alhasil, Malaysia mengakui produk Asa Green karena mampu menghasilkan tanaman pisang berkualitas dengan bobot yang lebih besar. 

Atas keberhasilannya tersebut, ia disarankan membuat izin di Indonesia untuk dapat memasarkan produknya hingga keluar negeri. Namun begitu, di negeri sendiri, Badri bernasib apes. Sejak 2017 lalu ia mengurus izin, namun masih kesulitan mendapat izin dari Dinas Perindustrian Provinsi NTB.

“Saya bingung, produk saya diakui hingga luar negeri. Namun di negeri sendiri malah ditolak untuk beredar secara resmi,” ucapnya.

Ia menuturkan, produk hasil ciptaaannya ini dinamakan ASA Generation. ASA ini merupakan singkatan Anak Sukamulia Asli.

Belakangan ASA sendiri merupakamn wadah berkumpulnya anak-anak muda kreatif dan inovatif. Lewat komunitas ini, para anak muda yang tergabung dalam komunitas itu terus berinovasi. (cr-hen)

Badri for Warta Rinjani

PENGHARGAAN: Badri kala mendapat penghargaan dari Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Imam Nahrawi pada tahun 2017 lalu.

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar