Menginspirasi, Sarjan Eks TKI Mampu Ciptakan Lapangan Kerja

0
177
Sarjan, sosok eks TKI yang Sukses

LOMBOK TENGAH – Jalan berliku-liku menuju Dusun Paok Danak, Desa Durian cukup menguras tenaga. Wilayah yang terletak di Kecamatan Janapria, Lombok Tengah itu ternyata menyimpan sejuta potensi. Para montir tengah serius merakit dan menyambungkan besi dengan mesin las. Susunan rangka demi rangka menjadi barang jadi, nampak terlihat memenuhi ruang bengkel.
Seperti kanopi, teralis, pagar pintu henderson, folding gate, stager, stenles, dan beraneka jenis produk berbahan besi.

Semuanya terlihat kompak mengenakan alat pelindung diri berupa kacamata, helm dan seragam khasnya. Nampak juga berapa pesanan yang sudah jadi dan siap diantar ke pemesan.

Tak lama berselang, muncul seorang pria paruh baya yang ternyata pemilik bengkel las tersebut.
Sarjan, begitu orang memanggilnya.
Eks Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Malaysia itu mencoba peruntungan dengan membangun sebuah usaha las yang diberi nama ‘Sapu Rata (SR)’.
Tak pelak, usaha yang dirintis dari nol ternyata mampu mempekerjakan orang yang memiliki pengalaman yang sama dengannya. Sebagian besar pekerjanya merupakan mantan tenaga kerja luar negeri.

Suara Sarjan terdengar sedikit melemah, lantaran suara deru mesin las ditempat tersebut. Meski suaraya tak terlalu jelas, tapi ia tetap semangat bercerita tentang perjuangannya membangun usahanya itu.

“Bosan jadi TKI terus, mending bangun usaha sendiri untuk masa tua nanti,” kata Sarjan memulai pembicaraannya sembari melihat anak buahnya bekerja.

Baca Juga  Pemerintah Lebih Lalai Bayar Pajak Ketimbang Masyarakat

Menjadi TKI, lanjutnya, suatu waktu akan datang rasa jenuh dan bosan. Dan disaat seperti itu sudah barang tentu orang menginginkan mempunyai usaha sendiri. Itulah yang ia rasakan sebelum menjalankan usaha bemgkel lasnya.

Modal yang ia dapatkan selama menjadi TKI, Sarjan membangun usahanya tersebut. Ia memilih bidang tersebut lantaran saat di luar negeri, ia bekerja ditempat seperti itu. Tinggal, mempraktikan ilmu yang ia dapat dari tempatnya bekerja.

Ia menceritakan, setiap usaha yang dibangun tidak serta merta langsung besar dan banyak pesanan. Hal itu juga yang dialaminya. Harus memperkenalkan diri dulu dengan produksi yang diciptakan, hanya untuk mencari kepuasan konsumen.

Meski menghadapi lika-liku, tapi ia memilih tak menyerah. Bahkan saat ini, sudah merasakan hasil dari jerih payahnya tersebut. Bahkan, saat ini dapat memperkerjakan orang dikampungnya itu yang memiliki nasib serupa dengannya.

“Alhamdulillah, usaha yang saya bangun empat tahun ada hasilnya saat ini, dan bisa menolong teman yang profesi kita sama sebelumnya,” terangnya

Saat ini, sebutnya, usahanya itu menerima berbagai macam jenis pesanan seperti kanopi, tralis, pagar pintu henderson, folding gate, stager, stenles, dan beraneka jenis berbahan besi.  Keberadaan SR, masyarakat tak lagi susah mencari jasa las ataupun pembuatan bahan bangunan berbahan besi lainnya.

Ia mengaku, saat ini kebanyakan konsumen memesan hasil produksinya tersebut dengan cara menelpon lanhsung. Kendati tak merincikan jumlah pesanan perhari dan penghasilan dari usaha yang digelutinya.

Baca Juga  Bahas PDAM, LSM LIRA -Anggota Komisi III, Bersitegang

Sarjan mengaku telah banyak melayani pemesanan dari berbagai jenis dan ukuran. Pemesan tak hanya dari masyarakat sekitar, namun masyarakat di Lombok secara umum dan warga yang masih berada di Malaysia.

“Barang pesanan ini ada yang dari Lombok Timur, Lombok Barat, bahkan Mataram” bebernya.

Bagi Sarjan, pengalaman merupakan guru berharga. Dengan pengalaman itu ia mampu mempraktekkan keahliannya di negeri sendiri.
Sarjan menganalogikan bahwa serendah-rendah makanan waktu di Malaysia adalah seenak-enak makanan di Lombok. Dan jauh lebih nikmat karena bisa bersama keluarga.

“Di negeri orang kita bekerja maksimal kenapa tidak di tanah kelahiran kita berkerja ekstra demi masa depan keluarga,” tutupnya

Terpisah salah seorang warga, M Suhaili, mengaku tertarik dengan cerita kehidupan pemilik usaha las tersebut. Menurutnya, ini adalah contoh yang baik bagi masyarakat, khususnya para mantan TKI.

Pemilik SR itu, lanjutnya, tak hanya mencari uang ke negeri orang, namun mencari ilmu lebih, pengalaman serta meningkatkan kreativitas.

“Mungkin di luar sana banyak orang seperti dia, tapi apa pun itu seharusnya semua kita berifikir seperti ini,” tutupnya. (pol)

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar