Menikmati Sensasi Kopi ‘Siong Kete’ Kembang Kuning

0
120

Desa Kembang Kuning baru saja dinobatkan sebagai juara desa pariwisata tingkat nasional. Desa ini meraih penghargaan itu untuk kategori berkembang. Desa mendulang poin tertinggi 1.125 dan mengalahkan Desa  Tebara Sumbaa barat NTT dengan nilaai 1.121.

Pesona wisata Desa Kembang Kuning tidak lepas dari keindahan alamnya. Berlatar belakang Gunung Rinjani yang kini menjadi geopark dunia, juga hamparan sawah yang menghijau yang tak bosan untuk dipandangi seolah menjadi daya magis yang menghipnotis pengunjung.

Daya tarik inilah yang membius para wisatawan asing mengunjungi desa yang diapit oleh Desa Lekong Pituk dan Tete Batu, Kecamatan Sikur tersebut. Di antar desa-desa itu sebenarnya juga sama-sama menjual panorama alamnya. 

Namun, bagi Desa Kembang Kuning ada sensasi tersendiri untuk ditawarkan kepada turis asing, yakni kopi ala desa setempat. Ya, kopi ‘Siong Kete’ namanya. Begitu masyarakat setempat menamakannya. Harga yang ditawarkan tidak main-main. Segelas kopi dibandrol Rp. 150.000.  

Namun bagi turis mancanegara, harga demikian itu tidak masalah. “No problem, I like it,” ujar Anne, salah satu turis asal Jerman yang mencicipi nikmatnya kopi ala warga desa itu.

Kepala Desa Kembang Kuning, Lalu Sujian, sang penggagas Kopi ‘Siong Kete’, mengaku harga secangkir kopi yang ditawarkan kepada turis asing sedemikian mahal lantaran ada sensasi yang dirasakan wisatawan. Salah satu sensasi yang ditonjolkan yakni melibatkan wisatawan bersama-sama menggoreng kopi langsung ditungkunya. Sensasi sengrai kopi bersama warga ini cukup diminati para turis.

“Biasanya kalau kita pesan kopi di lesehan dan di kedai-kedai kopi harganya Rp. 5000. Tetapi kami di sini harganya berkali-kali lipat,” jelas Sujian, belum lama ini.     

Baca Juga  Terkait Penarikan Retribusi Pantai Suryawangi, Camat Labuhan Haji : Itu Bukan Pungli

Lalu Sujian yang berhasil membawa Desa Kembang Kuning sebagai peringkat pertama Lomba Desa Wisata tingkat Nasional 2019 dalam kategori desa berkembang itu, bercita-cita mendesain Desa Kembang Kuning sebagai kawasan destinasi wisata dunia. Salah satu usahanya yakni memanfaatkan betul setiap bantuan dari pihak luar yang masuk ke desa itu.

“Bantuan Kementerian Desa dan  PDT dimanfaatkan untuk pembangunan homestay,” tuturnya.

Kopi, adalah minuman yang pertama kali dicari wisatawan asing jika berkunjung ke wilayahnya. Lalu, homestay yang dibangun di antara rumah-rumah penduduk. Ketertarikan para turis itu lebih disebabkan panorama alamnya yang natural.

“Dari menggoreng, menumbuk hingga menyaring menggunakan alat saringan tradisional, sebagai pekerjaan yang unik dianggap mereka (turis, Red),” demikian kata Sujian. 

Bukan hanya kopi, beberapa komoditas lokal lainnya pun cukup diminati wisatawan semisal, olahan jajanan kuliner buatan warga Kembang Kuning, serta berbagai kerajinan tangan (handycraft). Bahkan, sejumlah turis asing terutama dari negara Prancis pernah menawarkan kerjasama dalam pengolahan kopi asli Kembang Kuning. Namun, keterbatasan biaya dan ketersediaan bahan baku menjadi kendala utama. 

Bukan hanya itu, Bupati Lombok Timur, HM. Sukiman Azmy, Kementerian Desa dan PDT RI pun, memuji Lalu Sujian yang dinilai berhasil membangun sektor pariwisata di daerahnya

Aset desa yang dikelola BUMDes mencapai Rp. 3 miliar lebih mampu membiayai sektor riil yang kini telah berkembang pesat di Desa Kembang Kuning. Tidak hanya itu, sejalan dengan pengembangan sektor pariwisata, ekonomi  masyarakat pun turut terdongkrak. 

Baca Juga  Polres Lotim Gelar Upacara Sertijab Perwira

Bahkan, staf perangkat desa tak lagi diminati lantaran hidupnya sektor pariwisata. “Berkali-kali kami buka lowongan untuk menjadi aparat desa, rupanya tidak ada yg berminat. Warga lebih memilih menjadi pegiat pariwisata karena pendapatan nya jauh lebih besar ketimbang hanya sekedar menjadi staf desa,” tutur Sujian.

Nyatanya, kerjasama pegiat wisata dengan BUMDes mampu meningkatkan  pendapatan desa antara  Rp. 12 juta hingga 14 juta perbulan.

Pengelolaan home stay salah satu penyumbang pendapatan desa yang bekerjasama dengan pegiat-pegiat wisata termasuk Pokdarwis.

Bupati Lombok Timur, HM Sukiman Azmy dalam kesempatan beberapa waktu lalu meminta Desa Kembang Kuning terus berinovasi dan melakukan terobosan agar produk-produk lokal dapat berbicara banyak di tingkat nasional dan internasional. 

Secara khusus, Sukiman Azmy meminta agar produk lokal seperti kopi dikemas sesuai keinginan para turis selayaknya sajian-sajian yang berlaku selama ini. Dengan demikian, perekonomian masyarakat bisa terangkat. 

Sukiman berharap bahwa sektor pariwisata dapat diandalkan  di Kabupaten Lombok Timur. Bukti keseriusan Pemda untuk terus menggenjot pariwisata adalah dengan membangun fasilitas pendukung lainnya. Termasuk mendorong masyarakat untuk ikut berpartisipasi mewujudkan desa wisata. 

Diakui Sukiman, Kembang Kuning salah satu desa memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi destinasi wisata. Meskipun setahun lalu porak-poranda akibat gempa bumi 7.0 SR. 

Sukiman Azmy juga berjanji memperhatikan desa-desa lainnya mendukung konsep desa wisata. Sebanyak 99 desa wisata yang telah terverifikasi. Sebanyak 25 desa intensif untuk mendapatkan pembinaan dan 80 desa tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Darwis).

Kehadiran desa wisata tambahnya, akan mampu mendongkrak pendapatan daerah termasuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Tercatat sebanyak 236 desa di Lombok Timur, 36 desa masih klasifikasi tertinggal, 180 desa kategori berkembang dan 25 desa kategori maju. Namun belum ada desa yang berklasifikasi mandiri. 

Konsep pengembangan desa wisata di Desa Kembang Kuning ini diharapkan menjadi salah satu pelopor desa mandiri. (WR2)

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar