Musim Hujan, Selatan Lotim Masih Gersang

0
61

SELONG, Warta Rinjani—Ironis! Musim hujan telah tiba, tapi kondisi curah hujan yang minim mengakibatkan langkanya air. Prakrtis, masalah ini berdampak terhadap warga dan para petani yang akan mengairi sawahnya.

Di kawasan selatan Lombok Timur, khususnya di Desa Sakra Kecamatan Sakra misalnya. Curah hujan yang minim membuat debit air menyusut signifikan.

“Semua petani saat ini masih garuk kepala. Kita menunggu air yang tak kunjung datang,” keluah salah seorang petani bernama Suriyadi, kepada Warta Rinjani, belum lama ini.

Minimnya debit air, jelasnya, dapat disaksikan dengan jelas dengan keringnya sungai-sungai saluran irigasi. Hingga saat ini, aliran air di saluran irigasi petani masih belum normal.

Begitu juga dengan air tanah seperti sumur warga. Nyaris semua sumur warga disebutnya sudah mulai kering. Akibatnya, untuk kebutuhan air bersih yang akan diminum cukup sulit.

Tragisnya, kondisi ini menjadi pukulan telak bagi para petani. Betapa tidak, beberapa pekan lalu hujan intensif turun. Namun belakangan, kondisi sebaliknya justru terjadi.

Saat hujan intensif turun, ungkapnya, petani beramai-ramai mulai menggarap sawah dan menanam padi. Hanya saja, belakangan ini kondisi air sulit.

“Kalau seperti ini terus kondisi air, bisa-bisa kami gagal tanam,” ucap Suriyadi.

Ia mengatakan, benih padi tidak bisa ditanam karena rusak. Benih padi yang disemai juga sudah menguning. Rata-rata benih yang disemai berumur 30 hari (satu bulan) bahkan ada yang lebih.

Dikatakan Suriyadi, jika benih tersebut dipaksanakan untuk ditanam, pertumbuhannya tidak baik. Bahkan, jika dipaksakan akan berdampak pada biaya tanam yang kemungkinan melebih biaya normal.

Dalam kondisi normal, jelasnya, modal awal yang dikeluarkan mencapai Rp 3 juta. Alokasi biaya ini dirincikan Rp 1,5 juta untuk ongkos bajak sawah, biaya tanam Rp 1 juta dan konsumsi pekerja sekitar Rp  500 ribu.

Jumlah biaya itu, jelasnya, tidak termasuk dengan biaya ngeder (pembersihan rumput-rumput), beli pestesida, dan pupuk. Ia menyebutkan, seandainya membeli air menggunakan tangki, harga satu tangki saja Rp 300 ribu, maka dalam 1 hektar bisa menghabiskan 10-15 tangki.

“Kalau ingin sistem kebagan melalui petugas P3A (Pekasih) dalam satu hektar amannya harus sedia Rp. 500 ribu,” ucapnya.

Menurutnya, bisa saja membajak sawah dilakukan saat ini. Hanya saja, air harus dibeli lewat petugas P3A (pekasih). Itupun jika dikasi oleh petugas P3A (pekasih) yang berada di hulu.

Baca Juga  Wagub NTB Minta Dukungan Akademisi Sukseskan Revitalisasi Posyandu

Namun dengan sistem kebagan (beli air) disebutnya akan rentan menimbulkan konflik antar petani. Apalagi jika dilakukan di malam hari, bukan tidak mungkin petani bisa saling melukai.

Selanjutnya salah seorang petani bawang merah, Amaq Heri mengatakan, kondisi ini bukan hanya menyebabkan petani garuk, tapi juga berakibat tanaman yang dihinggapi oleh hama atau penyakit. 

Ia mencontohkan, tanaman bawang merah. Jenis tanaman yang satu ini jika terus menerus hadapi cuaca sperti akan rentan dihinggapi hama. Daun bawang akan rusak bahkan memutih.

Imbasnya, petani harus melakukan penyemprotan paling tidak 2 hari sekali. Jika tidak siap-siap bawang itu rusak. 

“Kalau kondisi seperti ini terus, harus puas menyemprotkan pestisida. Itu pun bahkan harus setiap hari,” jelasnya. 

Terpisah, Petugas P3A Desa Sakra Selatan, Lukman Taufik mengatakan, melihat cuaca saat ini solusinya adalah alih pola tanam. Petani bisa menanam tanaman seperti jagung, kedelai dan kacang-kacangan.

Kata dia, informasi yang didapat dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Hujan di Kecamatan Sakra akan normal Februari mendatang.

Terhadap kondisi ini, ia meminta agar pemerintah turun tangan. Tindakan yang bisa diambil seperti sekedar mengumpulkan petugas P3A di setiap desa untuk bertanya langsung kondisi yang terjadi.

Selama ini sebutnya, yang kelihatan dalam urusan air bukan urusan pemerintah desa atau bupati. Namun, persoalan air untuk petani terlihat hanya urusan petugas P3A saja.

“Kalau mereka turun, bisa saja ada solusi. Urusan air ke petani (subak) itu selama ini masih hanya urusan P3A,” ucapnya.

Sakra Selatan, paparnya, memiliki luas lahan pertanian 450 hektare. Misalnya dengan menggunakan sistem kebagan (beli air) satu petugas P3A mendapatkan jatah hanya 4 hektare.

Kalau dilihat jauh sekali dari kebutuhan subak (petani),

satu-satunya yang menjadi solusi air, pemerintah yang mempunyai kewenangan untuk melakukan pembukaan dam baru ke wilayah Kecamatan Sakra dan Sakra Timur, dari Bendungan Pandan Dure.

Bendungan Pandan Dure, sebutnya, hanya mengairi tiga kecamatan di selatan ini yaitu Sakra Barat, Keruak dan Jerowaru. Sementara Kecamatan Sakra dan Sakra Timur belum bisa terairi.

Luas wilayah pertanian di dua kecamatan ini sampai pada 5.000 hektar. Padahal dam Pandan Dure ini berada di Kecamatan Sakra dan sewaktu-waktu jika tanggulnya jebol, yang paling pertama terdampak adalah warga Kecamatan Sakra. 

Baca Juga  Polsek Sakra Gerebek Rumah Penjual Miras Tradisional

“Segala usaha selaku petugas P3A (pekasih) sudah kami lakukan. Namun kembali kepada kondisi air di hulu, jumlah debit sampai saat ini belum mencukupi, bahkan sampai saat inipun Dam Pandan Dure belum mengalami peningkatan debit air,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lotim, Hady Purnama mengatakan, sepanjang 2019 kemarin, ada 7 kecamatan yang sangat rentan dengan bahaya kekeringan. Ketujuh kecamatan itu meliputi Jerowaru, Keruak, sakra Timur, Terara, Suela, Sambelia dan Sembalun.

Selama proses kekeringan, lanjutnya, terhitung pada awal September 2019, pihaknya telah mendrop 33 tangki air ke semua wilayah terdampak kekeringan. Proses droping sebanyak itu disebutnya berlangsung selama 4 bulan.

“Per 31 Desember 2019 kemarin baru kita tutup pendropan,” ujarnya.

Meski belakangan curah hujan mulai signifikan kembali, data pihaknya telah mengidentifikasi adanya tambahan wilayah kekeringan. Identifikasi ini terjadi di 4 kecamatan, yakni Sakra, Aikmel, Pringgabaya dan Montong Gading.

Tak cukup melalui proses identifikasi. Hasil terjun lapangan yang dilakukan instansi ini mencatat adanya potensi kekringan di dua kecamatan lagi di Kecamatan Sakra Timur dan Sembalun. Potensi kekeringan ini disebutnya sudah masuk data tahun 2020.

“Kemungkinan  juga akan terjadi dio Jerowaru. Tapi penanggulangannya akan kita usulkan di tahun 2020,” ujarnya.

Sementara itu, Dirut PDAM Lombok Timur, Mustaan mengatakan, sepanjang musim kemarau 2019 kemarin, tak jarang pihaknya turut mendroping air bersih kepada warga. Bantuan yang diberikan ini karena pihaknya masuk dalam tim khusus penanggulangan kekeringan yang dibentuk Bupati Lotim.

Biasanya, untuk proses pendropan air bersih, jelasnya, harus ada surat masuk dari setiap kepala desa. Surat ini menjadi dasar pihaknya bertindak membantu warga yang dilanda kekringan.

Namun sejak tibanya musim hujan, bebernya, pihaknya tidak lagi mendroping air. Droping hanya diperuntukkan kepada pelanggan PDAM yang berada di wilayah selatan dan mengalami kekeringan.

Mustaan menegaskan, untuk warga selatan Lotim kini sudah bisa dijangkau oleh layanan PDAM. Sumber air yang digunakan berasal dari Dam Pandan Dure. Reservoar pengolahan air yang bersumber dari bendungan ini dibangun di Rensing.

“Kapasitas  di penampungan reservoar itu 500 kubik dan sanggup memenuhi kebutuhan 5 ribu pelanggan,” jelasnya.

Dari reservoar yang dibangun itu, bebernya, debit air yang dikeluarkan mencapai 50 liter per detik. Air dalam jumlah itu dipastikan sudah bisa mengairi semua warga Lotim yang berada di wilayah selatan.

Meski membeberkan luasnya jangkauan pelayanan PDAM, Mustaan menyebutkan bahwa masih ada desa-desa yang belum terakses. Namun demikian, ia memastikan keberadaan jaringan induk di desa itu sudah ada.

“Tinggal jaringan tersier yang ke rumah warga yang belum kita pasang. Ini yang akan menjadi PR kita di masa yang akan datang,” tegasnya. (cr-pol/qin)

Saipul Yakin/Warta Rinjani

ARMADA: Inilah armada yang digunakan mendrop air oleh BPBD Lotim saat kekeringan melanda kawasan-kawasan rawan air.

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar