Oktomi Harja Ciptakan Karya Seni Berbahan Bambu

0
463

WANASABA, Warta Rinjani–Orang-orang berbakat seni mempunyai keunikan sendiri dalam memandang sebuah benda atau sesuatu. Tidak heran jika banyak hal-hal yang tidak dianggap berharga justru bisa dirubah menjadi benda bernilai estetis.

Seperti seorang pemuda asal Desa Kembang Kerang, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur bernama Oktomi Harja misalnya. Pemuda yang sekarang aktif juga Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kembang Kerang ini menciptakan lukisan berbahan bambu.

Kepada Warta Rinjani belum lama ini, sebelum menekuni aktivitas seni yang dilakukan, Tomi (panggilan akrabnya, Red) dulu bekerja di sebuah restoran. Di sini, ia sering melukis nama, wajah, dan hal-hal lainnya pada buah-buahan.

“Kemampuan saya melukis pada buah coba saya kembangkan ke bambu,” katanya.

Ketertarikannya menjadikan bambu sebagai media lukisan, jelasnya, berawal ketika ia melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sewaktu menjadi mahasiswa di Jogjakarta. Kala itu ia berkunjung ke Candi Brobudur dan melihat orang melukis candi tersebut berbahan bambu. Dari sana lah ia tertarik untuk membuat hal serupa di Lombk.

Melihat jalur tempat ia tinggal adalah di jalur wisata ke Sembalun, ia terpikat untuk menekuni keasliannya itu. Terlebih jalur itu dianggap cukup strategis dari segi pemasaran. 

Sepulang menimba ilmu dan melepaskan status sebagai mahasiswa, Tomi langsung mencoba yang pernah dilihat di Candi Borobudur.

“Saat itu sekitar bulan September. Saya mencoba apa yang saya lihat dan memulai bekerja dengan menggunakan alat sederhana,” jelasnya.

Ia pun mulai melukis. Sebagai pemula, ia awalnya memulai karyanya dengan melukis wajah-wajah tokoh-tokoh nasional. Namun seiring berjalannya waktu, ia mencoba melukis obyek yang lebih menantang.

Baca Juga  Wagub NTB Apresiasi KKI Dukung Pembukaan Prodi Dokter Spesialis UNRAM

Kendati sebagai pemula, jelasnya, sudah ada beberapa teman yang tertarik dengan hasil lukisannya. Karena banyak yang tertarik, ia pun mulai banyak menerima pesanan.

“Untuk saat ini cerita dari teman ke teman saja, belum ada strategi pemasaran secara khusus,” ucapnya. 

Sejak saat itu, lanjutnya, barulah ada pemesanan khusus seperti foto prewed, foto pribadi, wajah tokoh, gambar binatang dan lainnya. Banyaknya pesanan tersebut menuntut diirnya harus memiliki stok bambu untuk memenuhi permintaan pelanggan.

Ia mengatakan, tidak mungkin memanfaatkan bambu bekas lagi, sehingga bambu harus dibeli ke petani sebagai persediaan. 

Ia menuturkan, harga bambu saat ini Rp 25 ribu sampai dengan Rp 30 ribu per batang di petani. Satu batang bambu tersebut bisa menjadi empat sampai lima buah lukisan. Ini tergantung panjang dan lebar yang dipesan oleh pelanggan. 

Ia mengatakan, satu lukisan harganya dari Rp 50 ribu sampai dengan Rp 250 ribu. Bandrol harga yang dilepas tergantung kerumitan dan panjang dan lebarnya ukuran bambu.

Untuk ukuran 30 cm x 40 cm, jelasnya, biasanya harga yang dilepas Rp 100 ribu sampai dengan Rp 150 ribu. Kadang juga pelanggan memesan ukuran 60 cm x 40 cm dengan harga Rp 250 ribu.

Berkat ketekunannya menggeluti aktivitasnya, kini pesanan yang diterima sudah mulai banyak berdatangan dari berbagai tempat. Sebut saja seperti Lombok Tengah dan Mataram, bahkan ada yang pesan dari Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Baca Juga  Pemprov NTB Ajak Masyarakat dan Influencer Dukung Sulis di LIDA 2021

Khusus untuk pengiriman ke luar daerah, jelasnya, baru berani mengirim beberapa buah saja. Itupun ke koleganya yang sudah dikenal. Pengiriman ke luar daerah disebutnya membutuhkan biaya yang mahal. 

Lantaran mahalnya ongkos kirim ke luar daerah, bebernya, selalu tak sebanding dengan harga lukisannya. “Harga lukisan Rp 150 ribu, sedangkan ongkos kirim Rp 200 ribu. Selisihnya tidak sebanding,” terangnya.

Kedepan, lanjutnya, di Kembang Kerang diharapkan akan menjadi sentra kerajinan. Setiap wisatawan baik lokal maupun mancanegara diharapkan akan mengunjungi tempatnya untuk memperoleh cenderamata hasil produknya.

Melukis pada media berbahan bambu disebutnya tidak semudah melukis pada kanvas kain dan triplek. Pada media bambu, seniman dituntut tidak hanya pandai melukis, tapi juga memahat.

Dalam memahat, terangnya, sangat diperlukan kehati-hatian. Ini karena bentuk bambu terkadang bengkok. Selain itu, setelah bambu selesai dipahat harus dirajang secara zigzak agar bisa dibuka, baru lah dibingkai.

Tomi sangat berhasrta membuat galeri. Namun obsesinya ini terkendala dengan biaya dan tugas akhir kuliah. Saat ini, pemuda tersebut tengah menyelesaikan prograam magisternya.

“Kedepan saya ingin membuat homestay dan galeri seni. Namun terkendala modal dan sedang menyusun tesis, kalau lahan sudah ada,” ucapnya. 

Sementara itu, anak buah Tomi bernama Faturrahman mengatakan, membuat karya seni berbahan bambu tidak mudah. Perlu kesabaran dan ketekunan agar bisa menghasilkan sebuah karya.

Ia menuturkan, pemuda di Kembang Kerang diajak oleh Tomi untuk terus menggali potensi. Tak heran jika beberapa waktu belakangan ini banyak pemuda yang datang belajar melukis.

“Tomi terus memotivasi kami. Kami belajar melukis sepulang kerja dari pukul 14.00 Wita sampai pukul 14.30 Wita. Setiap harinya banyak yang datang belajar membuat lukisan di bambu ini,” tandasnya. (cr-pol) 

Saipul Yakin/Warta Rinjani

BERNILAI SENI: Karya seni yang diciptakan Oktomi Harja memiliki nilai seni yang bagus untuk dikembangkan ke dunia komersial.

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar