Okupansi Home Stay Tete Batu Masih Rendah

0
208
Photo : Hendri/Warta Rinjani MASIH LESU: Tingkat hunian penfunjung di sejumlah home stay di kawasan Tete Batu masih sepi.

SIKUR, Warta Rinjani–Bisnis home stay dikawasan Tete Batu hingga pengunjung 2019 masih terbilang lesu. Tingkat okupansi (hunian) dirasakan menurun sejak peristiwa gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,0 2018 lalu.
“Kami merasakan penurunan jumlah pengunjung sejak gempa 2018 lalu. Sampai saat ini tingkat pengunjung masih rendah,” keluh pengelola dan pemilik Mas-mas Bungalo, Matuh, Selasa (24/12).

Sebelum peristiwa gempa mengguncang Lombok, ungkapnya, tingkat hunian bungalow miliknya cukup baik. Namun kondisi ini berbanding terbalik pasca gempa.

Ia menceritakan, awal Januari 2018 silam, pemesan kamar di home stay yang dikelolanya sudah mulai terdaftar. Namun karena gempa di medio 2018, para wisatawan memilih urung menginap. Mereka memilih mengalihkan tujuan wisatanya ke negara lain ketimbang Indonesia, khususnya Lombok.

Biasanya, terang Matuh, para pemilik home stay di kawasan Tete Batu akan direpotkan jelang akhir tahun. Penyebabnya, di rentamg masa itu sudah banyak wisatawan yang datang berlibur.

“Tapi sekarang mulai terasa sepi dengan kunjungan wisatawan,” lanjutnya.
Pada akhir tahun jelang pergantian tahun baru, dari bisnis home stay ini bisa mendatangkan pendapatan minimal Rp 30 juta dari para pengunjung. Namun karena sepi, pendapatan mereka ikut menurun pula.

Senada juga diungkap pemilik home stay Rumah Daun, Bagus. Tingkat pengunjung tahun ini sangat sepi. Jika pun ada pengunjung, jumlahnya hanya terhitung jari.”Pasca gempa tahun lalu, penginapan saya mulai sepi pengunjung. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Biasanya kita disibukkan dengan tamu-tamu, baik yang menginap maupun yang rekreasi,” jelasnya.

Akibat sepinya okupansi, para pengelola home stay ini berharap dapat bersinergi dengan pemerintah setempat. Harapannya agar semakin banyak event di daerah yang bisa diselenggarakan. Lewat event ini nantinya diharap dapat menarik wisatawan

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Timur Dr. H. Mugni mengaku, pihaknya telah meberikan support berupa pelatihan sebelum didirikan homestay. Karena itu, keberhasilan pengusaha homestay tergantung dari inovasi masing-masing.

“Tugas Dinas Pariwisata adalah memberikan pelatihan-pelatihan bagaimana membangun dan mengelola homestay. bantuan kami tidak diberikan dalam bentuk barang,” tegasnya.

Sebagai bentuk perhatian terhadap pelaku usaha home stay, Mugni mengaku pada 2020 mendatang akan tetap menggelar pelatihan. Kegiatan ini dilaksanakan dengan menyasar 55 orang pengusaha homestay. “Kali ini bukan saja di daerah Tetebatu, tapi di daerah Pringgasela juga,” tuturnya.

Selain itu, Disspar juga telah mencarikan bantuan ke Kementerian Pariwisata untuk pengembangan homestay. Bantuan itu sudah dapat dirasakan 2019 ini oleh pelaku usaha home stay.

Mugni menyelipkan harapannya kepada pemilik home stay di masa datang. Para pemilik diharap lebih inovatif mengelola usaha mereka.
“Itu harapan kita kedepan agar mereka lebih inovatif,” tegasnya. (cr-hen)

Baca Juga  Sandiaga Uno: Pacoa Jara, Magnet Pariwisata NTB yang Mendunia

Photo : Hendri/Warta Rinjani
MASIH LESU: Tingkat hunian pengunjung di sejumlah home stay di kawasan Tete Batu masih sepi.

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar