Pariwisata Mulai Tumbuh, BPPD Lotim Gelar Penguatan Literasi Promosi

0
141

LOMBOK TIMUR – Pariwisata di Kabupaten Lombok Timur mulai menunjukkan geliatnya sebagai salah satu destinasi wisata di NTB. Selain ketersediaan fasilitas, lahirnya pegiat wisata atau Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) menjadi bukti keseriusan.

Tak cukup itu saja, promosi menjadi faktor penting dalam memperkenalkan ‘Pulau Seribu Masjid’ ini sebagai daerah tujuan wisata.

Untuk mendukung potensi itu, Badan Promosi Pariwisata Daerah ( BPPD ) Kabupaten Lombok Timur menggelar
pelatihan Jurnalistik dan Literasi media yang dikemas dalam kegiatan camp bertajuk “Kemah Literasi jurnalistik pariwisata Kabupaten Lombok Timur 2021”.

 

Keterangan foto : Kepala BPPD Lotim, Ahmad Roji. (doc/dy)

Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kabupaten Lombok Timur, Ahmad Roji mengatakan Pariwisata Lombok Timur mulai tumbuh dan berkembang, seiring dengan munculnya pelaku-pelaku wisata yang nantinya memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan pariwisata itu sendiri.

Lahirnya desa-desa wisata dan Pokdarwis kata Ahmad Roji menjadi bagian penting untuk kemajuan pariwisata daerah.
Untuk memperkuat kehadiran desa wisata dan Pokdarwis, BPPD Lotim berkewajiban meningkatkan inovasi mereka. Salah satunya, melalui pelatihan Jurnalistik dan Literasi media yang digelar di Desa Loyok, Kecamatan Sikur – Lombok Timur mulai tanggal 2-4 April 2021.

“Kegiatan ini diharapkan bisa melahirkan influencer-influencer dan promotor pariwisata di media online dan social media dengan literasi dan liputan citizens journalism yang berkualitas,” terang Ahmad Roji kepada wartawan, Sabtu (3/4).

Baca Juga  SMSI Temui MPR RI: Soal Penembakan Wartawan, Komnas HAM Perlu Bentuk Tim Pencari Fakta

Dalam pelatihan itu juga melibatkan kalangan millenial dari Terune Dedare Lombok Timur, Mahasiswa dan Pelaku pariwisata di kabupaten Lombok Timur.

“Kegiatan ini diharapkan mampu menguatkan kapasitas dan kualitas literasi serta sajian citizen journalism terkait pariwisata Lombok Timur yang berkualitas dan memenuhi standar sehingga mampu mengabarkan berita baik yang menceritakan keunggulan, eksotisme dan berbagai hal yang bisa menjadi konten promosi pariwisata di gumi patuh karya dengan menarik,” jelas Roji.

Disebutkan, sebanyak 17 desa wisata beserta Pokdarwisnya mengikuti pelatihan jurnalistik. Keberadaan mereka menjadi representasi dari desa wisata lainnya dalam mengembangkan potensi wisata dimasing-masing wilayahnya.

Diakui Oji demikian panggilan akrabnya, jumlah desa wisata dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Namun bukan berarti desa wisata hadir lantaran adanya bantuan dari pemerintah atau pihak lain. Tetapi, desa wisata tumbuh dan berkembang karena bottom up. Sehingga mereka mampu membawa desanya bahkan lebih luas lagi pariwisata Lombok Timur menjadi maju dan berkembang.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Timur, Drs.H.M. Juaini Taofik, MA.p, memberikan apresiasi kepada semua pihak yang tak pernah berhenti menunjukkan loyalitasnya terhadap pembangunan daerah ini. Termasuk media massa, netizen, pegiat pariwisata dan juga instansi serta lembaga terkait.

Baca Juga  Kabur Saat Pelatihan di BLKLN Jatim, CPMI Asal Lotim Alami Patah Tulang

Walau disadari, ditengah pandemic masih bisa survive ditengah keterbatasan. Kendati demikian, Sekda Lotim berharap adanya kolaborasi semua pihak untuk mendukung pembenahan dan penguatan promosi pariwisata sangat penting untuk dilakukan.

“Kepada semua pihak yang tak henti-hentinya membuktikan loyalitas dalam pembangunan daerah, Pemkab Lotim sangat berterima kasih,” tandas Sekda Juaini Taofik.

Demikian pula yang diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata Lombok Timur, Dr.H. Mugni, S.Sn yang mengakui jika kegiatan ini bernilai positif untuk kemajuan pariwisata di Lombok Timur.

Baginya, perbaikan literasi dan jurnalisme pariwisata didaerah ini sangat penting dilakukan sehingga tidak ada kabar dan informasi yang kurang proporsional, apalagi menyesatkan sampai ke khalayak dan dicerna oleh publik.

“Ada salah satu media yang menyampaikan bahwa orang miskin tidak boleh berwisata. Bagi kami informasi itu amat vital bahkan sampai viral di media social (medsos). Padahal konten sesungguhnya terkait kebijakan itu tidak demikian kebenarannya. Hal itu belum tentu tepat karena kebijakan tidak pernah dibuat diskriminatif apalagi sampai melarang warga berwisata,” papar Mugni.

Oleh karena itu, kata Mugni, penguatan kapasitas dalam pemberitaan dan narasi social media harus terus dilakukan. (wr-dy)

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar