Pemilik Ambil Alih Lahan Yang Diduga Dimanipulasi Oknum Pengacara

0
198

LOMBOK TIMUR – Masih ingat, kasus dugaan rekayasa surat hibah tanah milik Inaq Senun seluas 1000 M2 oleh oknum mantan pengacaranya Riki Riyadi, SH, di Desa Tebaban, Kecamatan Suralaga, Lombok Timur, beberapa waktu lalu.

Kini, lahan tersebut terpaksa diambil alih oleh sang pemiliknya Inaq Senun (50) beserta ketiga anaknya warga Dusun Dayan Bara, Desa Kerongkong, Kecamatan Suralaga.
Pengambilan tanah miliknya itu karena diyakini Inaq Senun merasa tidak pernah menghibahkan tanahnya yang sejatinya berukuran 1776 M2 itu.

Didampingi pengacaranya Ida Royani, SH, SE, Inaq Senun yang tengah berada dilokasi lahan miliknya itu mengakui jika tanah tersebut masih menjadi miliknya dikuatkan dengan bukti surat pernyataan jual beli Registrasi No. 37/2015 tertanggal 7 Februari 2015. Serta, Nomor persil 31 pipil 193 kelas 1 seluas 1776 M2 terletak di Subak Tebaban Desa Tebaban, Kecamatan Suralaga.

“Mustahil saya menghibahkan tanah sama orang lain. Sementara saya masih punya anak untuk saya wariskan kepada anak-anak,” terang Inaq Senun di lokasi tanah miliknya, Kamis (8/4).

Bagi Inaq Senun, ia pernah menandatangani selembar kertas surat tapi tidak ada keterangan tertulis. Alasannya, tanda tangan itu untuk memenangkan perkara gugatan antara Inaq Misrun versus Inaq Ruhun saat itu.

Namun ia tak menyangka jika ternyata surat yang telah ditandatanganinya adalah surat hibah untuk mantan pengacaranya, Riki Riyadi, SH seluas 1000 M2.

“Secara yuridis formil surat hibah itu cacat demi hukum karena tanpa sepengetahuan saya dan keluarga. Jadi, saya menganggap dia (Riki Riyadi, SH, Red) telah memalsukan dan merekayasa surat hibah tersebut,” jelas Inaq Senun.

Baca Juga  Polsek Sakra Gerebek Rumah Penjual Miras Tradisional

Inaq Senun dan keluarganya tak pernah merasa untuk menghibahkan tanah kepada siapapun termasuk kepada mantan pengacaranya.

Sementara itu, Ida Royani, SH, SE, selaku pengacara Inaq Senun menegaskan bahwa oknum pengacara yang diduga merekayasa surat hibah tanah milik Inaq Senun berupaya menguasai dengan segala macam cara. Bahkan, Inaq Senun sempat dilaporkan ke pihak kepolisian dengan dugaan penganiayaan, penghinaan dan pengrusakan.

Ida Royani lalu mempertanyakan keabsahan dan legalitas surat hibah tersebut.
Dalam hukum Islam, suatu akad hibah tidak akan terbentuk jika tidak memenuhi rukun dan syaratnya. Antara lain, pemberi hibah (Wahib) hendaklah seorang yang berkeahlian seperti sempurna akalnya, tidak sakit, serta harus ada sighat yaitu ijab dan Qabul. Atau, perbuatan yang membawa makna pemberian dan penerimaan hadiah.

“Dalam prosedur pembuatan surat hibah, harus diketahui dan disetujui oleh seluruh ahli waris sebagai syarat utama. Dalam hukum Islam pun, tanah yang boleh dihibahkan hanya 1/3 dari luas secara keseluruhan,” kata Ida Royani yang juga Ketua BPW Perkumpulan Advokat Indonesia NTB itu.

Sementara itu, Robi selaku penjaga lahan yang diperintahkan oknum pengacara, Riki Riyadi, SH, tidak bisa berbuat banyak saat keluarga Inaq Senun mengambil alih lahan yang disengketakan itu.

“Saya hanya penjaga, kalau pak kades dan pak Riki yang meminta saya untuk menjaganya saya akan jaga. Dan saya tidak tahu menahu siapa sebenarnya pemilik lahan ini,” ujar Robi sambil menunjuk lahan dimaksud.

Baca Juga  Mantan Kades Banjar Sari Ditahan Penyidik Kejari Lotim

Oknum pengacara Riki Riyadi, SH, yang disebut berkali-kali oleh Inaq Senun dan keluarga, tak berada dilokasi tanah sengketa.
Meski telah dihubungi berkali-kali, Riki Riyadi tak juga menjawab.

Tetapi, dalam penjelasan Riki Riyadi, SH pada pemberitaan sebelumnya beberapa waktu lalu

Riki Riyadi menganggap bahwa tuduhan yang dialamatkan kepadanya merupakan fitnah dan tindakan pencemaran nama baik.

“Tuduhan itu tidak benar. Saya melihat ibu Senun atau kuasa hukumnya tidak mengerti apa itu arti perampasan karena tidak ada pemaksaan dan/ pengancaman dalam pemberian atau penandatangan surat pemberian hibah itu,” papar Riki Riyadi melalui pesan singkat kepada media ini, Senin (15/3) beberapa waktu lalu.

Tetapi, jika kasus ini terus berlanjut tidak menutup kemungkinan pihaknya akan mempertanyakan kembali kepada penyidik atau membuat laporan baru apabila terjadi tindak pidana baru.

Kendati demikian, ujar Riki, ia khawatir Ibu Senun salah melangkah dengan melanggar hukum karena dikompori atau diberikan saran-saran oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Ia juga tidak menampik adanya pihak-pihak yang memanfaatkan situasi saat ini untuk mendapatkan uang atau keuntungan. Pastinya, yang dirugikan dan bertanggung jawab secara hukum adalah Ibu Senun dan keluarganya. (wr-dy)

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar