Perusahaan Ganti Rugi, Petani Ngotot Pertahankan Lahan

0
178
BERKONFLIK: Lahan PT Kesambik di Dusun Koko Putek, Desa Bilok Petung, Kecamatan Sembalun, Lotim masih berkonflik dengan warga. (Saipul Yakin/Warta Rinjani)

SEMBALUN, Warta Rinjani—Konflik penyelesaian lahan masih terjadi di Lombok Timur. Salah satu terjadi di Dusun Koko Putek, Desa Bilok Petung, Kecamatan Sembalun. Petani telah menggarap lahan tersebut sudah lama. Lahan seluas 99 ha itu, izinnya diberikan kepada PT Kesambik. Puncak konflik ini, pada Selasa (17/3), terjadi bentrok antara petani dan PT Kesambik.
 

“Kejadian kemarin itu, petani ingin mempertahankan lahan yang mereka garap,” terang Kepala Wilayah Koko Putek, Mohamad Saleh, Rabu (18/3).

Ia mengatakan, sebenarnya lahan itu milik PT Kesambik dan sudah mengantongi izin. Tapi, pihak PT tak pernah mengelola lahan tersebut. Buntutnya sejumlah petani menggarap lahan tersebut lebih dari 25 tahun. Tapi, pihak perusahaan kembali dan akan mengambil lahan tersebut. 

Baca Juga  Sandiaga Uno: Pacoa Jara, Magnet Pariwisata NTB yang Mendunia

Lantaran hal tersebut, terangnya, sejumlah petani melakukan perlawanan. Mereka ingin mempertahankan tanah yang ia garap. Padahal dari PT Kesambik, ingin mengganti rugi atas tanaman petani tersebut. 

Ia menyebutkan, sebanyak 70 petani yang menggarap lahan tersebut, 80 persen telah setuju dengan ganti rugi sebesar Rp 15 juta per orang. Ia mengakui, petani telah menggarap tanah tetsebut sudah lama. Buntut dari hal tersebut, sejumlah orang diamankan oleh pihak kepolisian. 

“Ada beberapa yang diamankan, tapi sekedar diamankan dan mereka sudah kembali dilepas,” terangnya. 

Ia mengatakan, Pemdes meminta untuk diberikan imbaun lagi kepada petani yang ada di lahan tersebut. Ia mengatakan, Pemdes tak bisa berbuat apa-apa lantaran izin yang PT tersebut lengkap. 

Baca Juga  DBHCHT Triwulan I, Pemkab Lotim Terima Transfer Pusat Rp. 16 Miliar

“Kita minta dari Pemdes kepada pihak PT untuk mengimbau sekali lagi,” terangnya. 

Terpisah, salah seorang warga Dusun Koko Putek, Hadi Hirjan mengatakan, masalah ini sudah dua bulan tetakhir. Tapi, menurutnya, petani yang ada di lahan tersebut bukan orang asli Dusun Koko Putek, melainkan lebih banyak orang luar. Sehingga, tak jarang dari mereka yang tak tahu masalah izin lahan tersebut. 

Ia menagatakan, sebenarnya pihak PT telah berbaik hati mengganti rugi sebesar Rp 15 juta. Namun petani ingin mempertahankan lahan tersebut.

“Kejadiannya tidak seperti yang viral di media, PT Kesambik sudah punya izin, kalau tidak salah sampai tahun ini, tapi informasi sih telah diperpanjang,” terangnya.  Sampai berita ini diturunkan, belum bisa terkonfirmasi ke pihak PT Kesambik. (pol)

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar