Petani Di Lombok Timur Masih Kesulitan Air

0
169

SAKRA, Warta Rinjani – Ironis! Musim hujan telah tiba, tapi kondisi curah hujan yang minim mengakibatkan langkanya air. Prakrtis, masalah ini berdampak terhadap para petani yang akan mengairi sawahnya.

Di kawasan selatan Lombok Timur, khususnya di Desa Sakra Kecamatan Sakra misalnya. Curah hujan yang minim membuat debit air menyusut signifikan.

“Semua petani saat ini masih garuk kepala. Kita menunggu air yang tak kunjung datang,” keluh salah seorang petani bernama Suriyadi, kepada Warta Rinjani, Senin (27/1).

Minimnya debit air, jelasnya, dapat disaksikan dengan jelas dengan keringnya sungai-sungai saluran irigasi. Hingga saat ini, aliran air di saluran irigasi petani masih belum normal.

Tragisnya, kondisi ini menjadi pukulan telak bagi para petani. Betapa tidak, beberapa pekan lalu hujan intensif turun. Namun belakangan, kondisi sebaliknya justru terjadi.

Saat hujan intensif turun, ungkapnya, petani beramai-ramai mulai menggarap sawah dan menanam padi. Hanya saja, belakangan ini kondisi air sulit.

“Kalau seperti ini terus kondisi air, bisa-bisa kami gagal tanam,” ucap Suriyadi.

Ia mengatakan, benih padi tidak bisa ditanam karena rusak. Benih padi yang disemai juga sudah menguning. Rata-rata benih yang disemai berumur 30 hari (satu bulan) bahkan ada yang lebih.

Dikatakan Suriyadi, jika benih tersebut dipaksanakan untuk ditanam, pertumbuhannya tidak baik. Bahkan, jika dipaksakan akan berdampak pada biaya tanam yang kemungkinan melebih biaya normal.

Dalam kondisi normal, jelasnya, modal awal yang dikeluarkan mencapai Rp 3 juta. Alokasi biaya ini dirincikan Rp 1,5 juta untuk ongkos bajak sawah, biaya tanam Rp 1 juta dan konsumsi pekerja sekitar Rp  500 ribu.

Baca Juga  Pemkab Loteng Fasilitasi Dekranasda dan LASQI

Jumlah biaya itu, jelasnya, tidak termasuk dengan biaya ngeder (pembersihan rumput-rumput), beli pestesida, dan pupuk. Ia menyebutkan, seandainya membeli air menggunakan tangki, harga satu tangki saja Rp 300 ribu, maka dalam 1 hektar bisa menghabiskan 10-15 tangki.

“Kalau ingin sistem kebagan melalui petugas P3A (Pekasih) dalam satu hektar amannya harus sedia Rp. 500 ribu,” ucapnya.

Menurutnya, bisa saja membajak sawah dilakukan saat ini. Hanya saja, air harus dibeli lewat petugas P3A (pekasih). Itupun jika dikasi oleh petugas P3A (pekasih) yang berada di hulu.

Namun dengan sistem kebagan (beli air) disebutnya akan rentan menimbulkan konflik antar petani. Apalagi jika dilakukan di malam hari, bukan tidak mungkin petani bisa saling melukai.

Selanjutnya salah seorang petani bawang merah, Amaq Heri mengatakan, kondisi ini bukan hanya menyebabkan petani garuk, tapi juga berakibat tanaman yang dihinggapi oleh hama atau penyakit. 

Ia mencontohkan, tanaman bawang merah. Jenis tanaman yang satu ini jika terus menerus hadapi cuaca sperti akan rentan dihinggapi hama. Daun bawang akan rusak bahkan memutih.

Imbasnya, petani harus melakukan penyemprotan paling tidak 2 hari sekali. Jika tidak siap-siap bawang itu rusak. 

“Kalau kondisi seperti ini terus, harus puas menyemprotkan pestisida. Itu pun bahkan harus setiap hari,” jelasnya. 

Terpisah, Petugas P3A Desa Sakra Selatan, Lukman Taufik mengatakan, melihat cuaca saat ini solusinya adalah alih pola tanam. Petani bisa menanam tanaman seperti jagung, kedelai dan kacang-kacangan.

Baca Juga  Bahu Jalan Wisata Pantai Labuhan Haji Ambrol

Kata dia, informasi yang didapat dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Hujan di Kecamatan Sakra akan normal Februari mendatang.

Terhadap kondisi ini, ia meminta agar pemerintah turun tangan. Tindakan yang bisa diambil seperti sekedar mengumpulkan petugas P3A di setiap desa untuk bertanya langsung kondisi yang terjadi.

Selama ini sebutnya, yang kelihatan dalam urusan air bukan urusan pemerintah desa atau bupati. Namun, persoalan air untuk petani terlihat hanya urusan petugas P3A saja.

“Kalau mereka turun, bisa saja ada solusi. Urusan air ke petani (subak) itu selama ini masih hanya urusan P3A,” ucapnya.

Sakra Selatan, paparnya, memiliki luas lahan pertanian 450 hektare. Misalnya dengan menggunakan sistem kebagan (beli air) satu petugas P3A mendapatkan jatah hanya 4 hektare.

Kalau dilihat jauh sekali dari kebutuhan subak (petani), satu-satunya yang menjadi solusi air, pemerintah yang mempunyai kewenangan untuk melakukan pembukaan dam baru ke wilayah Kecamatan Sakra dan Sakra Timur, dari Bendungan Pandan Dure.

Bendungan Pandan Dure, sebutnya, hanya mengairi tiga kecamatan di selatan ini yaitu Sakra Barat, Keruak dan Jerowaru. Sementara Kecamatan Sakra dan Sakra Timur belum bisa terairi.

Luas wilayah pertanian di dua kecamatan ini sampai pada 5.000 hektar. Padahal dam Pandan Dure ini berada di Kecamatan Sakra dan sewaktu-waktu jika tanggulnya jebol, yang paling pertama terdampak adalah warga Kecamatan Sakra. 

“Segala usaha selaku petugas P3A (pekasih) sudah kami lakukan. Namun kembali kepada kondisi air di hulu, jumlah debit air sampai saat ini belum mencukupi, bahkan sampai saat inipun Dam Pandan Dure belum mengalami peningkatan debit air,” ucapnya. (cr-pol)

Berita dan Photo : Saipul Yakin/Warta Rinjani
Berita Photo : “KONDISI PETANI” Para petani di Kecamatan Sakra mengeluhkan sulitnya air yang akan mengairi sawah mereka, padahal saat ini musim penghujan.

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar