Ponpes Arraufiyah Didirikan untuk Amal Jariyah Keluarga

0
217
Foto: TGH Abdul Karim Syukran

MONTONG GADING, Warta Rinjani—Beragam motivasi ditemukan dalam mendirikan sebuah lembaga pendidikan. Namun tak sedikit yang menghajatkan lembaga pendidikan itu sebagai amal jariyah keluarga.

Ponpes Arraufiyah misalnya. Ponpes yang berada

di Dusun Lendang Jaran, Desa Jenggik Utara Kecamatan Montong Gading ini didirikan untuk amal jariyah keluarga.

TGH Abdul Karim Syukran menceritakan, ponpes yang dibangunnya itu bukan hanya miliknya pribadi. Melainkan untuk semua masyarakat. 

“Sebab Ponpes ini tumbuh dan berkembangnya tidak lepas dari dukungan masyarakat,” katanya kepada Warta Rinjani, Selasa (12/2).

Cikal bakal terbentuknya madrasah ini, bebernya, tidak terlepas dari dukungan keluarga dan masyarakat. Terlebih jauh sebelum pondok pesantren ini ada, ia sempat menyantri di Lombok Tengah (Loteng), tepatnya di Bodak Desa Montong Terep, Kecamatan Praya.

“Saat itu di Bodak bukan sekolah tapi lebih ke nyantri.

Model pendidikan yang saya alami tidak seperti sekolah formal kayak sekarang,” sebutnya. 

Setelah 13 tahun menuntut ilmu, tutur TGH Syukran, ia kemudian pulang ke kampung halaman dengan membawa bekal ilmu agama. Hanya saja, karena tidak mengetahui model pendidikan formal, ia pulang ke kampung halamannya sebagai petani dan peternak.

Baca Juga  Kabur Saat Pelatihan di BLKLN Jatim, CPMI Asal Lotim Alami Patah Tulang

Saat itu, lanjutnya, belum ada bayangan untuk membangun sebuah pondok pesantren. Namun seiring berjalannya waktu, ia kemudian membuka diniyah di rumahnya. 

“Banyak sekali masyarakat yang mengantarkan anak-anaknya untuk mengaji,” jelasnya.

Syukran mengaku pada awal mendirikan diniyah hanya dua guru yang membimbing murid-muridnya. Kedua guru itu adalah ia sendiri dan Wirasih.

Di diniyah yang dibukanya, ia dan Wirasih mengajarkan Alquran. Di tempat ini pula ia mengajarkan hal-hal dasar dalam ilmu agama, seperti bersuci (wudhu) dan tata cara salat yang benar.

Seiring perjalanan waktu, bebernya, anak-anak yaang mengaji di tempat ini semakin banyak. Jumlah mereka juga tidak sanggup lagi ditampung.

Sejak saat itu, ia berinisiatif mendirikan bangunan sederhana yang lebih luas. Bangunan tersebut terbuat dari bambu petung dengan atap alang-alang. 

“Saat hendak membangun, seolah mendapat berkah, saya tidak tahu warga berdatangan membawa batu bat untuk berpartisipasi,” tegasnya.

Hajatan awal ponpes yang didirikan ini semula dari bambu. Namun karena banyaknya bahan material yang dibawa warga, akhirnya bangunan bambu itu diurungkan.

Baca Juga  Kini, Lotim Sudah Berstatus Zona Oranye

Setelah jalan diniyah tersebut, lanjut Syukran kemudian ada seorang guru SD yang memintanya membuat SMP terbuka. Mendapat ide seperti itu, sang tuan guru lantas mengamininya.

Kepada si pemilik gagasan, tuan guru langsung menyerahkan pengelolaannya kala itu. Ini dilakukan lantaran dirinya mengaku tidak paham dengan model pengelolaan sekoilah modern.

Singkat cerita, terbangun lah SMP terbuka. Setelah banyak siswa-siswinya yang tamat kemudian diarahkan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. 

Perjalanan SMP yang didirikan ini terbilaang sangat mulus. Setelah melepaskan 5 kali tamatan, akhirnya SMP terbuka berubah menjadi SMP induk.

“Baru lah dibangun madrasah tsanawiyah pada tahun kemudian madrasah aliyahnya sampai saat ini,” bebernya.

Salah seorang guru yang mengajar di Yayasan Sosial Arraufiyah, M Fauzi menyebutkan, beberapa waktu lalu sempat diadakan diniyah di pagi hari, tapi sekarang dipindahkan ke sore hari.
“Yayasan ini bisa dibilang mandiri karena tidak pernah ke salah satu organisasi maupun yang lainnya karena namanya saja yayasan sosial,” singkatnya. (cr-yk)

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar