Puskesmas Sakra Tekan Kasus DBD

0
198
MASIH DIRAWAT: Para korban suspek DBD di Puskesmas Sakra masih dirawat. (Sulpi/Warta Rinjani)

SAKRA, Warta Rinjani—Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) akhir-akhir ini cukup meresahkan masyarakat, terutama di sekitar Kecamatan Sakra Lombok Timur. Keresahan ini lantaran beberapa waktu lalu, puluhan warga di Dusun Tanjah-Anjah, Desa Pengkelak Mas dilarikan guna mendapat penanganan medis karena terserang gigitan nyamuk Aedes Aigipty tersebut.

Ditemui Warta Rinjani di ruang kerjanya, Kepala Puskesmas Sakra, Muhsan menjelaskan, kasus DBD yang ditangani mulai Desember 2019 hingga Februari 2020 sudah terkendali. Dalam catatan pihaknya, suspek DBD ini puncaknya pada Desember 2019 lalu.

“Mulai awal Januari itu ada 22 kasus, tapi Februari ini ini bisa dikurangi. Yang tertangani saat ini hanya 12 kasus dan ada penurunan,” katanya, Selasa (18/2).

Baca Juga  Sandiaga Uno: Pacoa Jara, Magnet Pariwisata NTB yang Mendunia

Pihaknya mengaku terus meminimalisir jumlah kasus DBD di wilayah kerjanya. Penurunan suspek DBD ini disebutnya tidak lepas dari petugas puskesmas yang turun sosialisasi ke dusun dan desa.

Selama turun ke dusun dan desa, jelasnya, pihaknya melakukan pengasapan. Langkah ini dilakukan terutama ke tempat -tempat yang dianggap sebagai tempat bersarangnya jentik-jentik nyamuk.

Selain fogging, langkah lain yang dilakukan pihak Puskesmas Sakra yakni dengan menggelar lomba kebersihan tingkat kecamatan. Setelah itu baru pihaknya turun sosialisasi ke desa memberantas perkembangbiakan nyamuk tersebut.

“Langkah ketiga kita yakni dengan membentuk tim gerak cepat. Ketiga langkah ini Alhamdulillah sudah bisa menekan kasus DBD yang dulunya banyak kasus, kini sudah bisa ditekan,” ujarnya.

Baca Juga  Pasien Covid-19 Dirawat di RSUD Selong, Tersisa 6 Orang

Ketika ada muncul suspek yang mengarah ke DBD, terangnya, pihaknya langsung survei dan melakukan pengasapan. Dalam jangka tiga hari kegiatan itu selesai dan tidak ada muncul sumber nyamuk.

“Kita tetap turun mulai dari ada gejala dan berupa kasus. Kita juga lakukan fogging focus. Fogging focus ini hanya bagi desa mandiri yang sumber dananya melalui dana desa sendiri,” terangnya.

Dengan menurnunnya kasus DBD ini, ucapnya, pihaknya tidak ingin dicap lagi sebagai wilayah yang rentan. “Kasus DBD menurun dan terkendali, maka kita bebas dari KLB tersebut,” tutupnya. (sul)

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar