Rawatib Sulap Kayu Bekas Bernilai Ekonomis

0
126

WANASABA, Warta Rinjani–Mendatangkan pundi-pundi rupiah dapat dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya dengan menekuni pembuatan aksesoris berbahan kayu bekas.

Itulah yang dilakukan Rawatib, warga asala Labuan Lombok, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur.  Dari tangan pria yang satu ini, segala jenis kayu bekas bisa dibuat bernilai ekonomis.

Belum lama ini, Warta Rinjani mengunjungi pria tersebut. Dalam kunjungan tersebut, Rawatib tengah asyik menciptakan beragam aksesoris dengan peralatan yang dimilikinya.

Pria yang akrab dipanggil Atib ini mengaku, ia menerjunkan diri di duni ayang sedang digelutinya ini karena terinspirasi dari orang-orang luar negeri. Dimana tidak sedikit kemampuan seni yang dimiliki orang luar negeri bisa dikapitalisasi bernilai ekonomis.

Atib memaparkan, kegiatannya ini baru dimulai satu tahun belakangan. Awalnya, ia hanya membuat ukiran sederhana dan menggunakan alat sederhana pula.

Kemampuan seni dan imajinasi membuat aksesoris yang dimilikinya ini diakui sudah ada sejak dulu. Namun, ia tidak pernah menyalurkannya ke hal-hal yang sifatnya bernilai ekonomis.

Baca Juga  Pemprov NTB Komitmen Membangun SDM

Ia berpikir bahwa kemampuan seni yang dimilikinya hanya sekdar hobi saja. Tak heran jikan kariyanya hanya dipajang di rumah sendiri.

Namun, sejak melihat orang-orang luar menjadikan kariya seni bernilai ekonomis, ia langsung mencoba untuk menyalurkan kemampuannya. Inipun dilakukan  sambilan menekuni pekerjaan yang lain. 

Kata Atib, kayu bekas biasanya dipandang tidak memiliki nilai ekonomis. Namun jika sedikit diberikan sentuhan seni, maka tidak mungkin kayu bekas juga bisa mendatangkan uang.

Untuk bahan dasar aksesoris yang diciptakannya, Atib biasanya menggunakan kayu bekas sisa somil yang dibuang. Tak jarang ia juga menggunakan kayu-kayu bakar.

Ia menyebutkan, setiap aksesoris yang diciptakannya dibandrol dengan harga bervariasi. Untuk per unit kadang bisa dihargakan Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu. Harga yang diberlakukan tergantung dari tingkat kerumitannya.

Hasil karyanya ini, bebernya, biasanya dibeli pemilik bungalow. Bahkan akhir tahun kemarin, ia mengirim aksesoris ciptaannya ke NTT.

Baca Juga  Dikbud Lotim Respon Positif Aturan Pernikahan Dini Dikalangan Pelajar

Adanya permintaan dari luar, bebernya, karena ia memasarkan barangnya dengan memanfaatkan jejaring media sosial. Biasanya, ia menggunakan media sosial seperti Facebook dan Instagram.

“Kedepan ini, bersama Pokdarwis kita akan membuat karya lainnya. Ini kita lakukan sembari menunggu peluncuran obyek wisata Gua Biawak,” ucapnya. 

Terpisah, Ketua Pokdarwis Labuan Lombok, Mukhtar Daud mengatakan, ia sengaja mengumpulkan orang-orang yang punya kemanpuan dalam dunia seni. Ini karena Pokdarwis sangat erat kaitannya dengan dunia seni.

Kata Daud, tempat wisata tanpa didukung dengan karya seni akan sangat timpang. Keberadaan tempat wisata tanpa benda atau barang bernilai seni akan terasa janggal.

Andai pariwisata di daerah ini kian maju dan ramai pengunjung, jelasnya, aksesoris-aksesoris yang diciptakan rekan-rekannya akan dijadikan sebagai cendramata. Baik berupa gantungan kunci, hiasan lampu, hiasan dinding dan aksesoris lainnya.

“Karena sebentar lagi kita luncurkan daerah wisata di Labuan Lombok ini. Karya seni dan aksesori yang dibuat rekan kita akan menjadi karya pertama yang bisa dilihat oleh wisatawan,” tandasnya. (cr-pol) 

Saipul Yakin/Warta Rinjani

AKSESORIS: Inilah sejumlah aksesoris berbahan kayu bekas yang diciptakan Rawatib.

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar