Sistem Pengelolaan TN Babul Bisa Diadopsi Lotim dan BTNGR

0
147

MAROS, Warta Rinjani—Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) tercatat menjadi salah satu dari 7 kawasan yang hak pengelolaannya berada di bawah Kementerian Kehutanan RI. TN Babul memiliki luas kawasan sekitar 43.750 hektar lebih.

Kawasan hutan lindung yang menjadi taman nasional itu ditetapkan berdasar Surat Kemenhut RI No. 398 tahun 2004. TN Babul juga telah ditetapkan sebagai kawasan Heritages Park tanggal 20 Oktober 2019 di Vietnam.

Berada di ketinggian 600 mdpl, TN Babul merupakan salah satu destinasi wisata favorit. Lokasinya pun terletak di tiga kabupaten. Diantaranya, Kabupaten Maros, Pangkep dan sebagian kecil berada di Kabupaten Bone.

Kawasan TN Babul ini memiliki bentuk batuan kars. Jenis batuan ini menambah kesan kokohnya perbukitan yang menjulang tinggi hingga 180 derajat.

Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul), Ir. Yusaac Mangetan M.AB mengakui, bahwa TN Babul sebagai daerah kawasan taman nasional terindah dan terluas kedua setelah Taman Nasional yang berada di Vietnam. Bentuk bebatuan kars sebagai daya tarik tersendiri bagi pengunjung atau wisatawan asing yang berkunjung ke lokasi tersebut.

Baca Juga  Buka Prodi Dokter Spesialis, Wagub NTB Apresiasi FK UNRAM

“Pengelolaan wisata terpadu bentuk kerjasama  dengan Pemkab Maros. Ide dan gagasan yang sama dengan Bupati Maros menjadikan Taman Nasional yang terletak di Maros terjaga hingga kini,” ujar Yusaac Mangetan kepada tim ekspedisi Pemkab Lombok Timur saat menjajal areal kawasan TN Babul, Senin (27/1) lalu.

Pengembangan wisata tersebut menurut Yusaac, membuahkan hasil dengan digelontorkannya anggaran pusat dari Bapenas RI senilai Rp. 18,5 miliar. Anggaran tersebut diperuntukkan bagi pengembangan site Babul dan site Patunuang dan beberapa kawasan taman nasional lainnya.

“Walaupun bantuan SBSM dari Bapenas itu tidak sebesar yang didapatkan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), tetapi sistem kerjasama yang dikembangkan oleh Pemkab Maros dapat diadopsi oleh Pemkab Lotim,” pinta Yusaac Mangetan.

Yusaac yang juga putra daerah setempat mengakui bahwa Balai TNGR sebagai kawasan super prioritas dibanding TN Babul. Sehingga diyakini limpahan anggaran pusat akan tertuju ke pengembangan TNGR.

Baca Juga  Wagub NTB Minta Dukungan Akademisi Sukseskan Revitalisasi Posyandu

Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Ir. Dedy Asriadi berharap banyak kepada Pemkab Lombok Timur bersama-sama mengelola kawasan obyek wisata yang masuk di dalam kawasan TNGR.

Dedy Asriadi mengungkapkan, obyek wisata Joben atau Otak Kokoq di Kecamatan Montong Gading dan masuk dalam kawasan TNGR sebagai salah satu lokasi yang pengelolaannya meniru pola TN Babul, Maros. Model pengelolaan itu bentuk solusi yang tepat guna mengurai konflik yang selama ini terjadi.

“BTNGR telah menyiapkan 106 hektar yang pengelolaannya bersama-sama dengan Pemkab Lotim yang selama ini masuk dalam kawasan taman nasional,” ujar Dedy.

Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani memiliki luas 41.330 hektar lebih. Dengan membentuk pola kerjasama pengelolaan wisata obyek wisata pemandian Joben, justru akan menguntungkan kedua belah pihak (Pemkab Lotim-BTNGR). 

“Mekanisme kerjasama pengelolaan itu akan kita bahas nantinya untuk mendapatkan kesepakatan sehingga tidak ada yang dirugikan baik itu Pemkab ataupun BTNGR. Termasuk pengelolaan wisata yang akan dikelola oleh Pokdarwis atau desa setempat,” harapnya. (dy)

Berita & Photo : Suhaidi/Warta Rinjani
Berita Photo : “EKSPEDISI” Bupati Lombok Timur, HM Sukiman Azmy bersama jajaran BTNGR saat menjajal ekspedisi studi banding di TN Babul.

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar