Tambang Pasir Tak Berizin Dikeluhkan

0
178

LABUAN HAJI, Warta Rinjani—Keberadaan sejumlah tambang pasir tak berizin di Desa Korleko mulai dikeluhkan. Keberadaan tambang pasir ini dinilai sangat merugikan bagi warga.

Kepala Desa Korleko, Wildan mengungkapkan, dampak dari operasiaonal tambang pasir ini sangat merugikan masyarakatnya, terutama petani. Adanya tambang pasir ini menmgakibatkan sungai yang menjadi sumber air irigasi petani tercemar, bahkan tidak berfungsi.

“Ada beberapa tambang pasir di sini yang tidak berizin. Dampaknya sangat merugikan masyarakat, terutama petani,” keluhnya, Minggu (26/1).

Limbah tambang pasir berupa lumpur disebutnya tidak saja membuat keruh air. Lebih dari itu, lumpur tersebut mengakibat adanya sedimentasi signifikan dan mengganggu saluran irigasi.

Baca Juga  Berdayakan Ekonomi Mustahiq, Baznas Lotim Gandeng Instansi Pemerintah

Wildan menjelaskan, status tambang pasir yang beroperasi di desa itu merupakan milik warga setempat. Ia mengaku pernah melakukan peringatan. Hanya saja, pemilik beralasan lahan yang ditambang hendak dimanfaatkan menjadi ladang.

Dalih seperti itu, ungkapnya, membuatnya tidak mampu berbuat apa-apa kepada warga. Namun tidak dinafikkan ia secara terus menerus dituding mendapat keuntungan dari penambang pasir tersebut.

“Tambang pasir ini milik warga setempat. Kita pernah mengingatkan, tapi warga berdalih memanfaatkan ladang untuk membuat sawah yang efektif. Kalau seperti itu alasannya, kita tidak bisa berbuat apa-apa, sementara masyarakat menganggap kita mendapat keuntungan, padahal tidak,” ungkapnya.

Baca Juga  Bahas PDAM, LSM LIRA -Anggota Komisi III, Bersitegang

Wildan pun mengaku telah mengajukan persoalan ini ke Dinas Lingkungan Hidup dan Keberaihan (DLHK) Lotim. Ia meminta agar tambang tak berizin ini ditertibkan. Sayangnya hingga kini tambang-tambang itu tak kunjung ditertibkan.

Karena menemui jalan buntu, Wildan pun meminta kepada para penambang agar beraktivitas di malam hari. Permintaannya ini disampaikan agar para petani merasa tidak dirugikan. Namun begitu, pengusaha tetap saja melakukan aktivitasnya seperti biasa.

“Kalau aktivitas penambangan dilaksanakan malam hari, setidaknya petani bisa menggunakan air yang mengalir di sungai,” ujarnya. (cr-hen)

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar