Telaga Biru, Spot Wisata Terabaikan

0
1088

BERADA di kawasan hutan kaki Gunung Rinjani, tidak menjadi jaminan obyek wisata Telaga Biru ramai pengunjung. Otoritas Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) sebagai pemegang hak kelola tidak serta merta memberikan ruang perhatian yang memadai.

Jauh sebelum pihak TNGR memberi “warning” kepada warga, Telaga Biru ini sempat dikelola sekelompok pemuda dari Dusun Paok, Desa Perian Kecamatan Mongtong Gading, Lombok Timur (Lotim). Namun semenjak ditinggalkan para pemuda desa setempat, keberadaan Telaga Biru mulai terancam.

Obyek wisata telaga yang menghamparkan pemandangan gemerlap berwarna biru kini sudah mulai tak terurus. Pengunjung pun semakin sepi.

“Wisata alam Telaga Biru belum sepenuhnya kami garap karena belum ada kejelasan dari pihak TNGR. Sehingga obyek wisata khusus bagi pengunjung yang cocok untuk swafoto dan playing fox itu terlantar,” ujar pemuda setempat, Syaiful Bahri, kepada Warta Rinjani, belum lama ini.

Panorama dan latar pemandangan yang sangat indah menjadi daya tarik tersendiri telaga ini. Tak heran jika pemuda setempat tertarik mengelolanya.

Hanya karena terbentur kewenangan dalam hal pengelolaan, rupanya menjadi penyebab keinginan kelompok pemuda setempat mengurungkan niatnya membangun obyek wisata tersebut.

Sejauh ini, pihaknya selalu berhati-hati dalam membangun spot wisata alam itu. Meski masih dalam tahap awal, Telaga Biru yang diprakarsai pemuda dusun setempat sejak tahun 2018 lalu telah mampu mendatangkan pundi-pundi rupiah bagi masyarakat di sana.

“Walaupun keberadaannya singkat tapi bisa memberikan pemasukan kepada masyarakat sekitar. Itu terbukti dari hasil jumlah pengunjung yang terdaftar pada administrasi pengunjung. Sayangnya, hanya pengunjung lokal saja yang kerap mengunjungi obyek wisata Telaga Biru ini,” ujar Syaiful Bahri yang akrab dipanggil Epol itu.

Baca Juga  Pemprov NTB Siap Sukseskan Migrasi TV Analog ke TV Digital

Diakui Epol, karena belum ada kejelasan dari pihak TNGR membuat destinasi wisata tersebut menjadi kurang terurus. Meskipun sejumlah tawaran dari berbagai pelaku wisata yang menawarkan ide dan gagasannya untuk membangun spot-spot wisata. 

“Sekali lagi kami dilarang membuat bangunan yang sifatnya permanen oleh TNGR,” akunya.

Meski terbilang singkat, hasil dari pengelolaan wisata Telaga Biru, menjadi kas dusun untuk membangun musala. Seiring berjalannya waktu Telaga Biru mulai dilirik oleh TNGR untuk rencana pengembangan wisata.

Keinginan pemuda setempat mendapat respon dari Ketua Pemuda Dusun Serijata, Desa Perian, Kecamatan Montong Gading, Hasbi. Pihaknya juga ikut terlibat dalam pengelolaan destinasi wisata Telaga Biru.

Ia mengungkapkan bahwa pihak desa memberikan dukungan setiap aktivitas pemuda. Apalagi dalam pengembangan wisata Telaga Biru. 

“Cuma yang terlibat langsung untuk binaan dari pemdes masih terbilang sangat kurang,” jelasnya.

Ia berharap supaya ada kejelasan dari pihak pemerintah khususnya TNGR  untuk mengelola bersama-sama pemuda setempat. Bahkan, ia bersedia mengikuti aturan TNGR apabila diberi kesempatan mengelola wisata Telaga Biru.

Kasi Pemerintahan Desa Perian, Humaidi Al Aisar menuturkan, awal mula keberadaan Telaga Biru diinisiasi masyarakat. Warga setempat membendung aliran sungai di sekitar kawasan hutan agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber air irigasi pertanian dan air kebutuhan air bersih.

Baca Juga  Penanganan Bahu Jalan yang Amblas di Pantai Lab. Haji Perlu Kajian

“Awalnya seperti itu. Air yang ditampung untuk masyarakat di sekitar Dusun Gunung Paok,” jelasnya.

Mengingat lokasinya cukup lumayan tinggi, maka air yang mengalir di kawasan hutan dibendung dan dimanfaatkan airnya.

Air yang jernih dan keberadaannya yang dianggap cocok untuk obyek wisata, lalu dimanfaatkan oleh pemuda setempat. Telaga Biru itu kemudian sebagai salah satu lokasi wisata terutama bagi penduduk sekitar. 

“Pemuda-pemuda yang ada di dusun itu akhirnya meminta izin kepada desa supaya bisa mengelola. Namun pemdes menyarankan agar berkomunikasi terlebih dahulu dengan pihak TNGR,” jelasnya.

Izin pengelolaan lokasi Telaga Biru itu masuk dalam wilayah hutan konservasi TNGR.  Sebelumnya bisa dimanfaatkan sebab ada izin yang diberikan untuk memanfaakan hutan. Bentuk izinnya, Surat Keputusan dari daerah terkait Hutan Kemasyarakatan (HKM). Karena TNGR lah yang berhak atas lokasi tersebut.

Sebelumnya kata Humaidi, beberapa waktu lalu terdapat rumah jaga milik TNGR. Karena kondisinya tak terurus, oleh pemuda setempat lalu dimanfaatkan untuk lokasi parkir.

Sejak dikelola menjadi obyek wisata muncul pedagang lainnya yang berasal dari warga setempat. Meski di lain sisi, pemerintah desa desa tidak mendapatkan apa-apa dari pengelolaan wisata Telaga Biru.

“Ketika masih berjalan dan menjadi lokasi pengunjung, kegiatan ekonomi di lokasi itu lumayan banyak. Sekarang ini sudah tidak nampak lagi,” jelasnya.

Bahkan, pengunjung tidak hanya warga setempat. Spot wisata Telaga Biru juga dikunjungi oleh wisatawan lokal dari Mataram dan Lombok Barat.

“Mahasiswa Unram dan Univeritas Gunung Rinjani dan pejabat lainnya sering mengunjungi lokasi itu hanya sekedar untuk berlibur,” tandasnya. (cr-yk)

HAIRUL SUBAWAIH/WARTA RINJANI

MENAWAN: Telaga Biru salah satu obyek wisata yang menawan tapi sudah tak terurus.

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar