Terasi Jor Melegenda, Kesulitan Bahan Baku

0
246
MELEGENDA: Keterampilan membuat terasi oleh warga Dusun Jor dan rasanya yang enak sudah melegenda ke berbagai penjuru tanah air.

JEROWARU, Warta Rinjani—Membuat terasi bagi masyarakat Dusun Jor, Desa Jerowaru, Kecamatan Jerowaru adalah hal yang lumrah. Tidak sedikit dari warga dusun itu menggantungkan penghidupannya dari pembuatan penyedap makanan tersebut.

Aktivitas pembuatan terasi dilakukan sejumlah warga di Jor sudah berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Aktivitas ini bahkan dilakukan turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Siapa sangka terasi hasil produksi Dusun Jor ini rupanya belakangan sudah mendapat tempat tersendiri di lidah masyarakat. Rasanya yang dianggap enak membuat tingkat produksi terasi di daerah ini terus meningkat.

Bagi masyarakat luar Lombok, tak jarang menyebut terasi Jor adalah terasi Lombok. Label Lombok disematkan untuk terasi Jor lantaran rasanya dianggap lebih enak dibanding terasi dari daerah lain.

Dari penamaan itu, terasi Jor sebenarnya tidak hanya dikenal dan menjadi konsumsi warga lokal di Pulau Lombo saja. Terasi Jor juga dikonsumsi di luar daerah lantaran rasanya dianggap melegenda.

“Terasi di Jor ini ada sejak dulu, sebelum saya lahir,” kata salah seorang pelaku industri terasi, Suarni, kepada Warta Rinjani, belum lama ini.

Pembuatan terasi di lingkungan keluarga Suarni sama seperti sejumlah warga yang lain. Aktivitas itu dilakukan secara turun temurun.

Di lingkungan keluarganya, jelasnya, pembuatan terasi sudah dilakoni sejak 20 tahun lalu. Ia sendiri menggeluti usaha sejak satu dasa warga terakhir ini.

Sejak ditangani dirinya, bebernya, produksi terasi yang dihasilkan mulai berkembang signifikan. Permintaan tidak saja datang dari dalam daerah, tapi juga luar daerah. 

“Pesanan yang datang ke kami saja ada yang dari Sumbawa, Bima, Dompu, Jawa dan Makassar. Bahkan pesanan juga datang dari luar negeri seperti Mesir,” ucapnya. 

Meski banyak pemesan, terangnya, proses pengiriman tidak dilakukan langsung oleh dirinya. Pengiriman ditangani oleh para pengepul yang berasal dari berbagai daerah.

Para ppengepul itu, lanjutnya, datang dari berbagai daerah dan memiliki label tersendiri. Namun begitu, para pengepul tersebut diharuskan menggunakan nomor izin Produk Industri Rumah Tangga (P-RIT) yang telah ia kantongi sejak tahun 2000 lalu. 

Dengan cara ini, jelasnya, ia tidak khawatir kemungkinan adanya klaim terhadap produknya dari pihak luar. Semua pengepul yang mengambil terasi kepada dirinyaa diharuskan menggunakan nomor P-IRT yang ia kantongi.

Baca Juga  Pemohon SIM di Satlantas Lotim Bisa Dapatkan Vaksinasi Secara Gratis

“Bukan hanya nomor, tapi alamat pun harus menggunakan alamat tempat terasi ini diproduksi, yaitu rumah saya,” ucapnya.

Selain izin P-IRT, katanya, ia juga telah mengantongi izin label produk halal dari Majlis Ulama Indonesia (MUI). Setiap tiga bulan sekali dari Dinas Kesehatan dan BPOM juga datang memeriksa produk olahannya. 

Ia menjelaskan, terasi yang ia buat berbahan dasar udang ebi dan garam. Dalam proses pembuatannya terlebih dahulu udang dikeringkan selama satu hari. 

Setelah kering, lalu udang dan garam dicampur jadi sebuah adonan. Takarannya, satu karung besar berisi 35 kg dicampur dengan garam ukuran ember kecil yang berukuran 7 sampai 9 kg. 

Berikutnya setelah menjadi adonan, baru digiling sampai lembut. Setelah itu baru lah dibentuk dan di jemur selama dua hari.

Sedianya proses produksi terasi di Jor tidak ada kemasan. Namun mulai tahun 2017 yang lalu, pihaknya mencoba membuat kemasan dengan berbagi varian. 

“Kemasannya itu berbagai bentuk sesuai harga. Ada yang persegi empat panjang, ada yang bulat. Ada juga kita buat rempah dimasukan dalam toples kecil,” katanya. 

Masih kata Suarni, penjualan industrasi ini mulai dari harga Rp 4 ribu yang belum dikemas. Namun untuk produk yang dikemas harganya mulai Rp 4.500 sampai dengan Rp 10 ribu. Sementara jika dalam partai besar, ia menjual Rp 4 ribu per kilonya.

“Berarti dalam satu kwintal itu kita dapatkan Rp 4 juta,” katanya. 

Pesanan terhadap produknya ini diakuinya belum pernah dibukukan. Alhasil, ia mengaku tidak tahu persis berapa hasilnya per bulan.

Salah satu alasan tidak tertibnya pembukuan, terangnya, karena hasil penjualan lansung digunakan untuk membeli bahan baku seperti udang dan garam. Padahal dalam satu tahun, produknya laku sampai dengan empat sampai lima ton.

“Kekurangan saya tidak pernah membukukan pendapatan saya,” katanya. 

Senada juga disampaikan pelaku industri terasi lainnya, Fauziah. Ia mengatakan, industri terasi yang ia geluti terkendala pada bahan baku yakni udang ebi. Bahan pokok udang ini bahkan dipesan ke Sumbawa, bahkan dari Jawa.

Baca Juga  Bunda Niken Ajak Kader PKK NTB Maksimalkan Penggunaan Aplikasi SIP Posyandu

“Dalam satu kilogram, udang kami beli seharga Rp 40 ribu per kilo. Padahal terkadang kami memesan udang sampai 4 ton,” ujarnya.

Sulitnya bahan baku pembuatan terasi ini disebutnya membuat para pelaku pembuat terasi kewalahan. Tak heran jika untuk mengamankan bahan baku demi memastikan kelasngungan produksi, pihaknya kadang mengeluarkan uang sampau puluhan juta.

Menurutnya, udang lokal tidak bagus dijadikan terasi. Penyebabnya karena udang lokal kualitasnya tidak seperti udang ebi luar daerah. Udang lokal saat digiling tidak bisa dibentuk.

Ia menjelaskan, meski bahan baku diluar ini lebih mahal, ia tetap membelinya lantaran mempetahankan kualitas produknya. Dalam satu karung udang dengan berat 35 kg dapat menghasilkan terasi sampai satu kwintal terasi. 

“Tapi yang satu kwintal itu belum termasuk upah pekerja yang mencapai Rp 150 ribu per orang. Dalam produksi satu kwintal terasi harus menggunakan tiga sampai empat pekerja harian,” katanya. 

Fauziah berharap, ada bantuan pemerintah berupa ruang pasar yang lebih luas lagi. Ia menilai jika terus seperti tidak menutup kemungkinan industri rumahan terasi ini akan tutup.

“Pesaing kita banyak, belum lagi mereka yang menggunakan pengawet,” ujar Fauzi. 

Terpisah Sekretaris Desa Jerowaru, Wildan Jauhari mengatakan, industri terasi di Dusun Jor akan dibuatkan unit khusus dari Badan Usaha MIlik Desa (BUMDes).  Pemerintah desa setempat akan bertindak menjadi pengepul untuk memperlancar pemasaran terasi warga.

“Pemdes sudah menganggarkan sekitar Rp 75 juta tahun ini ke Bumdes,” tegasnya. 

Lewat anggaran tersebut, katanya, nantinya Bumdes akan membeli olahan industri tersebut dengan harga yang bisa menguntungkan pelaku industri terasi. Hanya saja, dalam proses produksi secara masal, para pembuat terasi disebutnya tidak ada yang mau bekerja secara berkelompok.

“Jadi nanti pasaran terasi ini juga melalui website desa. Di website itu nanti akan ada produk olahan asli desa Jerowaru. Jadi siapa pun tamu ke Jerowaru minimal ia beli terasi,” katanya. (pol) 

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar