Trend Penderita HIV/AIDS Di Lotim Cenderung Turun

0
163

Warta Rinjani – Hingga akhir tahun 2019 jumlah kasus penderita HIV/AIDS di Kabupaten Lombok Timur dinilai masih stagnan yakni berjumlah 29 penderita dibanding tahun lalu. Bahkan, trendnya cenderung menurunkan kendati relatif kecil. Hasil data yang diterbitkan Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur, tahun 2018, kasus penderita HIV berjumlah 16 orang dan AIDS sebanyak 13 orang.

Sekretaris Dinas Kesehatan Lombok Timur, Mahalli Ulil Amri, M. Kes menyebutkan, kasus HIV tahun 2019 sebanyak 15 penderita.

Namun, kasus penderita AIDS justru meningkat 1 kasus menjadi 14.

Menurutnya, hasil pendeteksian kasus tersebut lebih dimungkinkan karena faktor keluar masuknya migran dari dan ke Lombok Timur. Juga, dimungkinkan mereka yang pernah bekerja diluar negeri.

Tidak dipungkiri lagi, tambah Mahalli Ulil Amri bahwa kecendrungan semua penderita yang terjangkit virus mematikan tersebut kebanyakan tertular karena hubungan seksual. Dan, sebagian besar penderitanya pun justru menimpa ibu-ibu rumah tangga. Data yang masuk pada Dikes Lotim, 70 persen kasus penularan HIV/AIDS ternyata mereka yang sudah memiliki pasangan atau telah berkeluarga. Bahkan, diantaranya sudah menularkan kepada anaknya. “Resiko tertular kepada anaknya cukup besar, dan kami sudah melokalisir kasus tersebut,” kata Mahalli Ulil tanpa menyebutkan identitas penderita.

Baca Juga  Pemkab Lotim Terima Bantuan KJA Senilai Rp. 10 Miliar

“Virus itupun juga bisa tertular melalui jarum suntik atau narkoba atau karena transfusi darah yang dibawa penderita. Namun, sejauh ini belum ada kejadian di Lotim tertular karena transfusi darah,” ujarnya.

Dinkes Lotim Kata Mahalli Ulil Amri, fokus pada 4 kegiatan pokok terkait pencegahan dan penanggulangannya diantaranya, melakukan sosialisasi dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan baik dari lintas sektor pemerintah maupun swasta dan berbagai jenjang pendidikan.

Selanjutnya, advokasi kepada mereka yang terjangkit HIV/AIDS sehingga dapat tertangani dengan baik. “Advokasi tersebut memberikan peluang bagi mereka untuk berkomunikasi lebih intens dengan masyarakat dengan tetap menjunjung hak-hak asasi manusia dan juga mempertimbangkan kerahasiaan identitas penderita,” imbuh Mahalli Ulil Amri seraya menyebutkan bahwa tetap memberikan edukasi dan pengamanan dari penderita sendiri serta lingkungannya, tentang dampak resiko dan pengobatan yang terstruktur dan kontinyu.

Program Dinkes Lotim lainnya yakni, pemberdayaan. Penderita diberi kesempatan untuk menjalankan aktivitasnya dengan harapan dapat mengendalikan dirinya untuk tidak menularkan kepada orang lain. Tetapi, kepada pasangannya dengan menggunakan alat kontrasepsi setiap melakukan hubungan seksual. Juga memberikan pemahaman untuk tidak menggunakan alat-alat lainnya seperti pisau cukur, sikat gigi termasuk transfusi darah dari penderita HIV/AIDS.

Baca Juga  Curanmor Modus Tebus Lagi Marak di Lotim, 7 Pelaku Diamankan

Program Kemitraan sambungnya, untuk memberikan keleluasaan bagi mereka yang terjangkit virus tersebut menjadi fasilitator penyuluhan. Kondisi mereka bisa dimanfaatkan dengan menggali potensi yang ada pada mereka untuk menjalin kemitraan dengan pihak lain yang memiliki riwayat kasus yang sama termasuk dengan sektor lainnya.

“Dikes menjadikan mereka sebagai “jembatan” dengan penderita lain untuk penyuluhan tanpa kita harus turun langsung,” jelasnya.

Dia mengingatkan semua pihak terutama ibu hamil yang ingin melahirkan disarankan untuk memeriksakan diri disetiap puskesmas dan rumah sakit terdekat. Sehingga petugas kesehatan siap-siaga menangani mereka khususnya penderita HIV/AIDS.

“Ibu hamil harus memeriksakan darahnya dengan tujuan deteksi dini apalagi mereka yang sudah terjangkit HIV/AIDS. Sejauh ini dari beberapa kasus telah ditemukan melalui hasil deteksi yang dinyatakan tertular,” sebut dia.

Sejauh ini petugas kesehatan dilapangan telah menemukan bahwa 90 persen kasus telah terjaring dan itu merupakan hasil survey land  epidemiologi, dimana ditemukan gejala-gejala sehingga dilakukan screening. “Screening ini dimaksudkan untuk melokalisir penderita-penderita tersebut sehingga tidak menularkan kepada orang lain,” jelasnya.

Dia juga tidak menampik bahwa beberapa penderita HIV/AIDS ada yang meninggal dunia. Namun, kematian mereka bukan disebabkan oleh penyakit tersebut melainkan karena penyakit lain. “HIV/AIDS hanyalah pintu masuk saja karena adanya penurunan daya tahan tubuh. Mereka meninggal dunia mungkin  dikarenakan penyakit TBC, penyakit kulit dan sebagainya,” tandasnya. (dy)

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar