Warga Obel-Obel Belum Diizinkan Pulang

0
106
BERTAHAN: Warga korban banjir bandang di Dusun Melempo, Obel-Obel masih bertahan mengungsi di salah satu musalla. (Saipul Yakin/Warta Rinjani)

SAMBALIA, Warta Rinjani—Memasuki hari ketiga pasca banjir bandang di Dusun Melempo Desa Obel-obel, Kecamatan Sambalia Lombok Timur, warga setempat belum diizinkan pulang menempati rumahnya oleh petugas.

“Hanya orang dewasa saja yang diizinkan pulang ke rumah. Kalau anak-anak belum dibolehkan,” ungkap salah seorang warga Dusun Melempo, Insaniah, kepada Warta Rinjani, Selasa (25/2).

Belum dibolehkannya pulang semua anggota keluarga ke rumah masing-masing, jelasnya, lantaran petugas khawatir jika sewaktu-waktu ada banjir susulan. Petugas tidak ingin ada warga terancam bahaya.

Karena itu, orang dewasa yang menengok rumahnya pun diberikan batasan. Mereka hanya diberikan menengok rumah dari pagi hingga sore hari. Sementara malam hari, mereka harus kembali ke pengungsian.

Diberlakukannya larangan mendiami rumah dalam beberapa hari terakhir, terangnya, karena tidak sedikit warga yang ingin menengok kondisi rumahnya. Agar terkendali, warga diingatkan harus kembali dari rumah mereka menuju pengungsian.

Baca Juga  Pemkab Loteng Fasilitasi Dekranasda dan LASQI

Pantauan Warta Rinjani, di lokasi masih terlihat para petugas menjalankan tugasnya. Tidak sedikit personil gabungan dari TNI, Polri dan petugas lainnya terlihat tengah membersihkan rumah-rumah warga.

Dari proses pembersihan itu, perabot rumah tangga milik warga tidak sedikit yang hanyut. Selain itu, ada pula yang tertimbun lumpur.

“Perabotan kami rata-rata rusak seperti kulkas, televisi, peralatan dapur dan lain sebagainya,” ucapnya. 

Terspisah, Pjs Kepala Desa Obel-obel, Abdul Rakhman mengatakan, ia belum berani memberikan imbauan kepada warga untuk pulang ke rumah masing-masing. Ini karena cuaca yang masih tidak menentu.

Meski begitu, ada saja warga yang sudah menempati rumahnya. Mereka ini dinilai tidak sadar akan potensi bahaya yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

“Sebenarnya belum berani kita kasih izin menempati rumah. Tapi ada saja warga yang ngeyel, tapi lebih banyak yang masih bertahan di pengungsian,” katanya. 

Baca Juga  Bahu Jalan Wisata Pantai Labuhan Haji Ambrol

Ia mengatakan, ia bersama pihak pemangku kebijakan lainnya menetapkan tiga hari sebagai hari tanggap darurat. Untuk itu ia masih meminta dapur umum dari Dinas Sosial tetap bertahan. 

“Kemarin mobil dapur umum dinas sempat ingin pulang, tapi saya tahan,” katanya. 

Hasil koordinasi sementara, lanjutnya, untuk menghindari datangnya banjir, ia meminta kepada BPBD kabupaten dan provinsi melakukan normalisasi sungai. Tujuannya agar bisa menampung debit air yang lebih besar. 

Ia mengaku, belum menyerahkan data valid tentang kerugian yang ditimbulkan akibat banjir tersebut. Pemdes bersama tim lainnya, baru mulai mendata hari ini.

Dalam pendataan yang dilakukan ditemukan ada 3 buah rumah yang jebol, perpipaan juga rusak. Selain itu, sawah dan tanaman milik warga rusak, perabotan dan ada juga jalan perbatasan yang jebol.

“Tapi berapa kerugian belum kita ketahui, hari ini camat bersama BPBD akan menghitung semua kerugian tersebut. Secepatnya, kita akan selesaikan. Kita bersyukur warga terkena dampak masih sehat semua,” tandasnya. (pol)

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar