Warga Resah, Wacana Kenaikan Harga Gas Lemon

0
183

SELONG, Warta Rinjani—Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI rencananya akan mencabut subsidi gas elpiji 3 kilogram. Kebijakan ini direncanakan akan mulai efektif berlaku pada semester II 2020 mendatang.

Imbas wacana pencabutan subsidi ini mulai dirasakan masyarakat di tingkat bawah. Tidak sedikit sejumlah pedagang terutama di tingkat pengecer dan kios-kios tradsional lainnya menaikkan harga secara sepihak. 

Nuraini, warga Desa Sikur, Kecamatan Sikur, Lombok Timur misalnya. Ia mengeluhkan tingginya harga gas elpiji 3 kilogram. Biasanya, elpiji 3 kilogram dijual Rp 18 ribu, belakang sudah mencapai harga Rp 24 ribu.

“Malah di beberapa tempat harganya Rp 26 ribu. Kenaikan harga ini sangat kita sayangkan, padahal pemberlakuannya mulai pertengahan tahun besok,” keluhnya, Minggu (26/1).

Perempuan yang biasa dipanggil Inaq Ain ini berharap agar pemerintah membatalkan kebijakan tersebut. Alih-alih diubah skema subsidi dalam bentuk pemberian uang tunai.

Bagi Inaq Ain, skema subsidi yang diterapkan pemerintah saat ini sudah tepat. Jika subsidi dikonversi dalam bentuk uang kepada warga miskin, bukan tidak mungkin akan salah sasaran.

Rencana pencabutan subsidi ini membuat dirinya bingung. Ini karena saat warga masih menggunakan bahan bakar minya berupa minyak tanah dan kayu justru diminta dialihkaan ke gal elpiji 3 kilogram.

Baca Juga  Pemprov NTB Siap Sukseskan Migrasi TV Analog ke TV Digital

“Dulu pemerintah yang suruh kami pakai gas elpiji supaya murah dan hemat energi. Laa, sekarang malah dinaikkan harganya,” protesnya.

Sebagai perempuan yang bergerak dalam usaha industri rumahan, Inaq Ain mengaku, kebijakan ini bisa berdampak pada usaha yang digelutinya. Kebijakan ini pada gilirannya disebut akan mematikan usaha kecil menengah.

Ibu tiga orang anak ini sehari-hari menjadi penjual gorengan. Ia meminta suaranya ini disampaikan kepada pemerintah daerah dan disuarakan kepada pemerintah pusat.

Laporan berbeda yang justru didapatkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lombok Timur. Harga gas elpiji di pasaran disebutnya masih normal.

“Harga di bawah masih stabil. Di tingkat pengecer masih menjual Rp 18-19 ribu,” ucap Kepala Disperindag Lotim, Hj Masnan.

Kenaikan harga gas elpiji 3 kilogram di beberapa tempat terutama di pasaran tradisional dan kios-kios warga diakuinya belum diketahui. Walau demikian, Disperindag Lotim bersama instansi teknis lainnya termasuk di dalamnya Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Lotim berencana akan melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak).

Baca Juga  Polres Lotim Amankan Puluhan Preman

Aksi sidak disebutnya akan dilaksanakan di daerah-daerah yang dinilai rawan menjual harg gas elpiji 3 kilogram di atas harga normal.

“Gaungnya di masyarakat naik, tapi masyarakat rupanya memanfaatkan isu tersebut. Secara pribadi saya sudah melakukan survei di tempat-tempat lain, harganya masih normal,” tegasnya.

Selain inspeksi, pihaknya juga akan melakukan operasi pasar. Ia mengaku telah berkoordinasi dengan agen-agen gas elpiji di Lombok Timur untuk mendatangkan elpiji 3 kilogram jika di beberapa tempat menjual dengan harga tinggi.

Saat sidak nanti, bebernya, pihaknya akan melibatkan Satpol PP, Bapenda, Dinas Ketahanan Pangan dan Kadin. Pihak-pihak yang terlibat ini disebutnya untuk memonitor harga-harga di pasaran.

Kata dia, biasanya pedagang memanfaatkan isu kenaikan harga dengan menaikkan harga. Tak jarang isu seperti ini juga diarahkan untuk memonopoli harga dan barang.

“Apabila kita menemukan hal demikian itu, akan kita panggil yang bersangkutan untuk ikut stabilkan harga dan tidak lagi membuat resah warga,” tegasnya.

Hj Masnan juga berharap banyak agar masyarakat tidak mendengar isu-isu yang tidak jelas informasinya. Terkecuali telah diumumkan secara remsi oleh pemerintah karena sampai saat ini tidak ada pencabutan subsidi. (dy)

Terimakasih, Silahkan diskusi di kolom komentar